Hukum Memakai Susuk

Posted: 6 - Maret - 2008 in Aqidah/Manhaj, Fatwa, Nasehat

bismalh.gif

HUKUM MEMAKAI SUSUK

 

Tanya : Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Akhi, ana mau nanya.. mudah-mudahan dijawab langsung oleh ustadz
karena ini sangat penting bagi ana atau mungkin ada orang lain yang
senasib

Tahun 1997 ana merantau ke jakarta, disana ana terjebak syirik yakni
dengan memasang susuk pada tubuh. setelah itu pada saat tidur ana
sering merasa diganggu oleh makhluk halus (mimpi buruk dan
menyeramkan), malas beribadah dsb..

yang ana tanyakan:

1. Mungkinkah dosa ana diampuni, bagaimana cara ana bertobat?

2. Bila ana meninggal dunia sementara susuk yang ana pasang masih ada (berpengaruh), apakah kematian ana kafir?

3. Bolehkan ana minta tolong orang untuk ruqyah, atau mungkinkah susuk itu bisa hilang sendiri?

4. Sudah beberapa bulan ini ana mengikuti kajian salaf/salafy, apakah
ana terkategori sebagai orang munafik bila saat ini kadang kadang masih
menggunakan pakaian isbal terutama bila di masyarakat umum. Soalnya ana
takut di kira orang alim bila berpakaian diatas mata kaki sementara ana
masih sangat awam. Ana sangat membutuhkan jawabannya. ana ingin
meninggal dunia sebagai muslim. Jazakummullah Khairon wa barrokallahu
fiik

Jawab : Wa’alaykumussalam warohmatullah wabarokatuh

1. InsyaAllah dosa antum akan diampuni, jika antum jujur dalam
bertaubat, meninggalkan dosa, dan tidak mengulanginya. JIka antum
mengulangi dosa syirik itu, dan antum meninggal diatasnya maka dosa
antum tidak akan diampuni dan kelak akan dimasukkan dalam neraka. Allah
Ta’aala berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia
telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 48)

2. Adapun masalah susuk, maka antum berusaha menghilangkannya dengan
cara meruqyah diri sendiri dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, dan
dzikir-dzikir pagi dan sore yang ada dalam hadits yang shahih. Jika
susuk itu tidak bisa hilang, sedangkan antum sudah bertaubat dan
menyesali perbuatan tersebut, lalu antum meninggal, maka antum
insyaAllah akan meninggal diatas tauhid.

3. Tidak usah meminta ruqyah kepada orang lain, dan cukup meruqyah
diri sendiri dan dengan izin Allah dan usaha dari antum niscaya susuk
itu akan hilang.

4. Pakailah pakaian yang sunnah yaitu pakaian yang tidak melewati
mata kaki, sekalipun orang-orang sekitar kita menganggap kita aneh,
karena itulah sunnatullah bagi para penegak sunnah; mereka akan
dicemooh, dianggap asing, dijauhi. Namun bersabarlah diatas sunnah,
niscaya Anda termasuk dalam sabda Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam :

“Islam ini awal kali munculnya dalam keadaan asing, dan akan kembali
asing sebagaimana awal munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang
asing.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang
sholeh (baik) ketika manusia rusak. Maksudnya, mereka (orang-orang
asing karena melaksanakan sunnah) tetap dalam keadaan baik aqidahnya,
ibadahnya, dan akhlaknya bagus di tengah manusia yang rusak akidahnya,
ibadahnya, dan akhlaknya.

Jadi seseorang yang menapaki manhaj salaf di akhir zaman ini, harus
bersabar ditengah manusia-manusia rusak yang menganggap para penegak
sunnah sebagai orang yang asing, dan musuhnya. Inilah yang dikabarkan
oleh Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam :

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari di mana orang yang
sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan
sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari
kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya:
“Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?”
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan lima puluh
kali pahala dari kalian”.(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu
Hibban dan Hakim. Dan dishahihkan oleh Imam Hakim dan disepakati oleh
Dzahabi; lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hal.
49)

Dibawah naungan cahaya hadits ini, kita mendapatkan petunjuk dan
bimbingan bahwa orang-orang asing yang melaksanakan sunnah akan
menghadapi kondisi yang susah antara mengikuti sunnah ataukah
meninggalkan sunnah. Disinilah seorang membutuhkan kesabaran agar dia
tetap berada dalam sunnah. InsyaAllahu Ta’aala, kesabaran inilah yang
akan mengumpulkan kita bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam di
akhirat kelak. Allahumma Amin.

 
Dijawab oleh Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah

 

Iklan

Komentar ditutup.