Membungkam Suara Para Perusak Syari’at “Pembebek Da’i Sesat Yusuf Qordlowi”

Posted: 10 - November - 2007 in Bantahan, Muslimah, Nasehat

MEMBUNGKAM SUARA PARA PERUSAK SYARI’AT

PEMBEBEK DA’I SESAT YUSUF BIN ABDILLAH AL-QORDLOWI?”

(Bantahan Terhadap M. Shodiq Mustika)

Bagian Ketiga

Oleh:

Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan

 

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasulullah. Wa ba’du :

Sesungguhnya bencana yang tengah menimpa umat dewasa ini adalah menjamurnya kelompok-kelompok orang yang berani memanipulasi (memalsukan) “selendang ilmu” dengan mengubah bentuk syari’at Islam dengan istilah “tajdidi” (pembaharuan), mempermudah sarana-sarana kerusakan dengan istilah “fiqih taysiir” (fiqih penyederahanaan masalah), membuka pintu-pintu kehinaan dengan kedok “ijtihad” (upaya keras untuk mengambil konklusi hukum Islam), melecehkan sederet sunnah-sunnah Nabi dengan kedok “fiqih awlawiyyat” (fiqih prioritas), dan berloyalitas (menjalin hubungan setia) dengan orang-orang kafir dengan alasan “memperindah corak (penampilan) Islam”.

Tokoh yang menjadi pentolannya adalah seorang tukang fatwa lewat parabola, Yusuf bin Abdillah Al-Qardlowi, yang berusaha keras menyebarkan gagasan-gagasan pemikiran di atas lewat tayangan-tayangan parabola, jaringan-jaringan internet, konfrensi-konfrensi, studi-studi keislaman, ceramah-ceramah, dan lain-lain.

Lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapan pembaca ini memuat ringkasan dari beberapa ide pemikiran tokoh ini (Qardlowi) yang dengan berbagai cara berusaha melariskan ide-ide pemikiran tersebut. Sengaja penulis tampilkan gagasan-gagasan Qardhawi ini sebagai upaya memberi nasehat kepada umat Islam, dan sebagai pernyataan berlepas diri, serta memberi peringatan kepada umat Islam agar selalu waspada terhadap tokoh ini (Qardlowi) dan tokoh-tokoh lain yang seide dengannya.

Bagi orang yang ingin mengetahui secara rinci uraian tentang gagasan-gagasan pemikiran Qardhawi berikut sanggahan-sanggahannya, semuanya telah tercantum di dalam kitab “Al-I’laam binaqdi Al-Kitab Al-Halal wa Al-Haram” (“Kritik terhadap kitab ‘Halal dan Haram’ “Qardlowi) karya Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan1), juga “Ar-Raddu ‘Ala Al-Qardhawi” karya Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah2), Raf’ul Litsaam ‘An Mukhaalaafatil Qaradhawi Li Syari’atil Islaam karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al-‘Udainiy, serta kitab-kitab lainnya .

Kemudian, kami mendapati dalam artikel-artikel M.Shodiq Mustika banyak menukil pernyataan Yusuf Qordlowi ini. Sejauh pengamatan kami, kami mendapati 2 (dua) artikel yang mana beliau (baca: M.Shodiq) menukil secara keseluruhan dari buku terjemahan karya Yusuf Qordlowi –Allah Ta’ala A’lam-.

Sebagaimana kami kemukakan di atas, maka pada kesempatan ini kami hanya akan membahas tentang penyelewengan-penyelewengan Yusuf Qordlowi dengan berbagai bukti yang kami miliki. Adapun kesesatan-kesesatan Yusuf bin Abdillah Qordlowi Al-Mishriy diantaranya adalah sbb;

A. BERUSAHA MENYATUKAN ANTAR MADZHAB ISLAMIYYAH (SUNNIY DAN SYI’AH, PENT).

Pada acara “Hiwar Maftuh” yang diadakan pada tanggal 18/1/1425 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 9/3/200 Masehi Yusuf bin Abdillah Al-Qordlowi berkata:”Yakni, saya mengetahui hal ini (penyatuan antar madzhab islamiy) sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.Saya mulai mengetahuinya semenjak di kota Kairo, diantara orang-orang yang menyerukan hal ini adalah Syaikh Abdul Majid Saliim, Mahmud Saltut, Abdul ‘Aziz ‘Isa, Syaikh Muhammad Al-Madaniy serta Hasan Al-Banna bersama mereka. Dan Syaikh Taqiyuddin Al-Qummiy3) pergi ke markaz Ikhwanul Muslimin dan Syaikh Hasan Al-Banna menerima beliau. Beliau (baca:Syaikh Hasan Al-Banna) adalah mursyid pertama (Ikhwanul Muslimin, pent)…”.

Berikut bukti file audionya:

Fatwa Ulama Tentang Penyatuan Madzhab Antara Ahlus Sunnah Dan Syia’h

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya: Dari apa yang Anda ketahui tentang sejarah Rafidlo (Syi’ah), bagaimana sikap Anda terhadap orang-orang yang menyeru terhadap penyatuan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidlo (Syi’ah)?

Maka Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah menjawab sbb:

التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة غير ممكن؛ لأن العقيدة مختلفة ، فعقيدة أهل السنة والجماعة توحيد الله وإخلاص العبادة لله سبحانه وتعالى ، وأنه لا يدعى معه أحد لا ملك مقرب ولا نبي مرسل وأن الله سبحانه وتعالى هو الذي يعلم الغيب ، ومن عقيدة أهل السنة محبة الصحابة رضي الله عنهم جميعا والترضي عنهم والإيمان بأنهم أفضل خلق الله بعد الأنبياء وأن أفضلهم أبو بكر الصديق ، ثم عمر ، ثم عثمان ، ثم علي ، رضي الله عن الجميع ، والرافضة خلاف ذلك فلا يمكن الجمع بينهما ، كما أنه لا يمكن الجمع بين اليهود والنصارى والوثنيين وأهل السنة ، فكذلك لا يمكن التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة لاختلاف العقيدة التي أوضحناها

Penyatuan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidlo adalah suatu hal yang tidak mungkin, dikarenakan aqidah yang berbeda. Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadanya semata, serta mereka tidak menyembah seorangpun dalam beribadah kepada-Nya, tidak dengan (wasilah) para malaikat maupun dengan para rasul yang diutus-Nya, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jallah adalah yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Dan termasuk aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, meridloi mereka, dan mengimani bahwa mereka adalah sebaik-baiknya makhluk (manusia, pent) setelah para nabi. Orang yang paling mulia di antara mereka (para sahabat, pent) adalah: Abu Bakr Ash-Shidiq, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhilallahu anhum. Sedangkan aqidah Rafidlo (Syi’ah) menyelisihi hal ini, maka tidak mungkin menyatukan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nashoro, para penyembah kubur dan Ahlus Sunnah. Demikian juga tidak mungkin menyatukan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah dikarenakan perbedaan dalam masalah aqidah sebagaimana yang nampak jelas bagi kita.4)

Tahukah pembaca apa yang menyebabkan beliau dan orang-orang mengikuti beliau berusaha keras untuk mewujudkan hal ini?, insyaAllah Anda akan mendapatkan jawabannya pada poin berikutnya.

