Hukum Berwisata Ke Nagara-negara Kafir

Posted: 4 - Agustus - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa, Nasehat

Bismilah

 

HUKUM BERWISATA KE NEGARA-NEGARA KAFIR

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Pengantar:

Berhubungan dengan artikel kami terdahulu (lihat HUKUM TINGGAL DI NEGARA KAFIR) dan sekaligus sebagai jawaban terhadap salah satu komentar yang masuk, berikut kami nukilkan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsamin rahimahullah tentang hukum berwisata ke negara-negara kafir. Di dalamnya terdapat juga jawaban tentang hukum belajar (tentang ilmu-ilmu) yang tidak ada di negeri Islam.

Soal: Apa hukumnya pergi bersafar ke negara-negara kafir? Dan apa hukumnya safar (ke nagara-negara kafir, pent) untuk berwisata?

Jawab: Bersafar ke nagara-negara orang kafir itu tidak boleh kecuali dengan tiga syarat, yaitu:

Pertama: Seharusnya orang itu mempunyai ilmu (ad-dien, pent) yang dapat menolak syubhat-syubhat yang ada.

Kedua: Hendaknya ia mempunyai kapasitas dien (iman) yang dapat menolak syahwat yang ada.

Ketiga: Hendaknya ia dibutuhkan disana.

Apabila syarat-syarat ini tidak terpenuhi,maka tidak boleh bersafar ke negara-negara kafir karena fitnah yang ada atau dikhawatirkan fitnahnya serta membuang-buang harta, karena dalam bepergian seseorang menghabiskan uang banyak.

Adapun jika ia bepergian ke Negara-negara kafir untuk keperluan pengobatan, atau belajar suatu ilmu yang tidak didapati di negerinya (baca: Negara-negara Islam,pent) dan ia memiliki ilmu dan ad-dien yang telah kami sebutkan kreterianya, maka hal yang demikian tidak mengapa.

Sedangkan bersafar untuk wisata ke Negara-negara kafir, ini tidak punya kepentingan, masih memungkinkan baginya untuk pergi ke Negara-negara muslim yang penduduknya masih menjaga syiar-syiar Islam. Dan Alhamdulillah, Negara kita sekarang ada beberapa tempat yang jadi tempat untuk berwisata, yang kapan saja kita boleh berkunjung ke sana.

 

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 95.

Iklan
Komentar
  1. Abu Abdil Halim berkata:

    Sekedar menarik faidah.

    Syarat bolehnya bersafar ke negri kafir yang disebutkan oleh Syaikh Utsaimin rohimahullah di atas cukup menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Terutama menyangkut syarat pertama dan kedua yang sebenarnya sangat berkaitan erat. Bersafar ke negeri kafir tentu akan menyebabkan seorang muslim menghadapi begitu banyak fitnah. Dan fitnah itu sendiri ada yang berbentuk fitnah syubhat dan ada yang berbentuk fitnah syahwat. Sehingga untuk dapat selamat dari kedua jenis fitnah tersebut, tentu diperlukan ilmu/keyakinan sebagai penangkal fitnah syubhat, dan juga iman/kesabaran sebagai penangkal fitnah syahwat.

    Adapun syarat ketiga, maka dapat kita pahami bahwa maksudnya adalah “adanya kepentingan dalam safar ke negri kafir itu”. Kepentingan itu dapat berupa dibutuhkannya keberadaan muslim tersebut, misalnya untuk melakukan dakwah. Dapat juga berupa kepentingan berobat ataupun kepentingan mempelajari ilmu-ilmu yang tidak terdapat di negri-negri muslim.

    Walla-hul muwaffiq.

    Jazakallah khoiron katsiro.

  2. Zakki berkata:

    Maafkanlah saya yang masih kurang jelas dengan fatwa beliau. Yang pertama, adakah dalil quran dan sunnah terkait dengan 3 syarat yang beliau fatwakan? Yang kedua, di surat ali imran, saya tidak tahu ayatnya, sekitar ayat 135-140. Bukankah disitu disebutkan secara umum bahwa kita diperintahkan untuk bepergian di muka bumi ini? Mohon penjelasan lebih lanjut.

  3. Abu Abdil Halim berkata:

    Kutip: “adakah dalil quran dan sunnah terkait dengan 3 syarat yang beliau fatwakan?”

    Tanggapan: Kalau maksud dari pertanyaan di atas adalah ayat atau hadis yang secara eksplisit menerangkan tiga syarat bersafar ke negri kafir, maka jawabnya adalah tidak ada. Namun ayat atau hadis yang mengandung ajaran untuk menghindari fitnah (baik itu fitnah syubhat atau fitnah syahwat), ataupun yang mengandung ajaran untuk menghindari perbuatan sia-sia, tentu cukup banyak. Fiqh/pemahaman atas ayat dan hadis tersebut kemudian diterapkan oleh para Ulama (tidak hanya Syaikh Utsaimin rohimahullah dalam fatwa beliau di atas) dalam realitas partikular kehidupan nyata seorang muslim. Sehingga kemudian tersimpulkanlah beberapa butir syarat yang hendaknya dipenuhi dalam masalah-masalah tertentu.

    Kutip: “Bukankah disitu disebutkan secara umum bahwa kita diperintahkan untuk bepergian di muka bumi ini?”

    Tanggapan: Allah berfirman: “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [3:137]

    Yang disebutkan dalam ayat di atas tidak hanya perintah untuk bepergian di muka bumi, tapi juga perintah untuk memperhatikan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan para Rasul. Dengan demikian cukup jelas bahwa perintah yang Allah berikan tidak berhenti pada “berjalanlah kamu di muka bumi”. Kalau ayat tersebut diturunkan hanya untuk menerangkan ajaran agar manusia melakukan perjalanan, maka manusia manapun tidak akan membutuhkan pewahyuan ayat tersebut, sebab secara naluri, manusia mempunyai kecenderungan untuk berpindah tempat sebagaimana hewan. Petunjuk syar’iy yang terkandung dalam ayat tersebut justru terletak pada perintah “perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan para Rasul”. Perintah ini dapat dipandang sebagai salah satu tujuan berjalan di muka bumi. Masih ada sekian banyak tujuan lain yang dijelaskan dalam Quran ataupun Sunnah. Kalau ini dikaitkan dengan fatwa Syaikh rohimahullah, jelaslah hubungannya dengan syarat ketiga: “adanya kepentingan dalam safar ke negri kafir itu”.

    Sengaja agak diperlebar, untuk pengayaan pemahaman. Wallahul muwaffiq.

    Jazakumullah khoiron katsiro