Hukum Darah Yg Mengalir Terus Menerus Setelah Keguguran

Posted: 20 - Maret - 2008 in Fatwa, Fiqih, Muslimah, Ulama & Penuntut Ilmu

 bismalh.gif

HUKUM DARAH YANG MENGALIR TERUS MENERUS

SETELAH KEGUGURAN

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Soal: Saya mempunyai seorang istri yang sedang hamil, pada bulan kedua masa kehamilannya ia mengalami keguguran karena banyaknya darah yang dikeluarkan, dan darah itu tetap mengalir hingga saat ini. Apakah diwajibkan baginya untuk melakukan sholat dan puasa? Atau apa yang harus ia lakukan?

Jawab: Jika wanita hamil mengalami keguguran kandungan pada bulan ke dua pada masa kehamilannya, maka sesungguhnya darah yang dikeluarkan ini adalah darah penyakit, bukan darah haidh dan bukan juga darah nifas, maka dari itu diwajibkan bagi wanita untuk berpuasa dan puasanya sah, wajib baginya melaksanakan sholat dan sholatnya adalah sah, boleh bagi suaminya untuk menggaulinya dan tidak ada dosa baginya, karena para ulama mengatakan bahwa syarat diberlakukannya hukum nifas, yaitu jika janin yang dilahirkan sudah berbentuk manusia dengan telah terbentuknya organ-organ tubuh dan telah memiliki bentuk kepala, kaki dan tangan. Jika seorang wanita mengeluarkan janin sebelum memiliki bentuk manusia, maka darah yang dikeluarkan oleh wanita yang melahirkan janin ini bukan darah nifas.

Keterangan ini menimbulkan pertanyaan: Kapan janin ini berbentuk manusia?

Jawabnya adalah: Janin itu telah memiliki bentuk jika telah berumur delapan puluh hari  atau dua bulan dua puluh hari, bukan empat bulan sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang terkenal. Ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):”Sesungguhnya seseorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaan-Nya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqoh selama itu juga, dan dalam bentuk mudhghoh selama itu juga (maka inilah masa empat bulan) kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya….”.1)

Tentang mudhghoh diterangkan Allah Azza wa Jalla dalam kitab-Nya, bahwa mudhghoh adalah segumpal darah yang belum sempurna bentuknya. Jadi janin itu tidak mungkin memiliki bentuk sebelum berumur delapan puluh hari, dan setelah delapan puluh hari bisa jadi berbentuk dan bisa jadi tidak berbentuk. Para ulama berpendapat bahwa umumnya janin itu telah terbentuk menjadi manusia jika janin bayi telah berusia sembilan puluh hari, maka janin yang ada dalam perut wanita yang baru dua bulan ini belum memiliki bentuk manusia karena baru berusia enam puluh hari. Dengan demikian darah yang keluar darinya adalah darah penyakit yang tidak menghalanginya untuk berpuasa, sholat, serta ibadah-ibadah lainnya.

 

Catatan Kaki:

1) HR. Bukhori; Muslim (Pent).

 
Sumber: Durus Wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, 3/266.

http://muslimah-salafiyah.blogspot.com/2008/03/hukum-darah-yang-mengalir-terus-menerus.html

 

Iklan
Komentar
  1. abul harits berkata:

    bismillah,
    mungkin ana salah satu orang yg selama ini memahami hadits ibn mas’ud tsb di atas sbb: Allah menciptakan janin dlm bentuk nuthfah (selama 40 hari), ‘alaqoh (selama 40 hari), mudhghoh (selama 40 hari juga), sehingga sampai (yakni 120 hari) Allah mengutus malaikat meniupkan ruh, menuliskan 4 kalimat: rizkinya, ajalnya, amalnya,….., merupakan batas diberlakukannya hkm syariat thd janin (spt: zakat, hkm jenazah jika tjd keguguran, dsb). Kmdn yg mjd pertanyaan ana:
    1. bgmn dgn pendapat ulama bahwa “Janin itu telah memiliki bentuk jika telah berumur delapan puluh hari atau dua bulan dua puluh hari” dan juga “bahwa syarat diberlakukannya hukum nifas, yaitu jika janin yang dilahirkan sudah berbentuk manusia dengan telah terbentuknya organ-organ tubuh dan telah memiliki bentuk kepala, kaki dan tangan”?
    2. bgmn pengurusan janin jika terjadi keguguran pada periode ini (yakni stl 80 hari kehamilan)?
    3. bgmn dgn wanita yg setelah tjd keguguran pendarahannya terhenti setelah 14 hari dan keluar lagi pada hari ke-30, apakah pada saat terhenti pendarahannya berlaku hkm bagi wanita yg suci spt: sholat, puasa dan jima’?
    Mohon pencerahannya……
    Baarakallahu fiika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s