B. KAIDAH “EMAS” IKHWANUL MUSLIMIN DAN YUSUF QORDLOWI

Berkata Yusuf Qordlowi pada acara yang sama sbb:

وموقف الإخوان واضح من زمن طويل أنهم يحاولون تجميع الأمة الإسلامية كلها، وكانت قاعدتهم هي القاعدة الذهبية التي أقامها الشيخ رشيد رضا رحمه الله وتبناها الشيخ حسن البنا نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضا في ما اختلفنا فيه …”

“Dan sikap ikhwan (Al-Muslimin, pent) sangatlah jelas dari dahulu kala bahwasannya mereka berusaha untuk menyatukan seluruh umat islam. Dan sesungguhnya kaidah mereka ini adalah “kaidah emas” yang mana kaidah ini pertama kali diusung oleh Syaikh Rasyid Ridlo rahimahullah kemudian diikuti oleh Syaikh Hasan Al-Banna (kaidah itu adalah, pent):Kita saling bekerjasama dengan apa-apa yang telah kita sepakati dan kita saling memaafkan dengan apa-apa yang kita saling berbeda pendapat padanya’.

Berikut bukti file ucapannya:

Maka janganlah Anda heran apabila dalam tubuh Ikhwanul Muslimin akan terdapat banyak golongan, ada Nashoro, Kuburiyin, Syi’ah, Asy’ariyyah, Jama’ah Tabligh dll hal ini dikarenakan “kaidah emas” mereka di atas. Dan sebab kaidah inilah Yusuf Qordlowi mengucapkan kalimat seperti di atas.

C. YUSUF QORDLOWI MENOLAK HADITS PERPECAHAN UMAT.

Dari Halaqoh program “Syari’a Wal Hayaah” tertanggal 28/09/2003 Masehi dengan judul Halaqoh “At-Taqrib Bainal Madzahib Islamiyyah” berkata Yusuf Qordlowi:

“أولاً: أنا يعني لست ممن يُصَحِّح هذا الحديث، يعني الحديث دا هناك من العلماء من رده ومنهم الإمام ابن الوزير الذي يعني رد هذا الحديث وخصوصاً الزيادة التي تقول يعني “كلها في النار إلا واحدة”، قال احذر هذه الزيادة فإنها من دسيس الملاحدة”.

Pertama: Saya adalah termasuk orang yang tidak menshahihkan hadits ini (perpecahan umat, pent). Di sana ada beberapa ulama yang menentangnya (tentang kshahihan hadits, pent) dan di antara orang yang menentang keshahihan hadits ini adalah Al-Imam Ibn Al-Wazir terutama ia menolak penambahan pada kalimat “semuanya masuk Neraka kecuali satu”. Ia berkata:’Hati-hatilah dari penambahan ini, karena penambahan ini berasal dari tipuan orang-orang atheis’.

Berikut file bukti ucapannya

فتوى للشيخ الفقيه بن عثيمين حول هذا الحديث

السؤال: له سؤال أخير يقول وجدت في تفسير ابن كثير حديثاً يقول فيه الرسول صلى الله عليه وسلم ما معناه ستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة فهل هذا الحديث صحيح وما هي الفرق الضالة من هذه الفرقة الناجية؟

الجواب: هذا الحديث صحيح بكثرة طرقه وتلقي الأمة له بالقبول فإن العلماء قبلوه وأثبتوه حتى في بعض كتب العقائد وقد بين النبي عليه الصلاة والسلام أن الفرقة الناجية هي الجماعة الذين اجتمعوا على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه من عقيدة وقول وعمل فمن التزم ما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم من العقائد الصحيحة السليمة والأقوال والأفعال المشروعة فإن ذلك هو الفرقة الناجية ولا يختص ذلك بزمن ولا بمكان بل كل من التزم هدي الرسول عليه الصلاة والسلام ظاهراً وباطناً فهو من هذه الجماعة الناجية وهي ناجية في الدنيا من البدع والمخالفات وناجية في الآخرة من النار.

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin Tentang Hadits Perpecahan Umat.

Soal: Saya mendapati dalam kitab Tafsir Ibn Katsir beberapa hadits, ia menyebutkan bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya “akan terpecah belah umat ini (Islam) menjadi 73 golongan semuanya akan masuk Neraka kecuali satu” apakah hadits ini shahih, dan siapakah golongan yang sesat dari golongan yang selamat ini?

Jawab: Hadits ini shahih dengan berbagai jalan (sanad) dan umat menerima hadits ini. Sesungguhnya para ulama menerima dan menetapkan (keshahihan hadits ini, pent) sampai-sampai dalam beberapa kitab aqidah membahas hal ini. Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita tentang golongan yang selamat adalah “al-jama’ah” yang mana mereka itu adalah orang-orang yang menetapi apa-apa yang mana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada padanya dalam masalah aqidah, perkataan, serta perbuatan. Barangsiapa yang beriltizam dengan apa-apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada padanya dalam masalah aqidah yang shahih dan selamat, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan yang ditentukan oleh syari’at, maka mereka itu adalah golongan yang selamat. Golongan ini (baca:Al-Firqatun Najiyyah, pent) tidaklah dikhususkan oleh zaman dan tempat, bahkan barangsiapa yang beriltizam dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam baik secara zhahir maupun bathin maka dia termasuk golongan yang selamat ini. Golongan ini di dunia selamat dari perkara-perkara bid’ah serta perselisihan dan di akhirat selamat dari siksa api Neraka. (Fatawa Nuur ‘alal Darb).

Kami berkata: Sesungguhnya kabar tentang perpecahan umat ini telah diterangkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

{وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ …} (103) سورة آل عمران

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah5), dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imron: 103).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} (105) سورة آل عمران

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Ali Imron: 105).

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

{شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ …} (13) سورة الشورى

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” (QS. Asy-Syura: 13).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} (153) سورة الأنعام

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa” (QS. Al-An’am: 153).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا} (115) سورة النساء

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-Nisa’: 115).

Sedangkan untuk pembahasan keshahihan hadits perpecahan umat, silakan Anda milihat langsung di kitab Zhilalul Jannah Takhrij Kitabus Sunnah oleh Al-Muhadits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah atau Anda dapat melihat di https://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/22/keshohihan-hadits-perpecahan-umat/#more-177

Ternyata Yusuf Qordlowi tidak hanya menolak hadits perpecahan umat ini saja, beliau pun menolak hadits-hadits lainnya yang tidak sesuai dengan akal beliau. Di antaranya hadits-hadits tersbut adalah sbb:

a. Di dalam “Shahih Muslim” terdapat hadits marfu’ (hadits yang rangkaian perawinya sampai kepada Nabi) yang shahih :

إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu masuk nereka”.

Dan para ulama telah sepakat tentang kepastian hal itu (yaitu bahwa ayah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) masuk Neraka, pent.)

