Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Dalam Masalah Khouf dan Raja’

Posted: 19 - Juni - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa, Nasehat

Bismilah

MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

DALAM MASALAH KHOUF DAN RAJA’


Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Soal: Bagaimanakah madzhab ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah raja’ (=berharap) dan khouf (=takut)?

Jawab: Ulama berbeda pendapat apakah manusia mendahulukan raja’ ataukah mendahulukan khouf menjadi beberapa pendapat.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:”Hendaknya khouf dan raja’nya sama, tidak dominant khouf dan tidak dominant raja’. Beliau berkata:”Manakala salah satu dari keduanya yang dominant maka hancurlah si pelakunya”. Karena bila dia menonjolkan raja’ maka manusia itu terjerumus dalam sikap meresa aman dari maker Allah, dan jika rasa khouf yang dominant maka dia akan terjerumus dalam sikap putus asa dari rahmat Allah Azza wa Jalla.

Sebagaimana ulama berkata:”Hendaknya menonjolkan rasa raja’ ketika melaksanakan keta’atan dan menonjolkan rasa khouf ketika ingin melaksanakan maksiat”. Karena apabila dia melaksanakan keta’atan maka dia wajib berprasangka baik, dengan lebih menonjolkan sikap raja’, yaitu qobul (=menerima) dan jika berkeinginan untuk berbuat maksiat hendaknya menonjolkan sikap khouf (takut) agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.

Sedangkan yang lain berkata:”Untuk yang sehat hendaknya menonjolkan sisi khouf sedangkan untuk yang sakit hendaknya menonjolkan sikap raja’ “. Karena yang sehat apabila menonjolkan sisi khouf akan menjauhi perbuatan maksiat dan yang sakit apabila menonjolkan sisi raja’ akan menemui sikap huznuzhon (=berbaik sangka).

Adapun menurut saya dalam masalah ini bahwa hal itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kondisi. Jika seseorang takut kalau dominant sisi khoufnya sehingga menyebabkan putus asa dari rahmat Allah, maka wajib baginya untuk menolak rasa putus asa itu dan menonjolkan sisi raja’, dan apabila khawatir jika menonjolkan sisi raja’ akan menyebabkan rasa aman dari makar Allah maka dia harus menolaknya dengan menonjolkan sisi khouf. Manusia pada hakikatnya adalah dokter bagi dirinya sendiri apabila hatinya hidup. Adapun pemilik hati yang mati yang tidak dapat mengobati hatinya dan tidak dapat melihat keadaan hatinya, maka dia tidak akan mementingkan permasalahan itu.

 

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 22.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s