ETIKA MEMBERI NAMA ANAK DALAM ISLAM

Posted: 27 - Agustus - 2007 in Nasehat

بسم الله الرحمن الرحيم

ETIKA MEMBERI NAMA ANAK DALAM ISLAM

Oleh:

Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan

 

Pengantar;

Menanggapi e-mail dari seorang ikhwan tentang etika memberi nama dalam Islam, maka berikut kami susun makalah yang berkenaan dengan masalah yang dimaksud.

Kami mengira permasalahan ini sangat penting untuk diketahui oleh kaum muslimin dikarenakan banyaknya kaum muslimin yang masih asal-asalan atau salah dalam memberikan nama kepada anak-anak mereka.

Akhirnya semoga makalah yang ringkas ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amiin.

Pentingnya Pemberian Nama

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا (7) سورة مريم

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan 1). Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat.

Waktu Pemberian Nama

Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:

a) Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.

b) Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.

c) Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.

Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.


Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu

Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ (5) سورة الأحزاب

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)

Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 2).

Memilih Nama Terbaik Untuk Anak

Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.

Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak

1. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misal Abdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll. Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah.

Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.

2. Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim.

Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.

3. Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi.

Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi3).

Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.

Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim.

Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”4).

4. Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.

Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

أنهم كانوا يسمون بأسماء أنبيائهم والصالحين (رواه مسلم).

“Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).

Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.

Syarat-syarat Dalam Pemberian Nama

a. Nama tersebut menggunakan bahasa arab.

b. Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.

Nama-nama yang Diharamkan

a. Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hmabanya Matahari) dll.

b. Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.

c. Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.

d. Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.

e. Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.

f. Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إن أخنع إسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك (رواه البخاري؛ مسلم).

“Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” (HR. Bukhori; Muslim).

g. Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.

Nama-nama Yang Dimakruhkan

a. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.

b. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.

c. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.

d. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.

e. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.

f. Dimakruhkan memberi nama ganda5), misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.

g. Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.

Jalan Keluar Dari Pemberian Nama-nama Yang Diharamkan Dan Yang Dimakruhkan

Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini.6)

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغير الإسم القبيح إلى الإسم الحسن (رواه الترمذي).

“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).

Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll.

Maraji’:

Tasmiyah Al-Maulud, karya: Asy-Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid

Catatan Kaki:

1) Marotib Al-Ijma’, hal: 154. Oleh Ibn Hazm.

2) Lihat Shahih Bukhori, bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim.

3) Lihat Syarh Shahih Muslim 8/437. Imam An-Nawawi rahimahullah; Marotib Al-Ijma’, hal: 154-155.

4) Zaadul Ma’ad, 2/347. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah.

5) Maksudnya adalah memberikan nama anak dengan dua nama, yang mana nama tersebut terdapat dalam satu orang. Misal Muhammad Ahmad, nama Muhammad dan Ahmad dimiliki oleh satu orang, dan Ahmad bukanlah nama bapaknya,pent.

6) Untuk di sini (Kuwait) kita dapat mendatangi Mahkamah,pent.

Download Makalah

 

Iklan
Komentar
  1. Abu Salma berkata:

    Assalamu’alaikum

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

    Qoro’tu hadzihil maqulah fa-ajaada wa afaada wa barokallohu fika ‘ala ihtimamika fi hadzal bahts.

    Jazakallah khoiron jika Anda telah membaca makalah ringkas tersebut, semoga bermanfaat bagi kita semua.

    Ana ada beberapa pertanyaan berkenaan dengan artikel di atas :
    1. Catatan kaki, yang memberikan siapa? Apakah dari antum ataukah Syaikh Bakr. Jika risalah ini adalah terjemahan, maka alangkah lebih baik jika catatan yg berasal dari kita, maka kita beri tanda (pent.) atau (pen.) atau semisalnya, untuk membedakan dari ucapan mu’allif.

    Beberapa catatan kaki kami yang memberikan dan yang lainnya adalah dari penulis kitab aslinya. Dan Alhamdulillah sudah kami ubah untuk membedakannya, jazakallah khoiron.

    2. Catatan kaki no. 5, berasal dari antum ataukah Syaikh Bakr?

    Catatan kaki no. ini kami yang memberikannya. Dan alhamdulillah kami telah merubah beberapa kalimat.

