Aku Korban Keacuhan Suamiku

Posted: 23 - Februari - 2008 in Muslimah, Nasehat

bismalh.gif

AKU KORBAN KEACUHAN SUAMIKU

Oleh:

Abu ‘Umar Salim Al-Ajmi Hafizahullah

 

Seorang wanita berdiri kesakitan karena terluka. Pedihnya luka membakar hatinya dari dalam, sehingga terlontarlah keluhan-keluhan pilu. Dia berdiri mengisahkan pengalaman pahit hidupnya sehingga dia menjadi korban tanpa pernah merasa berdosa atau bersalah, kecuali hanya karena menikah dengan seorang laki-laki yang tidak pernah menghentikannya, yang mengakibatkannya terjebur ke dalam jurang.

Nah sekarang dia mengingat ulang rekaman kenangannya dan menggambarkan penderitaannya -dengan perasaan yang semakin pilu-, semoga kisahnya menjadi pelajaran. Dia memulai ceritanya dengan mengatakan:

“Banyak sekali kejadian yang terjadi dalam hidupku, semenjak aku menikah, suamiku melalaikanku dikarenakan selalu bepergian dan bergadang malam. Ketika aku bersedih, ibuku selalu mengatakan kepadaku: Seandainya engkau sudah melahirkan seorang anak, maka dia tidak demikian keadaannya. Dan karena aku belum  melahirkan seorang anakpun, maka aku selalu merasa bahwa segala yang terjadi disekitarku disebabkan karena kemandulanku.

Kata-kata yang sangat menusuk yang diutarakan oleh keluarga suamiku tidaklah akan keluar seandainya aku tidak mandul. Kehidupan suamiku yang selalu meremehkanku dan keluar rumah, semuanya ini karena aku tidak bisa melahirkan.

Akhirnya setiap kali aku menghadapi permasalahan, aku selalu menyalahkan diriku sendiri, sehingga akupun pasrah kepada kenyataan yang aku alami (tekanan yang dilakukan oleh keluarga suamiku dari satu sisi dan di sisi lain sikap suamiku yang meremehkanku).

Lama-lama rumah yang aku tinggali berubah menjadi kobaran api, setiap hari aku bertengkar dengan keluarga suamiku yang berusaha untuk menghinakanku dengan segala macam cara dan dengan berbagai bentuk agar aku mau meninggalkan rumah. Setiap malam aku mendekam di dalam kamarku dan menangisi nasib dan keadaan yang aku alami, sampai akhirnya, terjadilah suatu kejadian yang menyebabkan aku berfikir dengan serius untuk bercerai.

Ketika aku merapihkan lemari yang ada di dalam kamarku, aku mendapatkan beberapa photo suamiku bersama beberapa gadis, ketika itulah aku terhentak kaget.

Walaupun aku telah mengetahui kehidupan suamiku yang penuh dengan hura-hura dan selalu meremehkanku, akan tetapi aku tidak menyangka kalau dia sampai sejauh ini. Akan tetapi photo-photo yang aku temukan membuktikan akan semua kebohongannya.

Waktu itu aku langsung berontak, dan aku mengadu kepada ibuku dan mengutarakan keinginanku untuk bercerai. Akan tetapi, ibu malah berkata:’Lantas siapa yang mau menikahimu?’, sudah cukup bagimu mendapatkan seorang lelaki yang rela denganmu, walaupun engkau tidak bisa memiliki keturunan?’.

Maka akupun kembali kerumahku dan aku tidak ingin langsung membuka permasalahan, karena ibuku telah menyakinkanku bahwa cara seperti ini akan menambah permasalahan semakin banyak antara kami. Akupun menuruti kata-kata ibuku, dan aku lebih memilih untuk diam. Dan akhirnya aku mendapatkan jalan keluar dari segala permasalahan yang ada di sekitarku, yaitu melahirkan. Akibatnya aku mondar mandir ketempat praktek para dokter, dengan harapan aku bisa hamil, sehingga semua permasalahanku dapat terselesaikan…

Dan atas izin Allah, setelah beberapa waktu lamanya aku hamil. Akupun sangat bergembira dengan berita ini, dan bersemangat untuk mengabarkannya kepada suamiku. Karena menunggu kedatangannya, akupun semalam suntuk tidak tidur. Akhirnya ketika hari sudah mulai pagi, akan tetapi dia datang dalam keadaan yang sangat mengherankan, pandangannya kosong, fikirannya melayang. Aku sangat ketakutan dengan keadaannya. Aku berusaha untuk mulai menyinggung tentang kehamilanku, akan tetapi dia larut dalam kesedihannya yang dalam. Aku berusaha mendakat dan bertanya tentang permasalahan yang dia hadapi, akan tetapi dia malah meloncat dan menjauh dariku seakan digigit ular.

Dia menjawab sambil berteriak, tidak masalah apapun…tidak masalah apapun…

Aku terperanjat melihat keadaannya…, dia mengamasi barang-barangnya ke dalam tas sembari berkata:…aku akan pergi…

Sekarang?! Aku bertanya dengan penuh keheranan, akan tetapi dia tidak mau menjawab…

Lalu aku berkata: Kapan engkau kembali? Dia menjawab: aku tidak tahu… aku tidak tahu…

Keadaannya membuat aku keheranan, dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk memulai pembicaraan tentang kehamilanku? Aku sangat bahagia dan hendak memberitahukannya tentang berita itu, akan tetapi dia malah menangis sambil mengulang-ulang kata-kata:…sudah tidak bermanfaat…

Aku berusaha mendekat dan bertanya, akan tetapi dia malah menjauh sambil berteriak: Aku sakit…aku terkena AIDS…lalu dia cepat-cepat keluar dan membawa tasnya.

Pada saat itu aku merasakan kebencian kepadanya yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.

Timbul pertanyaan yang bergejolak di benakku…lalu aku bagaimana?, siapa tahu, apakah aku juga selamat dari penyakit dan anakku selamat…kehidupan macam apa yang menantiku, sedangkan kehidupan ayahnya dianggap sirna oleh penyakit terkutuk itu…?”. Selesai.

Benar, dia adalah korban dari suaminya yang acuh terhadapnya,…dan dia juga menjadi korban dari penyakit kotor ini, penyakit yang telah menyebar luas dikarenakan perzinahan dan perbuatan serong, serta hawa syahwat yang diumbar. Oleh karena itu penyakit ini merupakan hukuman dari Allah Rabb alam semesta terhadap mereka yang menyeleweng.

Sungguh benar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau bersabda:

لمََ ْتَظْهَرْ الفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمِ قَطْ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا  فَشَافِيْهِمْ الطَاعُوْنُ وَ الأَوْجَاعُ أَلَّتِيْ لمَ ْتَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ (رواه ابن ماجة).

“Tidaklah perbuatan zina menyebar di suatu kaum sampai-sampai mereka mengumumkannya, kecuali akan menyebar di tengah-tengah mereka penyakit Tho’un (=pes) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah ada di zaman sebelum mereka” (HR. Ibn Majah. Lihat Shahih Jam’ush Shoghir no. 7978).

Dari masa ke masa kita menyaksikan tanda-tanda kenabian Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam semakin nyata, oleh karena itu orang yang berbahagia adalah orang yang mampu menundukkan dirinya dan mengekangnya dengan tali ketaqwaan hingga akhir hayatnya.

 
{وَاتَّقُواْ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ} (281) سورة البقرة

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” (QS. Al-Baqoroh: 281).

 
Sumber:
ضحية معاكسة

 

Iklan

Komentar ditutup.