Kesalahan

Posted: 24 - Maret - 2008 in Muslimah, Nasehat

 bismalh.gif

KESALAHAN

Oleh: Abu ‘Umar Salim Al-Ajmi Hafizahullah Ta’ala

 

Bukanlah sebuah ungkapan yang baru dan juga bukan suatu hal yang baru jikalau kita mengatakan: Sesungguhnya hubungan yang tidak diizinkan oleh syari’at, walaupun pelakunya sudah berhati-hati dan berusahan agar hubungannya suci -sebagaimana mereka sangka- kebanyakannya selalu ada korban dari salah satu pelakunya. Pertanyaan yang harus diutarakan adalah: Kejadian apa yang mungkin akan timbul dan siapa yang akan menanggung setelah terjadinya kesalahan?

Seorang pemuda bercerita: “Aku besar seakan tumbuhan syaithon dalam keluarga yang sholeh. Keseharianku habis untuk bergadang, mengejar-ngejar gadis, melalaikan sekolah dan tidak menunaikan sholat. Padahal ayahku  selalu marah kepadaku, akan tetapi aku tidak pernah peduli akan ayahku marah atau senang. Dan aku – yang hidup hura-hura lagi bergelimang dalam dosa-  berkenalan dengan seorang gadis dan terjalinlah tali cinta antara kami. Setelah berlangsung setahun dari percintaan kami, masing-masing dari kami semakin tergila-gila dengan pasangannya. Sampai pada suatu saat kami berjumpa berdua –dan yang ketiganya adalah syaithon- kami tidak menyadari apa yang kami lakukan, kecuali setelah terlanjur.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan?! Melarikan diri dan meninggalkan dia menghadapi nasibnya? Atau aku menikahinya? Dan bagaimana aku harus bersikap dihadapan keluarga dan teman-teman?”

Perhatikan kejadian ini dan ungkapan-ungkapannya yang terakhir, Anda akan mendapatkan inti sari permasalahan. Setelah lelaki bejad ini melakukan perbuatannya, hal pertama yang dia pikirkan adalah melarikan diri. Dan ketika berfikir untuk menikahinya dia ragu-ragu, dikarenakan dia takut ketika berhadapan dengan keluarga dan teman-temannya!!

Kalau begitu siapa yang menjadi korban dan paling dirugikan akibat perbuatan yang sangat nista ini? Tidak ragu lagi pastilah gadis tersebut.

Anda dapat membayangkan keadaannya dan kenistaan yang sedang menimpanya.

Lantas bagaimana kalau dia hamil, apa yang akan dia lakukan?!

Apakah dia akan berusaha untuk membunuh janin yang ada di perutnya ataukah dia akan membiarkannya hidup dan tumbuh di dalam perutnya sedangkan dia menyimpan rasa benci kepadanya karena dia (bayi,pent) hasil hubungan yang tidak syar’i? Dan kalau telah dilahirkan, akan lahir bersamanya perasaan berdosa setiap kali dia memandangnya, dan anak inipun merasa benci kepada ibunya setiap dia ingat akan perbuatan ibunya yang nista, yang menjadi penyebab dilahirkannya dia kedunia ini.

Tidak diragukan lagi, seorang wanita –yang menjaga kehormatan dirinya- ketika melahirkan seorang anak dari pernikahan yang resmi (syar’i), dia akan merawat dan mendekapnya ke dalam dadanya, dengan rasa bangga dan besar hati kalau ayah dari anaknya adalah fulan, pamannya adalah fulan dan dia (sang ibu) tegar mengangkat kepalanya.

Akan tetapi wanita ini, yang melakukan perbuatan nista, apakah sanggup untuk menggendong anaknya dan berbangga dengannya ditengah-tengah para wanita –ketika mereka saling bercerita tentang anak mereka- padahal anaknya adalah anak yang tidak syar’i?

Dan mampukah dia untuk menyebut-nyebut prilaku dan sifat baik dirinya?

