Hukum Mengingkari Sesuatu Dari Nama-nama Dan Shifat-shifat Allah

Posted: 10 - Juni - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa

Bismilah

HUKUM MENGINGKARI

SESUATU DARI NAMA-NAMA DAN SHIFAT-SHIFAT ALLAH

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Ustaimin rahimahullah ditanya:“Apa hukum mengingkari sesuatu dari nama-nama dan shifat-shifat Allah Azza wa Jalla?”

Jawab: Ingkar itu ada dua macam, yaitu:

1. Ingkar takdzib (=pendustaan), ini merupakan kekufuran tanpa diragukan lagi. Kalau ada seseorang mengingkari salah satu nama dari nama-nama Allah dan satu shifat dari shifat-shifat Allah yang telah tsabit (=tetap) dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, seperti mengatakan:”Allah tidak mempunyai tangan, maka dia kafir menurut ijma’ (=kesepakatan) kaum muslimin, karena merupakan pendustaan berita Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam dan ini merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari millah (=agama Islam).

2. Ingkar takwil, yaitu tidak menolaknya (yakni tidak menolak nama-nama dan shifat-shifat Allah Azza wa Jalla, pent) akan tetapi menakwilkannya. Takwil ini ada dua macam, yaitu:

a. Takwil tersebat dapat ditolerir dalam bahasa Arab, maka hal ini tidak menjadikan kafir.

b. Takwil tersebut tidak dapat ditolerir secara bahasa Arab, maka hal ini menjadikan kafir, karena jika takwil tersebut tidak dibenarkan (secara bahasa Arab) maka dia merupakan bentuk kedustaan. Contohnya: Dia mengatakan Alah tidak memiliki tangan yang hakiki, dan tidak bermakna nikmat atau qudrah (=kekuatan), maka ini adalah kafir. Karena dia telah meniadakan secara mutlak, maka dia benar-benar seorang pendusta. Seandainya dia berkata tentang firman Allah Azza wa Jalla

“…بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ …”(64) سورة المائدة.

“…tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka…” (QS. Al-Maidah: 64).

Yang dimaksud kedua tangan-Nya adalah langit dan bumi, maka dia kafir, karena takwil tersebut tidak benar secara bahasa Arab dan tidak merupakan hakikat syari’at, jadi dia adalah orang yang ingkar lagi mendustakan.

Akan tetapi jika dia berkata yang dimaksud dengan tangan adalah nikmat atau kekuatan, maka dia tidak kafir, karena kata tangan secara bahasa digunakan untuk makna nikmat. Seorang penyair berkata;

Betapa banyak kegelapan malam disisimu mempunyai tangan

Berbicara bahwa Al-Manuwiyah berdusta

Tangan disini artinya nikmat, karena Al-Manuwiyah berkata, sesungguhnya kegelapan tidak mendatangkan kebaikan akan tetapi bicara keburukan.


Dinukil dari Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 39.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s