Berkata Qardlowi mengomentari tentang hadits di atas :

”Dosa apakah yang diperbuat Abdullah bin Abdul Muthalib sehingga ia berada di neraka sedangkan dia adalah ahli fatrah (orang yang hidup di masa kekosongan wahyu antara kurun Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan masa kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, peny.) dan yang shahih ialah bahwa mereka selamat dari azab”.

Kemudian ia menyebut kemungkinan yang terbersit olehnya yaitu ia mengartikan kalimat Abi (ayahku) dalam hadits di atas sebagai Abu Thalib karena ia adalah paman nabi dan paman adalah ayah. Kemudian ia membuangnya jauh-jauh seraya berkata :

”Akan tetapi itu adalah kemungkinan yang terlemah menurutku karena ia bertentangan dengan yang tersurat dari satu sisi. Dari sisi lain, apa dosa ayah laki-laki yang bertanya (sehingga ia masuk neraka). Yang tampak ialah karena ayahnya itu mati sebelum Islam. Oleh karena itu aku ber-tawaqquf terhadap hadits ini hingga jelas bagiku sesuatu yang menyejukkan dada. Adapun syaikh kami, Muhammad Al Ghazali telah menolak hadits tersebut secara terang-terangan … .”

Sampai perkataannya :

”Akan tetapi terhadap hadits shahih aku lebih memilih untuk bersikap tawaqquf tanpa menolaknya secara mutlak, khawatir apabila terdapat makna yang belum aku ketahui”. (Kaifa Nata’aamalu Ma’as Sunnah An Nabawiyah, halaman 97-98)

b. Di dalam “Shahih Bukhari” dan “Shahih Muslim” tercantum hadits marfu’ yang shahih :

يُوْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ

“Maut (kematian) akan didatangkan (pada hari kiamat) dalam bentuk seekor domba jantan berwarna sangat biru”. (H.R. Bukhari – Muslim)

Qardlowi berkata : “Telah dapat diketahui dengan yakin (pasti) yang kepastiannya telah ditetapkan oleh akal dan wahyu bahwa kematian itu bukan seekor domba jantan atau sapi jantan atau salah satu jenis binatang”.

c. Di dalam “Shahih Bukhari” tercantum hadits marfu’ yang shahih :

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً. (رواه البخاري)

“Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) yang menguasakan urusan (pemerintah) mereka kepada wanita”. (H.R. Bukhari)

Qardlowi berkata : “Ketentuan ini hanya berlaku di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di mana hak untuk menjalankan pemerintahkan ketika itu hanya diberikan kepada kaum laki-laki sebagai sikap kesewenang-wenangan. Adapun di zaman sekarang ini ketentuan ini tidak berlaku”.

4. Disebutkan di dalam hadits yang shahih :

مَا رَأَيْتُ مِن ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَسْلَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ

“Aku tidak pernah melihat makhluk yang kurang sempurna akalnya dan kurang sempurna ketaatan mengamalkan agamanya yang lebih mampu menggoyahkan hati seorang laki-laki yang teguh sekalipun daripada masing-masing orang di antara kalian (kaum wanita)”.

Qardlawi berkata : “Sesungguhnya pernyataan ini terlontar dari ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk bergurau”.

5. Disebutkan dalam hadits shahih :

لاَ يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

“Seorang muslim tidak dijatuhi hukuman bunuh (hukum qishash) disebabkan membunuh orang kafir”.

Setelah Qardlowi menyatakan bahwa seorang muslim harus dijatuhi hukum bunuh (qishash) disebabkan ia membunuh orang kafir – suatu pernyataan yang bertentangan dengan ketentuan yang terkandung di dalam hadits di atas – Qardlowi berkata :

“Sesungguhnya pendapat ini (pendapat yang mengatakan bahwa seorang muslim harus dijatuhi hukuman qishash lantaran membunuh orang kafir, pent.) adalah pendapat yang benar, yang tidak layak pendapat yang lainnya diterapkan di zaman kita ini. Dan dengan memperkuat pendapat ini, berarti kita telah membatalkan semua argumen (alasan) pendapat lain. Dengan begitu berarti kita telah mengibarkan bendera syari’at Islam yang putih cemerlang (terang-benderang)”.

Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat Qardlowi yang meyimpang (sesat) dalam mensikapi Sunnah Nabi di samping pendapat-pendapat Qardahwi yang telah diutarakan di atas.

D. YUSUF QARDLOWI DAN ISRAEL (YAHUDI)

Berkata Yusuf Al-Qordlowi:

” نحن لا نقاتل إسرائيل من أحل الإسلام, ولكن نقاتلها من أجل الإحتلام “

“Kami tidaklah memerangi Israel di karenakan Islam, akan tetapi kami memerangi Israel di karenakan perebutan masalah tanah”6).

Ya Qordlowi, dimanakah pemahaman Anda terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang menerangkan kepada kita bahwa kaum muslimin memerangi ”para penentang-Nya” dikarenakan masalah agama (Baca: agar mereka memeluk Islam, pent).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} (85) سورة آل عمران

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imron: 85).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} (33) سورة فصلت

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ} (120) سورة البقرة

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqoroh: 120).

Na’am, apakah dalam ayat di atas disebutkan “sampai mereka mengembalikan tanah kalian !!!?” .Tidaklah mereka ridlo kepada kita sampai kita mengikuti millah mereka wahai saudaraku.

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:

إنك ستأتي قوم من أهل الكتاب؛ فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله الا الله, و أن محمد رسول الله

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlil Kitab; maka hendaklah hal yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah ‘persaksian bahwasannya tidak ada ilah yang berhaq di sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.

Hal yang pertama kali di dakwahkan adalah kalimat Tauhid (Kalimat Laa Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah, pent) bukan masalah negera atau tanah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ} (24) سورة التوبة

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah: 24).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أمرت أن أقتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله, و أن محمد رسول الله, ويقموا الصلاة, ويؤتوا الزكاة, فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم و أموالهم إلا بحق الإسلام, وحسابهم على الله

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia agar mereka mengucapkan syahadat bahwasannya tidak ada ilah yang berhaq disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan mengeluarkan zaka. Apabila mereka melakukan hal yang demikian maka tidak halal bagi kami darah dan harta mereka kecali karena haq Islam, dan perhitungannya hanya pada Allah”.

Dalam Shahihain dari hadits Ibn ‘Umar dan hadits Buraidah dalam shahih Muslim disebutkan bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

” ادعهم إلى الإسلام, فإن أبوا فالجزية, فإن أبوا فالقتال “

“Serulah mereka (untuk memeluk, pent) Islam, apabila mereka enggan/menentang maka baginya Jizyah, dan apabila mereka (masih) menentang maka perangilah mereka”.7)

Demikianlah hakikat permusuhan kita dengan para penentang agama Allah.

E. YUSUF QORDLOWI DAN KEBEBASAN WANITA

Qardlowi berusaha mengoyak tabir (hijab) yang menutupi kaum wanita dengan berbagai cara yang dapat ia lakukan. Berulangkali Qardlowi menyatakan bahwa memisahkan tempat kaum wanita dari tempat kaum pria hukumnya adalah bid’ah dan tergolong tradisi yang tidak berasal dari ajaran Islam8), dan bahwa sekat (pembatas) yang memisahkan tempat kaum wanita dari tempat kaum pria harus dilenyapkan.

