Hukum Bergabung Dgn Firqoh-Girqoh Untuk Memperbaiki Dari Dalam

Posted: 7 - Maret - 2008 in Aqidah/Manhaj, Bantahan, Fatwa, Nasehat

bismalh.gif

HUKUM BERGABUNG DENGAN FIRQOH-FIRQOH

UNTUK MEMPERBAIKI DARI DALAM

Oleh:

Asy-Syaikh Abu Yasir Kholid Ar-Radadiy Hafizahullah

 

Pengantar:

Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, keluarganya, para sahabatnya, serta ummatnya hingga akhir zaman.

Amma Ba’du:

Berikut adalah nukilan Tanya jawab Al-Ustadz Wildan dengan Asy-Syaikh Abu Yasir Kholid Ar-Radadiy tentang beberapa permasalahan. Kami nukilkan disini bagian dari fatwa Syaikh Kholid Ar-Radadiy tentang HUKUM BERGABUNG DENGAN FIRQOH-FIRQOH DENGAN ALASAN UNTUK MEMPERBAIKI DARI DALAM.

Telah berkata kepada kami dan kepada Abu Zaid Anang*) Abu Muhammad Amin Abdul Ma’bud Al-Indonisiy**) sbb:”Jika kalian hendak memperbaiki Jama’ah ini –yakni Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh-, maka kalian masuklah kedalam jama’ah ini”.

Perkataan beliau ini (Abu Muhammad Amin) ulangi sebanyak dua kali baik kepada kami maupun kepada Abu Zaid Anang. Dalam pandangan kami, jelas perkataan ini tidaklah benar tetapi dalam pandangan Abu Zaid Anang beliau menganggapnya sebagai angin lalu saja. Maka, untuk menimbang kebenaran perkataan da’I Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah ini berikut kami nukilkan Fatwa As-Syaikh Kholid Ar-Radadiy. Semoga dengan adanya fatwa ini akan menjadi jelaslah permasalahannya,اللهم آمين.

0 0 0 0 0

Tanya (Ustadz Wildan) :

Apa bantahan Anda terhadap perkataan sebagian da’i tentang bolehnya bergaul dengan firqah-firqah atau jama’ah-jama’ah yang ada dengan alasan untuk memperbaiki dari dalam ?

Jawab (Syaikh Kholid) :

Yang pertama, perbaikan dari dalam bukan berarti bahwa engkau tetap bersamanya. Bentuk pengingkaran paling kecil adalah tindakanmu memisahkan diri darinya. Pengingkaran terkecil itu adalah tindakanmu memisahkan diri darinya, tidak bergaul dengannya. Adapun apabila engkau tetap bersama mereka, bergaul dengan mereka, mendiamkan kemungkaran-kemungkaran mereka, maka tidak akan terjadi perbaikan pada diri mereka dan tidak pula pada dirimu.

Jadi, perkataan seperti itu adalah perkataan yang tidak benar. Khususnya jika disana ada saudara-saudara salafiyyun, hendaknya saudara-saudara kita yang salafiyun tersebut menyeru, menda’wahi mereka dan menasehati mereka dari/dalam keadaan jauh dari mereka. Apabila mereka menerima nasehat tersebut, dan juga apabila diantara mereka ada yang menerima kebenaran, Alhamdulillah …(ada perkataan yg tidak jelas)… bahwa bentuk pengingkaran yang paling kecil adalah memisahkan diri dari mereka. Tidak bersama mereka dan tidak bermajlis dengan mereka sebab tidak akan tercapai bentuk pengingkaran apabila seseorang itu tetap bersama mereka, mereka/kaum muslimin tidak memahami ketika seseorang tetap bersama suatu kelompok yang mempunyai penyimpangan, bahwa orang tersebut mengingkari manhajnya.

Ketika meninggal Abu Rawwaad, manusia pada waktu itu melihat Sufyan ats-Tsaury, mereka mengatakan “Sufyan (Sufyan ats-Tsaury) akan menyolatkan orang tersebut”.

Kemudian ketika Sufyan tidak menyolatkan orang tersebut ditanyakan kepada beliau: “mengapa kamu tidak menyolatkannya”. beliau menjawab, “agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi'”.

Jadi, agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’, terutama apabila orang yang tidak menyolatkan tersebut adalah seorang yang mempunyai kedudukan dan derajad yang tinggi di tengah-tengah masyarakat.


Catatan Kaki:

*) Salah seorang perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait yang mana pada awalnya beliau aktif di Jama’ah Tabligh kemudian beliau mengikuti ta’lim dengan da’I dari Jum’iyyah Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah sampai sekarang.

**) Seorang pegawai Jum’iyyah Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah Lajnah Junub Syarq Asia, lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir. Beliau juga bekerja di Kementrian Auqof (DEPAG) Kuwait.

 

Sumber: Tanya Jawab Ustadz Wildan dengan Asy-Syaikh Kholid Ar-Radadiy pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423 H/19 Februari 2003 M

Iklan
Komentar
  1. Assalamu’alaikum,
    Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari Jawaban Syeikh tersebut

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

    اللهم آمين

  2. Abu Faghiza berkata:

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

    Akhi, bagaimana kalau di lingkungan terdekat ana tidak ada jama’ah salaffiyun, kami ke mesjid hanya melakukan sholat sedang untuk tholabul ilmu kami membaca dari buku-buku atau mendengarkan MP3 dari salaffiyun (terpercaya).

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

    Kami pernah mendengarkan satu fatwa syaikh (-Allah menjadikan kami lupa namanya-) bahwa sebaiknya para penuntut ilmu lebih baik hadir di majelis daripada mendengarkan kajian lewat kaset dll. Karena dengan hadir di majelis maka akan dia ketahui akhlak dan prilaku syaikhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s