Hukum Bergantung Kepada Sebab

Posted: 23 - Juni - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa, Nasehat

Bismilah

HUKUM BERGANTUNG KEPADA SEBAB

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Soal: Apakah hukum bergantung kepada sebab?

Jawab: Bergantung kepada sebab ada beberapa macam, yaitu:

Pertama: Hal yang dapat menghilangkan pokok tauhid, misal manusia bergantung kepada sesuatu yang tidak memberi pengaruh dan bersandar kepadanya secara total dengan berpaling dari Allah, seperti penyembah kubur yang bergantung kepada orang yang ada dalam kubur itu ketika terjadi musibah. Perbuatan ini adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan hukum pelakunya seperti apa yang diterangkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai berikut:

….إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ (72) سورة المائدة.

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al-Maidah: 72).

Kedua: Bersandar kepada sebab syar’I yang benar disertai dengan kelalaian terhadap yang menjadikan sebab (musabib) yaitu Allah Azza wa Jalla, ini termasuk jenis kesyirikan, akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam karena dia bersandar kepada sebab dan tidak melupakan musabab, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Ketiga: Bergantung kepada sebab semata-mata karena hal itu hanya sebab saja disertai dengan sikap dasarnya bersandar kepada Allah, yakni menyakini bahwa halini adalah sebab dari Allah, dan sesungguhnya jika Allah menghendaki dapat memutuskannya dan kalau menghendaki Ia dapat mengekalkannya. Dan bahwasannya sebab tidak mempunyai pengaruh terhadap masyiah (kehendak) Allah Azza wa Jalla. Hal seperti ini tidak menghilangkan tauhid baik pokoknya atau kesempurnaannya.

Bersama dengan adanya sebab syar’I yang benar, hendaknya manusia tidak menggantungkan dirinya kepada sebab, akan tetapi menggantungkan dirinya kepada Allah. Jadi orang yang bekerja menggantungkan hatinya kepada kedudukannya secara total disertai dengan sikap lalai terhadap musabib (=yang menimbulkan sebab) yaitu Allah, maka hal ini termasuk perbuatan syirik. Tetapi apabila ia berkeyakinan bahwa kedudukan adalah sebab sedangkan musabib adalah Allah Azza wa Jalla, maka hal ini tidak menghilangkan tawakal. Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sebab disertai dengan bersandar kepada musabib, yaitu Allah Azza wa Jalla.

 

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam,soal no. 24.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s