Azab Kubur Bagi Orang Mukmin Yang Berbuat Maksiat

Posted: 11 - Juli - 2007 in Aqidah/Manhaj, Bantahan, Fatwa, Nasehat

 Bismilah

AZAB KUBUR

BAGI ORANG MUKMIN YANG BERBUAT MAKSIAT

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Soal: Apakah azab kubur terhadap orang mukmin yang berbuat maksiat dapat diringankan?

Jawab: Ya, kadang-kadang diringankan, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua kubur dan berkata:”Keduanya benar-benar sedang diazab, keduanya diazab karena hal yang besar, benar, dia itu hal yang besar. Salah satunya diazab karena tidak bersuci dari kencing” atau beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Tidak bertabir waktu kencing, dan yang lain diazab karena suka mengadu domba/membuat fitnah”. Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pelepah korma yang masih basah, lalu dibagi dua kemudian menancapkannya pada tiap kubur satu buah dan berkata:”Semoga azab keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering”.1)

Ini merupakan dalil bahwa terkadang azab kubur dapat diringankan, namun apa hubungan antara kedua pelepah korma yang basah itu dengan diringankannya dua orang yang sedang diazab ini?

1. Ada yang berpendapat bahwa kedua pelepah ini senantiasa bertasbih selama belum kering, sedangkan tasbih dapat meringankan azab bagi si mayit. Kesimpulan dari illat ini – yang terkadang meleset jauh – bahwasannya disunnahkan kepada manusia untuk pergi ke kuburan dan bertasbih di sisinya agar azabnya diringankan.

2. Sebagian ulama berkata: Penentuan seperti di atas adalah lemah karena dua pelepah itu tetap bertasbih baik dalam keadaan basah maupun kering. Allah Ta’ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (44) سورة الإسراء.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Isro: 44).

Pernah terdengarnya tasbihnya kerikil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, padahal kerikil ituckering, jadi apa illatnya?

Illatnya adalah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengharap kepada Allah Azza wa Jalla azab kedua orang ini diringankan selama dua pelepah korma itu masih basah, artinya bahwa tempo waktunya tidak panjang, dan hal itu dalam rangka untuk memberi peringatan akan perbuatan kedua orang tadi karena perbuatan mereka berdua itu persoalan besar, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat, “benar, bahwa hal itu urusan besar”. Orang pertama tidak bersuci dari kencing, dan bila tidak bersuci dari kencing berarti ia sholat dalam keadaan tidak bersuci. Sedangkan orang yang kedua benyak memfitnah/mengadu domba yang merusak hubungan antara hamba-hamba Allah –aku berlindung kepada Allah- serta melemparkan di antara mereka api permusuhan dan kebencian dan hal ini adalah persoalan besar. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran,bahwa hal itu merupakan syafa’at sementara sebagai peringatan untuk umat bukan merupakan kebakhilan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi syafa’at selamanya.

Beralih dari pembicaraan, kami katakana: Bahwa sebagian ulama –semoga Allah memaafkan mereka- mengatakan: Disunnahkan agar manusia meletakkan pelepah basah atau pohon atau semacamnya di atas kuburan agar azabnya diringankan, akan tetapi kesimpulan ini jauh sekali dan tidak boleh kita melakukan hal itu karena beberapa alas an:

Pertama: Kita tidak tahu bahwa orang tersebut sedang diazab, berbeda halnya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua: Jika kita melakukan hal itu kita telah berbuat buruk terhadap mayit itu karena telah punya dugaan jelek kepadanya bahwa ia sadang diazab, siapa tahu ia sedang diberi nikmat. Siapa tahu mayit ini termasuk orang yang mendapat ampunan dari Allah sebelum matinya karena adanya satu dari sekian banyak sebab ampunan, lalu dia mati dan Rabb para hamba telah memaafkannya, dan saat itu dia tidak berhak mendapatkan azab.

Ketiga: Kesimpulan ini menyelisihi pemahaman salafus sholih yang mereka itu merupakan manusia yang paling mengerti tentang syari’at Allah. Tidak ada seorangpun dari shahabat radhiallahu anhum yang mengerjakan hal itu, lalu apa urusannya kita melakukan hal itu?

Keempat: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membuka bagi kita amal yang lebih baik daripada hal itu. Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah usai penguburan mayit beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata:

استغفروا لأخيكم وسلوا له بالتشبيت فإنه الآن يسأل

“Mintakanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah untuknya keteguhan karena dia sekarang akan ditanya”2)

 

Catatan Kaki:

1) HR. Bukhori no. 1378; Muslim no. 292.

2) HR. Abu Dawud no. 3221.

 

Sumber: Majmu’ fatawa Arkanil Islam, soal no. 55

 

Iklan
Komentar
  1. Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Kepada saudaraku KANG TUTUR, kami harap anda tidak menggunakan avatar mankhluk hidup (misal: Manusia, hewan) karena kami lebih memilih pendapat yang mengHARAMKAN gambar secara mutlak. Kami luluskan komentar anda karena pada awalnya tidak ada GAMBAR tetapi kemudian anda memasang avatar, maka komentar anda kami hapus.