    3. Penamaan nama berganda atau rangkap, bukanlah kebiasaan yg terkait dengan hizbiyah atau harokiyah, namun lebih cenderung kepada urf pada suatu wilayah, walaupun urf islam adalah lebih aula dan utama utk diikuti. Seperti misalnya kita lihat nama : Syaikh Muhammad Nashiruddin Nuh Najjati. Di sini, nama beliau mengandung dua mukholafat (kemakruhan), yaitu :
    a) Menggandengkan nama dengan dien/Islam (Nashiruddin)
    b) Menggunakan nama rangkap, karena tentu saja nama Nashirudin bukanlah nama bapak Syaikh rahimahullahu.
    Kita juga bisa melihat kebiasan muslim India, yang mayoritas mengidhofahkan namanya kepada Allah. seperti : Ihsan Ilahi, Fadhl Ilahi, Washiyullah Abbas, Waliyyullah ad-Dihlawi, Habiburrahman, dll.
    Sebagian lagi diidhafahkan kepada dien/agama, seperti : sholahuddin maqbul ahmad, Badi’udin Syah ar-Rasyidi, Zhiya’ud Din, dll…
    Dan ini semua merupakan urf yang telah biasa di India…
    Di Indonesia, kita bisa melihat nama yang bertumpuk2 lebih banyak lagi. Seperti Joko Susilo Warsidi Mangankusumo, Slamet Riyadi Supangkat, dll…
    Namun, tidak dipungkiri, bahwa penamaan dobel/rangkap ini mayoritas ada di kaum ajam, dan sangat jarang di kaum arab.
    Oleh karena itu, ana sedikit bertanya-2, atas dasar apa penggunaan nama berangkap itu kebanyakan dilakukan oleh kaum hizbiyyin atau harokiyyin?

    Pada awalnya, yang kami maksudkan kebanyakan dilakukan oleh hizbiyyin adalah karena penamaan ini (disini) banyak dilakukan oleh WNI yang aktif menggembar gemborkan hizb mereka. Dan catatan mengenai hal ini telah kami hapus, wa jazakallah khoiron.

    4. Dimakruhkan di sini bermakna apa? Bermakna lit tanzih ataukah lit tahrim? Karena, seringkali para ulama mengatakan karoha sedanhgkan maknanya adalah keharaman tapi di bawah haram (yang memiliki dalil jelas).
    Ana melihat contoh nama-2 yg dimakruhkan di sini, ada empat yang sangat dekat dengan haram, yaitu memberi nama dengan nama orang fasik atau jahat (seperti nama Bush), memberi nama dengan perbuatan buruk/maksiat (seperti nama “Fajir”), memberi nama dengan nama pengikut Fir’aun (ini lebih parah lagi) atau nama binatang seperti anjing dll… Ini semua sudah jelas dan terang akan keburukannya.
    Sedangkan poin ke-5 s.d. 7, adalah nama yg lazim digunakan di suatu negeri karena berkaitan dengan urf (ajami). Dan banyak ulama yg menggunakannya, bahkan sebagiannya adalah ulama ahli hadits yg banyak memahami hadits-hadits nabi. Ana melihat derajat keburukan antara poin 1-4 dengan poin 5-7 sangat lah jauh, dan apabila dikatakan sama-2 makruh maka makruh yang bagaimanakah? apakah makruh yang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan dilakukan tidak mengapa? Sehingga tidaklah berdosa orang yang menamakan anaknya : “Qirdun” (Kera), “Khinzir” (Babi), “Fajir”, ‘Ashi” (Pelaku maksiat), “Fir’aun” dll…

    Wallahu A’lam. Yang kami dapati dalam risalah Syaikh adalah kalimat “makruh” tanpa adanya penjelasan

    5. Apa wijhatu nazhar dan dalil penunjukkan bahwa poin 1-7 di atas masuk kategori makruh? Adakah dalilnya yg menunjukkan atas kemakruhan bernama dengan Nashiruddin, Badi’uddin, Sholahuddin, Zainuddin, dll…

    Wallahu A’lam, seingat kami Syaikh tidak memberikan dalilnya

    6. Adakah kita Tasmiyatul Maulid itu di mauqi’ internet yang bisa didownload? Kalo ada bagi donk, Jazzakallohu khoyr.

    Maaf, kami lupa nama web yang terdapat kutub Syaikh. Coba Anda cari lewat Google.

    7. Setahu ana, syaikh Bakr juga sempat mengungkit seperti masalah ini di dalam “Mu’jamul Manahi al-Lafzhiyah”, namun ada beberapa hal yang dikoreksi dan dikritik oleh Syaikh Ali Ridha dengan taqdim Syaikh Hamdi as-Salafi.

    Kami belum membaca kitab ini, baru melihat kitabnya saja di maktabah Masjid Salim Ali As-Shobah, Jahra-Kuwait.

    Mungkin ini saja pertanyaan ana. Atas jawabannya ana ucapankan Jazzakallohu khoyrol jazaa’. Barokallohu fikum.

    Jazakallah khoiron atas kunjungan Anda. Wa fiik barokallah.