Qardlowi berkata dengan redaksi berikut ini : “Dalam usiaku yang telah mencapai 70 tahun aku pernah pergi ke Amerika untuk menghadiri konfrensi-konfrensi Islam. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa ceramah-ceramah yang disampaikan dalam konfrensi-konfrensi Islam tersebut diikuti oleh para peserta wanita yang berada di suatu tempat (ruangan), sedang ceramah-ceramah yang diikuti oleh para peserta pria disampaikan di tempat (ruangan) yang lain. Suasana yang serba kaku tampaknya meliputi audiens (hadirin) dan terkesan bahwa mereka meniru-niru tradisi Barat, sehingga mereka berpegang pada pendapat yang kaku dan meninggalkan pendapat yang kuat. Akibatnya para peserta pria ditempatkan di ruang pertemuan yang terpisah dari ruang pertemuan para peserta wanita.9)

Mengenai acara yang sama, Qardlowi berkata : “Padahal konfrensi-konfrensi semacam ini merupakan kesempatan bagi seorang pemuda untuk menatap seorang pemudi sehingga hatinya menjadi tertarik, lalu si pemuda dapat leluasa menanyakan tentang identitas si pemudi yang dengan sebab itu Allah bukakan pintu hati muda-mudi tersebut, dan di belakang pertemuan itu terbentuklah keluarga yang islamiy”.

Pada acara yang sama pula (Konfrensi Islam), ketika Qardlowi dihampiri oleh seorang laki-laki yang ditugaskan untuk memberikan kata sambutan sebelum Qardhawi menyampaikan ceramah khusus di hadapan para peserta wanita, Qardlowi berkata : “Telah saya katakan kepada orang laki-laki yang ditugaskan untuk memberikan kata sambutan : ‘Apa peran Anda dalam acara ini ? Seharusnya peran Anda ini digantikan oleh salah seorang akhwat, karena pokok pembahasan yang akan diutarakan dalam ceramah adalah khusus untuk mereka (akhwat). Oleh karena itu salah seorang di antara akhwat itulah yang seharusnya memberikan kata sambutan sebagai pengantar ceramahku, mengucapkan sepatah kata, dan mengajukan pertanyaan-pernyataan, yang dengan cara ini berarti kita melatih mereka (akhwat) dalam bidang leadhersheap (kepemimpinan). Tatapi sayangnya sikap sewenang-wenang dari kaum laki-laki masih saja menimpa kaum wanita sampai-sampai sikap sewenang-wenang ini terjadi dalam urasan-urusan khusus kaum wanita’.”

Qardlowi mengatakan bahwa wanita-wanita yang berhijab pun harus tampil dalam acara-acara televisi dan tayangan-tayangan parabola,10) dan para wanita harus ikut serta dalam acara-acara pementasan drama dan sandiwara.11)

Bahkan Qardhawi menuturkan bahwa dia mempunyai dua orang puteri yang telah menamatkan studinya di beberapa universitas di Inggris – di sini sebenarnya Qardhawi ingin mengajak orang untuk mendukung budaya ikhtilath (campur-baur laki-laki dengan para wanita di satu tempat), budaya yang tak tahu malu – sehingga kedua puteri Qardhawi tersebut mandapat gelar doktor, yang satu orang di bidang fisika nuklir dan yang lainnya di bidang biokimia.12)

Demikian catatan kecil kami terhadap da’I sesat Yusuf bin Abdillah Al-Qordlowi Al-Mishriy.

Ditulis Oleh Seorang Hamba yang Selalu Mengharap Ampunan-Nya

Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan

Jahra, Kuwait: Sabtu, 01 Dzul Qo’dah 1428 H – 11 November 2007 M


Catatan Kaki:

1) Anggota Kibar Ulama (Persatuan Ulama-ulama besar) Saudi Arabia.

2) Ahli Hadits abad 20, berasal dari Yaman.

3) Seorang Ulama Syi’ah.

4) Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, jilid: 5.

5) Makna tali Allah dalam ayat ini adalah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhaailul Qur’an, hal: 75; Ad-Darimi 2/43; Ibn Nashir dalam As-Sunnah no. 22; Ibn Ad-Dhurais dalam Fadhaailul Qur’an, 74; Ibn Jarir dalam Tafsir-nya no. 7566 (Tahqiq: Syaikh Ahmad Syakir Al-Mishriy); At-Thabari dalam Tafsir-nya 9/9031; Imam Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah, hal: 16; Ibn Baththah dalam Al-Ibaanah no. 135. Riwayat ini Shahih.

6) Dinukil dari kitab Raad ‘alal Qordlowi, hal: 17. Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wada’iy rahimahullah. Cet: Daarul Atsar, Shona’a-Yaman.

7) Idem, hal: 17-18 dengan sedikit perubahan.

8) Qardhawi mengutarakan pernyataan ini di beberapa kitab karangannya, dan diberbagai acara serta di berbagai seminar yang Qardahwi ditunjuk menjadi pembicaranya. Di antaranya kitab “Awlawiyyaat Al Harakah Al Islaamiyyah” halaman 67, kitab “Malaamih Al Majtama’ Al Muslim” halaman 3, dan kitab “Markaz Al Mar’ah” halaman 41-130.

9) Qardhawi mengemukakan pernyataan ini pada pertemuan yang bertemakan “Tahaddiyaat Al Mar’ah Al Muslimah Fi Al Gharbi” yang merupakan bagian dari acara “Asy Syari’ah wa Al Hayaah” yang diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 1999M.

10) Qardhawi mengemukakan perkataan ini dalam pertemuan yang bertemakan “Al Fadhaa’iyyaat” (“Tayangan-tayangan Parabola”) yang merupakan bagian dari acara “Asy-Syari’ah wa Al Hayaah” yang diadakan pada tanggal 13 Juni 1999M.

11) Majalah “Al Mujtama’” Edisi no. 1319 tanggal 9 Jumada Ats Tsaaniyah 1419H.

12) Tabloid “Akhbaar Al Usbuu’” Edisi no. 401, hari Sabtu, 5 Maret, 1994M. Lihat majalah “Sayyidatuhum” Edisi 678, tanggal 5 Maret 1994M.Sumber: http://www.muslimah-salafiyah.blogspot.com

Iklan
Komentar
  1. mulut berkata:

    welgedewelbeh

    Mas-mas …. ingat lho …. hati-hati dicatat Alloh sebagai fitnah. Kurasa sampeyan perlu berkunjung dan bersilaturrahim ke blog ku …… agar lebih islami :)

    Mas, kalo fitnah itu diantaranya tidak sesuai dengan kenyataan bukan?! lho wong ini ada bukti ucapan dari Yusuf Qordlowi sendiri kok. Barokallah fiik.

