MARAH KETIKA DITIMPA MUSIBAH?

Posted: 26 - Agustus - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa, Nasehat

بسم الله الرحمن الرحيم

 

MARAH KETIKA DITIMPA MUSIBAH?

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Manusia dalam kondisi marah terbagi menjadi beberapa tingkat, yaitu:

Tingktan Pertama: Marah, perbuatan marah terbagai menjadi beberapa macam, yaitu:

Pertama: Marah dengan hati; seperti marah kepada Allah, marah terhadap apa yang telah Allah taqdirkan atas dirinya. Ini adalah haram dan kadang-kadang menyebabkan kekafiran. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ (11) سورة الحـج.

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj: 11).

Kedua: Marah dengan lisan; seperti berdo’a dengan kecelakaan, laknat dan semacamnya. Hal ini juga haram.

Ketiga: Marah dengan anggota badan; seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, mencambak rambut dan semacamnya. Semuanya ini juga haram, menyelisihi sabar yang diwajibkan.

Tingkatan Kedua: Sabar, hal ini seperti kata seorang penyair.

Sabar itu dari rasanya seperti namanya

Akan tetapi akibat akhirnya lebih manis daripada madu

Dia melihat bahwa hal ini sesuatu yang berat akan tetapi dia berusaha memikulnya, sedangkan dia tidak suka hal itu terjadi, akan tetapi keimanannya menjaganya dari marah. Baginya terjadinya dan tidak adanya tidaklah sama. Ini adalah wajib, karena Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan untuk bersabar. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46) سورة الأنفال.

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 16).

Tingkatan Ketiga: Ridlo, yaitu manusia itu ridlo dengan musibah, ada musibah atau tidak sama saja baginya. Adanya musibah tidaklah memberatkan dirinya, dia tidak memikulnya dengan berat. Ini adalah mustahab (=sunnah), tidak wajib, inilah pendapat yang rajih (=kuat, benar). Perbedaan tingkat ini dengan tingkat sebelumnya adalah jelas, karena adanya musibah atau tidak sama saja dalam keadaan ridlo baginya. Adapun manusia pada tingkat sebelumnya musibah itu sulit baginya akan tetapi dia bersabar.

Tingkatan Keempat: Syukur, ini adalah tingkat yang paling tinggi, karena ia bersyukur kepada Allah terhadap musibah yang menimpanya. Karena dia tahu bahwa musibah ini merupakan sebab ditutupnya kejelekan-kejelekannya dan barangkali untuk menambah kebaikan-kebaikannya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):”Tidak ada satu musibah yang menimpa seorang muslim kecuali Allah akan menutupi dosa dengannya meski sekedar duri yang menusuknya” (HR. Bukhori no. 5640; Muslim no. 2572).

Sumber: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, no. 64

 

Iklan

Komentar ditutup.