    Kami informasikan juga kepada pengunjung blog ini agar tidak menggunakan avatar dalam memberikan komentar. Jazakumullah khoiron katsiro.

    Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Kuwait, 27 Jumadits Tsani 1428 – 12 Juli 2007
    Akhukum fillah,
    Abu Muhammad Abdurrahman

  2. […] AZAB KUBUR BAGI ORANG MUKMIN YANG BERBUAT MAKSIATOleh:Asy-Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah Soal: Apakah azab kubur terhadap orang mukmin yang berbuat maksiat dapat diringankan?Jawab: Ya, kadang-kadang diringankan, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati dua kubur dan berkata:”Keduanya benar-benar sedang diazab, keduanya diazab karena hal yang besar, benar, dia itu hal yang besar. Salah satunya diazab karena tidak bersuci dari kencing” atau beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Tidak bertabir waktu kencing, dan yang lain diazab karena suka mengadu domba/membuat fitnah”. Kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pelepah korma yang masih basah, lalu dibagi dua kemudian menancapkannya pada tiap kubur satu buah dan berkata:”Semoga azab keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering”.1)Ini merupakan dalil bahwa terkadang azab kubur dapat diringankan, namun apa hubungan antara kedua pelepah korma yang basah itu dengan diringankannya dua orang yang sedang diazab ini?1. Ada yang berpendapat bahwa kedua pelepah ini senantiasa bertasbih selama belum kering, sedangkan tasbih dapat meringankan azab bagi si mayit. Kesimpulan dari illat ini – yang terkadang meleset jauh – bahwasannya disunnahkan kepada manusia untuk pergi ke kuburan dan bertasbih di sisinya agar azabnya diringankan.2. Sebagian ulama berkata: Penentuan seperti di atas adalah lemah karena dua pelepah itu tetap bertasbih baik dalam keadaan basah maupun kering. Allah Ta’ala berfirman:تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ وَلَكِن لاَّ تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا  (44) سورة الإسراء.“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Isro: 44).Pernah terdengarnya tasbihnya kerikil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, padahal kerikil ituckering, jadi apa illatnya?Illatnya adalah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengharap kepada Allah Azza wa Jalla azab kedua orang ini diringankan selama dua pelepah korma itu masih basah, artinya bahwa tempo waktunya tidak panjang, dan hal itu dalam rangka untuk memberi peringatan akan perbuatan kedua orang tadi karena perbuatan mereka berdua itu persoalan besar, sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat, “benar, bahwa hal itu urusan besar”. Orang pertama tidak bersuci dari kencing, dan bila tidak bersuci dari kencing berarti ia sholat dalam keadaan tidak bersuci. Sedangkan orang yang kedua benyak memfitnah/mengadu domba yang merusak hubungan antara hamba-hamba Allah –aku berlindung kepada Allah- serta melemparkan di antara mereka api permusuhan dan kebencian dan hal ini adalah persoalan besar. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran,bahwa hal itu merupakan syafa’at sementara sebagai peringatan untuk umat bukan merupakan kebakhilan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi syafa’at selamanya.Beralih dari pembicaraan, kami katakana: Bahwa sebagian ulama –semoga Allah memaafkan mereka- mengatakan: Disunnahkan agar manusia meletakkan pelepah basah atau pohon atau semacamnya di atas kuburan agar azabnya diringankan, akan tetapi kesimpulan ini jauh sekali dan tidak boleh kita melakukan hal itu karena beberapa alas an:Pertama: Kita tidak tahu bahwa orang tersebut sedang diazab, berbeda halnya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua: Jika kita melakukan hal itu kita telah berbuat buruk terhadap mayit itu karena telah punya dugaan jelek kepadanya bahwa ia sadang diazab, siapa tahu ia sedang diberi nikmat. Siapa tahu mayit ini termasuk orang yang mendapat ampunan dari Allah sebelum matinya karena adanya satu dari sekian banyak sebab ampunan, lalu dia mati dan Rabb para hamba telah memaafkannya, dan saat itu dia tidak berhak mendapatkan azab.Ketiga: Kesimpulan ini menyelisihi pemahaman salafus sholih yang mereka itu merupakan manusia yang paling mengerti tentang syari’at Allah. Tidak ada seorangpun dari shahabat radhiallahu anhum yang mengerjakan hal itu, lalu apa urusannya kita melakukan hal itu?Keempat: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membuka bagi kita amal yang lebih baik daripada hal itu. Bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah usai penguburan mayit beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata:استغفروا لأخيكم وسلوا له بالتشبيت فإنه الآن يسأل“Mintakanlah ampunan untuk saudaramu dan mintalah untuknya keteguhan karena dia sekarang akan ditanya”2) Catatan Kaki:1) HR. Bukhori no. 1378; Muslim no. 292.2) HR. Abu Dawud no. 3221. Sumber: Majmu’ fatawa Arkanil Islam, soal no. 55 https://abdurrahman.wordpress.com/2007/07/11/azab-kubur-bagi-orang-mukmin-yang-berbuat-maksiat/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s