Tentu saja tidak akan mampu, karena setiap kali dia akan menyebutkan hal itu dia hanya dapat menelan kata-kata dan mengingat perbuatannya yang kotor dan mungkin dia tersendu oleh kata-kata lalu keluar dari mejelis.

Bahkan mungkin dia akan berusaha untuk melakukan hal yang lebih jahat dari itu, yaitu ketika dia melahirkan, dia akan mencampakkan anaknya di depan sebuah masjid atau tempat tertentu agar ditemukan oleh orang yang sedang melintas, kemudian diserahkan ke panti asuhan. Sehingga anaknya hidup dan dibesarkan di sana dan tidak akan pernah mengenal ayah dan ibunya, dia akan selalu memendam rasa dendam serta kebencian kepada masyarakatnya serta semua orang yang ada disekitarnya…

Dia hidup, dan di dalam hatinya bergejolak kebingungan dan kesedihan akibat ulah ibunya yang menyeleweng di saat lalai dan berhura-hura bersama lelaki bejad itu, yang hasilnya adalah seorang anak kecil yang sangat kasihan, setiap hari hatinya hancur beribu-ribu kali. Dia selalu berangan-angan untuk dapat seperti layaknya anak kecil, ingin mengerti hakikat kata-kata (ayah…. Ibu) yang tidak akan pernah bisa mengetahuinya. Dia mencari kelembutan seorang ibu dan kasih sayang seorang ayah, akan tetapi tidak pernah mendapatkannya.

Wanita ini tidak cukup melakukan perbuatannya yang keji ini, bahkan menambahnya dengan dosa besar lainnya yang sangat jahat, yaitu ketika dia mencampakkan anaknya, karena dia menyangka bahwa ia akan terbebas dari akibat perbuatannya.

Di sana masih ada sisi lain dari wanita ini…

Seandainya dia tidak mengandung di dalam perutnya anak tersebut, apakah hal ini  berarti dia selamat, seakan-akan tidak terjadi sesuatu? Tidak…, karena kebanyakan wnita yang terjerumus ke dalam perzinaan selalu takut, kalau-kalau perbuatannya ketahuan orang. Sehingga dia dianggap bukan perawan lagi, sehingga dia dia menolak setiap orang yang datang hendak menikahinya, karena dia takut apabila ketahuan. Sehingga hal ini akan menimbulkan rasa heran dan tanda Tanya dari keluarganya. Batinya hancur dari dalam, karena dia melihat semua gadis yang sebaya dengannya dan yang lebih mudah darinya telah menikah, sedangkan dia tidak kalah dengan gadis-gadis lainnya dalam kecantikan. Akan tetapi inilah pengaruh dari perbuatan keji yang dia lakukan dan akibat dari hubungan haram (dusta)  yang dipoles dengan pakaian (cinta) dengan penuh kebohongan yang akhirnya adalah jatuhnya korban seperti ini.

 Kehinaan berjalan ditengah-tengan mereka

Bak seorang bangsawan, sedang mereka pembantu

Ini semua akibat perbuatan zina yang pelakunya tidak menyadari akan akibatnya kecuali setelah terkotori oleh Lumpur perbuatannya. Ketika dia telah terjerumus, dia baru sadar bertapa jauh kejahatan yang dia lakukan yang mendatangkan bencana bagi dirinya dan orang lain, penyesalan tinggallah penyesalan.

Semua ini adalah akibat dari perbuatan zina yang benar-benar merupakan kejahatan yang paling besar. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikannya sebagai salah satu penyebab kehancuran. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا ظهر الزنا والربا في قرية فقد أحلوا بأنفسهم عذاب الله ….

“Apabila perzinaan dan riba telah menyebar di sebuah negeri, maka mereka telah mendatangkan azab Allah atas diri mereka sendiri…” (HR. Al-Hakim dan diSHAHIHkan oleh Al-Albani dalam SHAHIH JAMI’US SHOGHIR no. 679).

Maha suci Allah yang berfirman:

{وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً} (32) سورة الإسراء

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isro: 32).

 

Sumber: ضحية معاكسة

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s