  2. fateh berkata:

    Terimalah Kebenaran walau terasa Pahit dan Menyesak didada para Pemuja Akal dan Fanatiknya mereka kepada seorang tokoh. Bila Kebenaran itu datang terimalah ia dan bukalah hati kita untuk menerimanya dan ini merupakan salah satu ciri Ahlus sunnah Wal Jama’ah yaitu ruju kepada Kebenaran sesuai dengan Al Qur’an & Assunnah sesuai dengan Pemahaman Orang2x Sholeh terdahulu nyang Allah Ridho kepada mereka dan Merekapun Ridho kepada Allah.

  3. Abu Salma Mohamad Fachrurozi berkata:

    Assalamu ‘alaikum
    Ana berdoa Allah tambahi ilmu antum sehingga semakin bungkam melut-mulut mereka.
    Barokallahufikum

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

    اللهم آمين

  4. ust.Muhammad Rachmat berkata:

    ” Wah-wah banyak yang disesat-sesatkan nih…!!, Al-Qorni Sesat, Muhammad al Ghozali sesat, Yusuf Qordhowi sesat.

    Tentunya hal ini berdasarkan bukti-bukti dari ucapan, tulisan dsb pak ustadz. Bapak ingin bukti ucapan kufur Yusuf Qordlowi? Baiklah, berikut ucapan kufur Yusuf Qordlowi (maaf ga kami terjemahkan pak).

    Berkata Yusuf Qordlowi:
    (…أيها الاخوة قبل أن أدعَ مقامي هذا ، أحب أن أقول كلمة عن نتائج الانتخابات الإسرائيلية.
    العرب كانوا مُعَلِّقِينَ كل آمالهم على نجاح ( بيـريز ) وقد سقط ( بيـريز ) ، وهذا مما نحمده في إسرائيل ، نتمنى أن تكون بلادنا مثل هذه البلاد ، من أجل مجموعة قليلة يسقط واحد ، -والشعب هو الذي يحكم- ليس هناك التسعات الأربع أو التسعات الخمس التي نعرفها في بلادنا ، تسعة وتسعين وتسعة وتسعين من المائة ( 99.9 %) -لو أن الله عرض نفسه على النّاس ما أخذ هذه النسبة !!!!! – ما هذا الكذب والغش والخداع ، نحيـِّي إسرائيل على ما فعلت !! )
    انتهى كلام القرضاوي عامله الله بعدله
    Perhatikan kalimat yang kami BOLD pak Ustadz, bukankah ini kalimat kufur?!

    Bagaiaman fatwa ulama Robbaniyyin tentang fatwa Yusuf Qordlowi ini?, berikut kami nukilkan fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah:

    (( أقول هذه الكلمة التي تتكلم عن الانتخابات في إحدى الدول وذكر أن رجل حصل على نسبة تسعة وتسعين من المقاعد ، ثم قال معلقا : ( لو أن الله عرض نفسه على الناس لما أخذ هذه النسبة ) ، أعوذ بالله ، بل يجب أن يتوب ، يتوب من هذا وإلا فهو مرتد !!، لأنه جعل المخلوق أعظم من الخالق ، فعليه أن يتوب إلى الله والله يقبل التوبة عن عباده ، وإلا وجب على ولاة الأمور أن يضربوا عنقه )) انتهى كلام الشيخ العثيمين رحمه الله))

    Mungkin pak ustadz akan berkata: Mana buktinya suaranya?! maka kami jawab:Sabar pak, insyaAllah bukti audio Yusuf Qordlowi akan bapak dapatkan dalam halaman AUDIO HIZBY.Sabar sebentar ya pak ustadz.

    Sesat dan Sesat terus…. Ga tau apa saya sesat menurut mereka.Yang jelas saya tidak ingin menyesat-nyesatkan orang Muslim.

    Ya, karena pak Ustadz sudah terkena kaidah “emas” tersebut. Penyembah kubur juga menurut pak ustadz tetap muslim, syi’ah juga Muslim, dst. Begitu bukan pak ustadz…? Lantas bagaimana dengan perkataan Yusuf Qordlowi di atas pak ustadz, bukankah itu perkataan kufur?? bahkan Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa orang yang mengatakan demikian wajib baginya untuk bertaubat, jika tidak maka ia murtad dan wajib bagi pemerintah untuk melakukan hukum penggal baginya

    Apa kalau dituduh sesat harus baca lagi SYAHADAT lagi… Padahal orang yang sesat dan dimurkai menurut ayat terakhir surat alfatihah itu adalah golongan Yahudi dan Nasrini…Hati-hati ah….!!.Pahami ucapan Assalamualaikum atuh…
    masa kita berkata ” Keselamatan Buat kalian “..eh terus kita sesat-sesatkan. kita berdoa ” YA Alloh ampuni Dosa Kaum Muslimin………”

    Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan QS. Fatihah:7:“Orang-orang yang dimurkai oleh Allah” adalah orang-orang yang mana mereka itu mengetahui Al-Haq akan tetapi mereka meninggalkannya seperti orang-orang Yahudi dan yang semisalnya. “orang-orang yang sesat” adalah orang-orang yang meninggalkan Al-Haq karena kebodohan dan kesesatannya seperti orang-orang Nashoro dan semisalnya (Tafsir As-Sa’di, hal: 28. Cet: Daar Ibn Al-Jauziy, KSA). Jadi pak Ustadz, ayat tersebut bukan hanya untuk orang-orang Yahudi dan Nashoro saja akan tetapi juga buat orang-orang yang memiliki sifat seperti itu.

    terus kita bid’ah-Bid’ah kan. Saran saya nih buat SIAPA SAJA..jangan karena baru Jenggot panjang, Istribercadar dan Kain diatas mata kaki lalu kita MENYESATKAN Orang MUSLIM…Saya Yakin dengan MANHAJ AHLUSSUNAH. Bahkan saya berusaha mengikuti Manhaj ini….

    Tentang jenggot, bukankah lafadz hadits itu bersifat “perintah” pak ustadz?. Dan sudah ma’ruf bahwa hadits dgn lafadz “perintah” adalah “wajib”. Bagaimana atuh pak ustadz teh?

    Kemudian tentang masalah kain di atas mata kaki, bukankah hal itu juga merupakan perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pak ustadz. Hadits-hadits yang memerintahkan hal ini berderajat shahih -lihat Riyadhus Sholihin-.Jika Anda berdalil dengan hadits Ibn ‘Umar, maka apa yang dilakukan oleh Abu Bakr As-Shidiq radhiallahu ‘anhu mendapat tazkiyah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak memiliki rasa sombong, ini yang pertama. Sedangkan Anda pak ustadz, siapakah yang mentazkiyah bapak?.Kedua: Pakaian (sarung) yang dikenakan oleh Abu Bakr melorot/turun dgn sendirinya. Hal ini nampak dalam hadits.Kamudian balasan bagi orang yang melabuhkan pakaian tidak karena sombongadalah apa-apa yang ada di bawah kedua mata kaki akan di azab dalam Neraka sedangkan apabila ia melabuhkannya dengan rasa sombong maka balasannya adalah: Allah tidak akan mengajak bicara dengannya, tidak akan melihatnya,tidak mentazkiyahnya, serta azab yang pedih baginya pada hari akhir. Inilah hukum tentang orang yang memanjangkan pakaian melebihi kedua mata kaki secara ringkas pak ustadz.Pak Ustadz dapat lihat secara rinci dalam Majmu’ Fatawa Wa Rosail Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dll.

