Pentingya Mempelajari Aqidah Yang Shohih

Posted: 7 - Agustus - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa, Nasehat

Bismilah

 

 

PENTINGNYA MEMPELAJARI AQIDAH YANG SHOHIH

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala

 

 

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:”Bagaimana pandangan anda terhadap orang yang tidak senang belajar ilmu aqidah khususnya masalah taqdir karena takut tergelincir?”

Jawab: Masalah ini seperti masalah-masalah penting lainnya yang manusia harus memilikinya dalam urusan agama dan dunianya.

Orang yang tidak mempunyai ilmu harus menanyakan hal-hal yang belum jelas dan minta pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla untuk memahami yang benar dan mengerti tentangnya hingga persoalannya jelas baginya. Karena dia tidak boleh berada dalam keraguan dalam masalah yang penting ini. Adapun masalah-masalah yang bila dia tangguhkan tidak merusak agamanya dan tidak menjadi sebab penyimpangan, maka hal ini tidak apa-apa dia tangguhkan selama yang lain lebih penting. Sedangkan masalah-masalah taqdir termasuk persoalan penting yang wajib direalisasikan oleh seorang hamba secara sempurna sehingga dia mencapai keyakinan akan hal itu.

Hal tersebut pada hakikatnya tidaklah sulit. Yang membuat berat pelajaran-pelajaran aqidah bagi sebagian orang –sangat disayangkan sekali- adalah mereka menekankan “sisi bagaimana” daripada sisi “untuk apa/mengapa”. Manusia akan ditanya tentang amalnya dengan dua pertanyaan ini “mengapa/untuk apa” dan “bagaimana”. Pertanyaan: Bagaimana kamu mengerjakan ini, adalah tentang mutaba’ah (=mengikuti) Rasul shalallahu ‘alahi wa sallam. Mayoritas manusia sekarang ini sibuk merealisasikan sisi “bagaimana” dan lengah/melalaikan sisi “untuk apa”. Oleh karena itu dalam masalah keikhlasan banyak yang tidak bersih. Sedangkan dalam masalah mutaba’ah sangat antusias pada persoalan-persoalan paling rumit.

Manusia pada saat sekarang ini banyak memperhatikan sisi ini, lalai dari sisi yang lebih urgent yaitu sisi aqidah, keikhlasan dan sisi tauhid. Oleh karena itu kamu dapati sebagian manusia dalam masalah-masalah dunia menanyakan hal yang sangat remeh sedangkan hatinya tertuju kepada dunia, lalai dari Allah secara mutlak, dalam hal jual belinya, kendaraan, tempat tinggal, dan pakaian. Sebagian orang sekarang telah menjadi penyembah dunia namun dia tidak merasa dan menyekutukan Allah dalam urusan dunia namun dia tidak merasa. Karena –sangat disayangkan- urusan tauhid dan aqidah tidak dia perhatikan. Hal ini bukan dari kalangan umum yang awam saja akan tetapi sebagian penuntut ilmu pun seperti itu.

Dan ini masalah yang berbahaya, sperti halnya pula berkosentrasi memfokuskan masalah aqidah saja tanpa amal yang dijadikan oleh Allah sebagai penjaga dan pagar; hal ini juga merupakan kesalahan. Karena kami mendengar dalam siaran-siaran dan kami membaca di tulisan-tulisan tentang pemfokusan bahwa agama adalah aqidah yang lurus dan ungkapan-ungkapan seperti itu. Pada hakikatnya hal ini dikhawatirkan akan menjadi pintu masuknya orang-orang yang menghalalkan sebagian hal-hal yang haram dengan alas an bahwa aqidahnya bersih. Namun, memperhatikan dua hal itu sekaligus bersama-sama agar jawaban atas pertanyaan “untuk apa” dan “bagaimana” lurus/benar.

Kesimpulannya, wajib atas seseorang untuk mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, agar dia berada di atas bashiroh tentang ilah dan sesembahannya Jalla wa Alla, di atas bashiroh tentang nama-nama Allah, shifat-shifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, di atas bashiroh dalam masalah hukum-hukm kauniyah dan syar’iyah-Nya, di atas bashiroh tentang hikmah-hikmah-Nya, rahasia-rahasia syari’at dan ciptaan-ciptaan-Nya sehingga dirinya sendiri tidak sesat dan tidak menyesatkan orang lain. Ilmu Tauhid adalah ilmu yang sangat mulia, karena kemuliaan bahasannya. Oleh karena itu para ahli ilmu menyebutkan dengan nama al-fiqhul akbar. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين (رواه البخاري؛ مسلم).

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan, maka Dia akan memahamkannya tentang urusan agamanya” (HR. Bukhori no. 71; Muslim no. 1037).

Yang pertama masuk urusan agama dan paling utama adalah ilmu tauhid dan aqidah. Akan tetapi seseorang juga wajib memperhatikan bagaimana dia mengambil ilmu ini, dari sumber mana dia mempelajarinya. Pertama kali hendaknya dia mengambil dari ilmu ini yang bersih dan selamat dari syubhat, kemudian yang kedua; melihat bid’ah-bid’ah dan syubhat yang dihadapinya, agar dia dapat membantah dan menerangkannya ditinjau dari sisi aqidah yang jernih yang telah diambilnya. Hendaknya yang menjadi sumber yang dipelajarinya adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian perkataan para sahabat radhiallah anhum, lalu apa yang dikatakan oleh para imam setelah mereka dari kalangan tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka. Selanjutnya apa yang dikatakan oleh para ulama yang terpercaya ilmu dan amanahnya, khususnya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah dan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah, seluruh kaum muslimin dan para imamnya.

 

 

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arakanil Islam, soal no. 60.

Iklan

Komentar ditutup.