    Sedangkan masalah cadar, bukankah hal ini juga ada perintahnya pak ustadz. Kami bertanya kepada Anda, ditempat manakah dari tubuh wanita yang paling banyak menimbulakn fitnah? Kami harap Anda menjawabnya dengan jujur. Lihat lebih lengkap pembahasannya di sini https://abdurrahman.wordpress.com/2007/10/01/menghapus-keraguan-tentang-hukum-membuka-wajah/

    Jangan DIHAPUS KOMENTAR INI, Saya heran dengan sebagian situs-situs Islam. dipersilahkan memberi KOMENTAR, tapi setelah dikirim ko dihapus…” ini berarti yang punya situs inginnya didukung terus..

  5. Ust.Muhammad Rachmat berkata:

    Alhamdulillah, ternyata KOMENTAR saya tidak dihapus.
    Menindak lanjuti komentar yang telah saya sampaikan. Dan menjawab pula pernyataan dan pertanyaan yang disampaikan (Semoga Alloh memberi berkah padamu)

    maka :
    Saya berharap Hidup yang saya jalani, tergores dengan goresan-goresan tinta EMAS. Dalam Pengertian saya berada dalam keselamatan dan keberkahan didunia untuk kelak diakherat nanti.
    Dan mengenai Masalah :
    1. Jenggot. Ada periwayatannya. saya
    tidak menafikkan masalah ini. Bahkan saya pun ingin membedakan dengan yang LAIN. Walau nantinya berjenggot. Ada beberapa katagori. Mengikuti ADAT, SUNNAH atau Mengikuti TREND.
    Berjenggot bisa menyelisihi yang lain. Bahkan berjenggot bisa Menggentarkan musuh.

    Kami berlindung kepada Allah dari anggapan bahwa adanya jenggot karena mengikuti tren, mode atau hal semisalnya. Apa-apa yang diperintahkannya maka laksanakanlah dan apa-apa yang dilarangnya maka jauhilah. Barokallah fiikum.

    2. Hadist tentang kain diatas mata kaki. Ada periwayatannya pula ( Mungkin kita telah membacanya dalam Riadussolihin). Saya tidak menafikkan pula masalah ini. Cuma ada KATA SOMBONG nya itu. Hingga akhirnya, Hadist ini ditafsirkan secara berbeda serta menimbulkan IKHTILAF. Namun yang jelas saya berlindung dari sikap SOMBONG. Yang Mana sifat tersebut merupakan pakaian Tuhan.

    Sudah kami terangkan tentang hukum orang yang melabuhkan pakaian baik karena sombong ataupun tidak. Silakan ditelaah kembali. Untuk melihat penjelasan kitab Riyadhus Sholihin mungkin ada baiknya jika Anda melihat Syarh Riyadhus Sholihin oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah. Kitab ini kalo tidak salah ada 6 jilid.

    3. Masalah Cadar pun Demikian. Ikhtilaf terjadi dalam masalah ini. Baik kalangan ulama MUTAQODDIM atau ulama MUTA’AKHIR. Al-BANI sendiri mem-BID’AH-kan perkara ini. Cuma pernah ada riwayat yang saya baca. Suatu kali Siti fatimah R.A. ditanya, ” Wanita manakah yang baik itu ?” beliau menjawab, “Wanita yang baik adalah wanita yang tidak mau melihat dan tidak mau dilihat laki-laki. Bahkan dan Memang banyak periwayatan masalah ini. Karena banyaknya, sehingga banyak PENAFSIRAN yang berbeda-beda. Masalah yang berkenaan dengan cadar, sebelum berkunjung kesitus/web/blog ini telah membaca dan menelaah sebelumnya. Bahkan kelak saya berharap. Istri saya nanti bisa, mau atau bahkan mendapat kan yang bercadar.
    Karena wanita atau bagian dari tubuh wanita Adalah Aurat, Kecuali bagi mahrom-mahromnya…

    Yang kami ketahui tentang pendapat Syaikh Al-Albani rahimahullah tentang cadar adalah tidak wajib bukannya bid’ah,tolong buktikan ucapan bahwa Syaikh Al-Albani membid’ahkan cadar!!.

    Maaf neh pak Ustadz, dari mana ya ada tambahan SITI untuk Fathimah, ‘Aisyah,Khodijah dll?? jangan asal tambah pak ustadz.

    Ada cerita nih…!!
    Suatu kali Imam Abu Hanifah sedang duduk-duduk di halaman teras mesjid. Sambil membaca dan mutholaah Kitab. Tiba-tiba ada 3 orang dari kalangan orang yang suka MENYESAT-NYESATKAN dan MENGKAFIR-KAFIRKAN pihak lain. Diantara mereka bertanya, “Hei Abu Haniifah, kami ingin bertanya kepadamu. Sekiranya dapat menjawab selamatlah engkau. Tapi jika tidak berarti engkau celaka”. Sambil mengusap-ngusap pedang yang dibawanya.
    Seperti halnya manusia seperti kita, Imam Abu Haniifah pun merasa takut dan gemetar. ” Baik, Apa pertanyaan kalian. Sehingga membuat ancaman kepadaku. Jawab Imam Abu Haniifah.
    “Ada orang yang Berzina, Minum Arak dan telah membunuh. Kemudian Mereka Mati . Apa mereka KAFIR ? Demikian salah pertanyaan dari salah satu orang dari mereka.
    Imam Abu Haniifah pun kembali bertanya.
    “Dari kalangan manakah mereka?”
    (BERSAMBUNG )
    Insya Alloh saya akan BERKUNJUNG KEMBALI..

    Maaf kami tidak mengatahui cerita ini dan bagaimana sanadnya. Jadi ingat ketika baca majalah milik Ikhwanul Muflisin, banyak cerita tetapi tidak jelas sanadnya. Allahul Musta’an

    Jangan DIHAPUS KOMENTAR INI, Saya heran dengan sebagian situs-situs Islam. dipersilahkan memberi KOMENTAR, tapi setelah dikirim ko dihapus…” ini berarti yang punya situs inginnya didukung terus..

  6. Abu Salma berkata:

    Assalamu’alaikum
    Afwan akhy, Syaikh Ahmad bin Muhammad Manshur al-Udaini, tidakkah masuk ke dalam Thobaqot ulama maftunin oleh Syaikh Abul Hasan al-Ma’ribi, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Yahya al-Hajuri dalam thobaqotnya??

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

    Kami belum mengetahui perihal ini, tolong bisa Anda berikan alamat URL Thobaqot tersebut atau mungkin e-booknya. Jazakumullah khoiron katsiro.

  7. Ust. Muhammad Rachmat berkata:

    Ada cerita.
    Suatu kali Imam Abu Hanifah sedang duduk-duduk di halaman teras mesjid. Sambil membaca dan mutholaah Kitab. Tiba-tiba ada 3 orang dari kalangan orang yang suka MENYESAT-NYESATKAN dan MENGKAFIR-KAFIRKAN pihak lain. Diantara mereka bertanya, “Hei Abu Haniifah, kami ingin bertanya kepadamu. Sekiranya dapat menjawab selamatlah engkau. Tapi jika tidak berarti engkau celaka”. Sambil mengusap-ngusap pedang yang dibawanya.
    Seperti halnya manusia seperti kita, Imam Abu Haniifah pun merasa takut dan gemetar. ” Baik, Apa pertanyaan kalian. Sehingga membuat ancaman kepadaku. Jawab Imam Abu Haniifah.
    “Ada orang yang Berzina, Minum Arak dan telah membunuh. Kemudian Mereka Mati . Apa mereka KAFIR ? Demikian salah pertanyaan dari salah satu orang dari mereka.
    Imam Abu Haniifah pun kembali bertanya.
    “Dari kalangan manakah mereka?”Apa mereka seorang majusi?’
    “Bukan” Jawabnya
    “Apa mereka Yahudi”? Tanya Imam Abu Hanifah
    “Bukan Pula”.
    “Ataukah seorang Nasrani”
    “Tidak”, Jawabnya
    “Lantas dari manakah mereka”?
    Imam Abu Haniifah kembali bertanya.
    Salah satu dari mereka menjawab,
    “Mereka adalah dari golongan Muslim”.
    Imam Abu Haniifah kemudian berkata,”
    “Kalian telah mengetahui, bahwa orang yang mati tersebut adalah MUSLIM bukan KAFIR..
    Rasa Malu menyelimuti mereka. Akhirnya mereka pergi meninggalkan Imam Abu Haniifah.

    Dari cerita ini Saudara Abdurrahman Mungkin bisa mengambil pelajaran. Jika memang Riwayat atau Sanad ini DHOIF misalnya menerut anada. Bagaimana dengan IMAM AHMAD ibn HAMBAL, dengan pernyataannya Bahwa Hadist yang berkedudukan Dhoif bisa dijadikan MOTIVASI untuk beramal.

    Alhamdulillah kami bukanlah orang-orang yang mudah mengkafirkan seseorang dikarenakan perbuatan maksiat yang mereka lakukan, lain halnya denga firqoh sesat. Mereka dengan mudah mengkafirkan seseorang dikarenakan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.Hal ini juga merupakan bantahan kepada beberapa blog yang menyangka bahwa ahlus sunnah (baca: salafy) adalah orang yang mudah mengkafirkan.

    Tentang hukum penggunaan hadits dlo’if untuk “keutamaan amal” maka cobalah Anda lihat Qaidah ke-12 Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Tamamul Minnah fiit Ta’liq ‘ala Fiqh As-Sunnah. Kami nukilkan sbb:
    Berkata Syaikh Muhadits (=ahli hadits) Muhammad Nashiruddin Al-Albanirahimahullah: ”Di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu ini telah masyhur bahwa hadits dla’if (=lemah) boleh diamalkan dalam fadlailul ‘amal (=keutamaan amal). Mereka menyangka bahwa perkara ini tidak diperselisihkan. Bagaimana tidak, Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam berbagai kitab beliau bahwa hal ini telah disepakati. (Seperti dalam kitab Arba’in Nawawi, pent.) Tetapi pernyataan beliau itu terbantah karena perselisihan dalam hal ini ma’ruf. Sebagian besar para muhaqiq (=peneliti) berpendapat bahwa hadits dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.

    Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam kitab Qawaid At-Tahdits, hal: 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ‘Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakr bin ‘Arabi. Pendapat ini juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hajm.

    Saya (Syaikh Al-Albani) katakan bahwa inilah yang benar menurutku, tidak ada keraguan padanya karena bebarapa perkara;pertama: Hadits dla’if hanya mendatangkan sangkaan yang salah (dzanul marjuh). Tidak boleh beramal dengannya berdasarkan kesepakatan. Barangsiapa mengecualikan boleh beramal dengan hadits dla’if dalam keutamaan amal, hendaknya dia mendatangkan bukti, sungguh sangat jauh!. Kedua: Yang aku pahami dari ucapan mereka tentang keutamaan amal yaitu amal-amal yang telah disyari’atkan berdasarkan hadits shahih, kemudian ada hadits lemah yang menyertainya yang menyebutkan pahala khusus bagi orang yang mengamalkannya. Maka hadits dla’if dalam keadaan semacam ini boleh diamalkan dalam keutamaan amal, karena hal itu bukan pensyari’atan amal itu tetapi semata-mata sebagai keterangan tentang pahala khusus yang diharapkan oleh pelakunya. Oleh karena itu ucapan sebagaian ulama dimasukkan seperti ini. Seperti Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah dalam Al-Mirqah 2/381 mengatakan bahwa hadits lemah diamalkan dalam perkara keutamaan amal walaupun tidak didukung secara ijma’ sebagaimana keterangan Imam An-Nawawi, yaitu pada amal yang shahih berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.

    Maka dengan dasar inilah maka beramal dengan hadits dla’if diperbolehkan jika telah adanya hadits shahih yang menunjukkan disyari’atkannya amal itu. Akan tetapi kebanyakan orang yang berpendapat seperti itu tidak dimaksudkan makna seperti itu. Buktinya kita menyaksikan mereka beramal dengan hadits-hadits dla’if yang tidak terkandung dalam hadits-hadits shahih, seperti Imam An-Nawawi dan yang mengikutinya menganggap sunnah menjawab ucapan orang yang mengumandangkan iqamah ketika mengucapkan dua kalimat syahadat (=qadqa matis shalah, qadqa matis shalah) dengan ucapan “aqamahala wa adamaha” (=semoga Allah menegakkannya dan melazimkannya), padahal hadits tentang masalah ini adalah dla’if . [Kelemahan hadits ini dapat dilihat pada; Irwa’ul Ghalil 241. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah; Ilmu Ushulil Bida’, hal: 157. Syaikh ‘Ali Hasan bin Adul Hamid.]

    Amal ini tidak ditetapkan pensyari’atannya kecuali pada hadits dla’if tersebut. Meskipun demikian mereka menganggap hal itu merupakan suatu sunnah. Padahal perkara sunnah adalah salah satu hukum diantara kelima hukum (yakni: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) yang harus ditetapkan berdasarkan dalil.

    Betapa banyak perkara-perkara yang mereka anggap disyari’atkan dan disunnahkan bagi manusia hanya didasari dengan hadits-hadits lemah yang tidak ada asal pensyari’atannya dalam hadits shahih. Akan tetapi disini tidak mungkin untuk mencantumkan sebagai contoh, cukuplah salah satu contoh yang telah aku sebutkan.

    Adapun yang terpenting disini adalah hendaklah orang-orang yang menyelisihi hal ini mengetahui bahwa beramal dengan hadits dla’if dalam perkara keutamaan amal tidak mutlak menurut orang-orang yang berpendapat dengannya. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata dalam Tabyanul Ujab, hal: 3-4 bahwa para ahli ilmu telah bermudah-mudah dalam membawakan hadits-hadits tentang keutamaan amal walaupun memiliki kelemahan selama tidak maudlu’ (=palsu). Seharusnya hal ini diberi syarat yaitu orang yang beramal dengannya menyakini bahwa hadits itu lemah dan tidak memasyhurkannya sehingga orang tidak beramal dengan hadits dla’if dan mensyari’atkan apa yang tidak disyari’atkan atau sebagian orang-orang jahil (=bodoh) menyangka bahwa hadits itu adalah shahih.

    Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad bin Abdus Salam dan lain-lain.
    Hendaknya setiap orang khawatir jika termasuk dalam ancaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:
    (من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكذبين)
    “Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap hadits itu dusta, maka dia termasuk seorang pendusta” [Untuk lebih jelasnya lihat permasalahn ini pada kitab Syarh Shahih Muslim, juz: 1, bagian muqadimah. Imam An-Nawawi Ad-Damsiqi rahimahullah.]

    Maka bagaimana orang yang mengamalkannya?!. Tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam perkara keutamaan amal, sebab semuanya adalah syari’at.

    Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dla’if dalam keutamaan amal;
    a. Hadits itu tidak maudlu’ (=palsu).
    b. Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa hadits itu adalah dla’if.
    c. Tidak memasyhurkan untuk beramal dengannya.

    Akan tetapi sangat disayangkan kita menyaksikan kebanyakan ulama lebih-lebih orang awam meremehkan syarat-syarat ini. Mereka mengamalkan suatu hadits tanpa mengetahui kelemahannya, mereka tidak mengetahui apakah kelemahannya ringan atau sangat parah sehingga (hadits) tersebut tidak boleh diamalkan. Kemudian mereka memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih!. Oleh karena itu banyak ibadah-ibadah dikalangan kaum Muslimin yang tidak shahih dan memalingkan mereka dari ibadah-ibadah yang shahih yang diriwayatkan dengan sanad-sanad (=jalan, pent) yang shahih.

    Kemudian syarat-syarat tersebut menguatkan pendapat kami bahwa sebagian besar ulama tidak menginginkan makna yang kami anggap kuat tadi, sebab satupun diantara syarat-syarat itu tidak diterapkan sebagaimana yang tanpak.

    Menurutku (Syaikh Al-Albani), Al-Hafidz Ibnu Hajar cenderung kepada tidak boleh beramal dengan hadits dla’if berdasarkan ucapan beliau yang telah lewat bahwa tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam keutamaan amal sebab semuanya adalah syari’at.

    Inilah yang haq, karena hadits dla’if yang tidak ada penguatnya kemungkinan adalah maudlu’ (=palsu), bahkan umumnya palsu dan mungkar. Hal ini ditegaskan oleh sebagian ulama. Orang yang membawakan hadits dla’if termasuk dalam ucapan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam:”…yang dianggap hadits itu dusta”, yaitu dengan menampakkan demikian. Oleh karena itu Al-Hafidz menambahkan dengan ucapannya:”Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya”.

    Hal ini dikuatkan dengan perkataan Ibnu Hibban bahwa setiap orang yang ragu terhadap apa yang dia riwayatkan, shahih atau tidak shahih, maka dia termasuk dalam hadits ini. Dan kita katakan seperti perkataan Al-Hafidz (Ibnu Hajar):”Maka bagaimanakah dengan orang yang mengamalkannya”.

    Inilah penjelas dari maksud ucapan Al-Hafidz Ibnu Hajar tersebut. Adapun jika ucapan beliau dimaksudkan kepada larangan memakai hadits maudlu’ (=palsu) dan tidak ada perbedaan antara perkara hukum dan keutamaan adalah sangat jauh dari konteks ucapan Al-Hafidz, sebab ucapan beliau adalah dalam pembahasan hadits dla’if, bukan maudlu’ sebagaimana hal itu tidak tersembunyi.

    Apa yang kami sebutkan tidak menafi’kan (=meniadakan) bahwa Al-Hafidz (Ibnu Hajar) menyebutkan syarat-syarat itu untuk mengamalkan hadits dla’if. Sebab kita katakan bahwa Al-Hafidz menyebutkan perkataan itu kepada orang-orang yang membolehkan memakai hadits dla’if dalam perkara keutamaan selama tidak maudlu’ (=palsu). Seakan-akan beliau berkata kepada mereka:”Jika kalian berpendapat demikian, maka seharusnya kalian menerapkan syarat-syarat ini”.

    Al-Hafidz tidaklah menyatakan dengan tegas bahwa dia menyetujui mereka dalam membolehkan (beramal dengan hadits-hadits yang dla’if) dengan syarat-syarat itu. Bahkan diakhir ucapan beliau menegaskan sebaliknya seperti yang telah kami terangkan.

    Kesimpulannya, bahwa beramal dengan hadits dla’if dalam perkara keutamaan amal tidak diperbolehkan sebab menyelisihi hukum asal dan tidak ada dalilnya. Orang yang membolehkannya harus memperhatikan syarat-syarat itu ketika mengamalkan hadits dla’if, Wallahu Muwaffiq. Demikian perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. [Tamamul Minah Fii Ta’liq Fiqh Sunnah, hal: 34-38. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah). Barangsiapa yang hendak memperoleh penjelasan yang lebih panjang dalam hal ini, kami persilakan untuk melihat kitab Shahih At-Targhib 1/16-36 karya Syaikh Al-Albani rahimahullah Ta’ala.

  8. Abu Luthfi berkata:

    Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh,

    Ahlussunnah akan jaya sampai akhir zaman!
    Ana heran dengan orang-orang yang menisbatkan diri sebagai pecinta rasulullah shalallahu alaihi wa sallam namun taqlid buta pada syaikhnya yang jelas-jelas secara ilmiyyah telah melakukan kesalahan….
    Bagaimana wala’ wal baro’nya??
    Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan tambahan kebaikan bagi al akh abdurrahman.
    Wassalamu’alaykum
    Abu Luthfi al prayi

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

  9. abu iqbal abdul azis berkata:

    Assalaamu`alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
    Biasa, silaturahmi. Asyik benar ngobrolnya sama ustad m. rahmat. Salam kenal buat ustad. Semoga antum tidak jera dengan jawaban-jawaban pemilik blog ini. Teruslah keluarkan unek-unek. Jawaban yang benar janganlah ditolak. Jangan merasa kalah. Semoga ustad rahmat mendapat kebaikan dari blogwalking ini.
    Saya juga surfing terus, mencari kebenaran sejati. Saya kunjung banyak situs dan juga blog. Yang benar tidak saya tolak. yang salah jadi tahu salahnya. Kita jadi tahu juga tentang perselisihan di kalangan ikhwan salaf.
    buat akh Abdurrahman, jangan bosan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan walaupun terkadang menyudutkan.
    Wassalaamu`alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

    wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

  10. abihumaid berkata:

    Bismillah…
    Assalamu’alaykum wa rohmatullah
    Baarokallahufiikum..
    Salam kenal dari ana,,

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

    Wa fiik barokallah. Salam kenal kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s