Hukum Wanita Mengendarai Mobil/Sepeda Motor

Posted: 7 - Juni - 2007 in Fatwa, Muslimah, Nasehat

Bismilah

HUKUM WANITA MENGENDARAI

MOBIL /SEPEDA MOTOR

Oleh:

Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri hafizahullah Ta’ala

 

Soal : Apa hukumnya seorang wanita mengendarai sepeda motor atau menyetir mobilnya sendirian yang tentunya kondisi yang demikian dapat menyingkap bentuk tubuhnya disebabkan terpaan angin yang mengenainya ketika mengendarainya?

Jawab :Benar, sesungguhnya hal-hal demikian akan dihadapi wanita tersebut -di saat menyetir mobilnya- berupa perkara-perkara baik kecelakaan atau sebagai bahan tontonan orang yang lewat atau di saat dia tidak mampu mengendarai kendaraannya dengan baik. Mereka sebagaimana perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaih wa aalihi wa sallam:

ناقصات الدين والعقل

“Kurang akal dan agamanya (yaitu wanita)”

Dan hal ini tidak diragukan lagi, sehingga terkadang apabila dihadapkan kepada wanita tersebut suatu peristiwa di jalan raya seperti tabrakan, dapat menyebabkan salah mengendalikan mobilnya yang dapat menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa yang lebih membahayakan kaum muslimin. Demikian pula pada mengendarai sepeda motor, sesungguhnya kondisinya lebih buruk lagi, yakni posisi yang kurang baik ketika mengendarainya. Oleh karena itu, kami nasihatkan untuk menjauhi hal yang demikian.

Karena terkadang menyeretnya untuk keluar ke tempat-tempat yang jauh. Padahal sepantasnya seorang wanita senantiasa berada di sekitar rumahnya dan tidak berhias seperti wanita-wanita jahiliyah berhias dahulu. Dan tidak keluar kecuali bersama mahramnya. Bahkan terkadang perjalanan yang dia tempuh termasuk kategori safar tanpa dia sadari. Karena perhitungan cepatnya laju kendaraan dalam keadaan safar tanpa mahram. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaih wa aalihi wa sallam berkata:

لاَ يحل للمرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر إلا مع ذي محرم

“Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berpergian melainkan beserta mahramnya” (Mutafaqun ‘alaihi dari Ibnu Umar, Abu Hurairah dan lainnya).

Contohnya adalah safar yang terjadi di negeri-negeri barat yang mereka lakukan dari Birmingham sampai ke London. Sesungguhnya yang demikian ini masuk kategori safar, dan kita telah melihat beberapa wanita muslimah menyetir mobilnya dengan jarak tempuh perjalanan yang jauh sampai ke tempat tersebut sendirian. Dan meninggalkan perkara ini lazim bagi mereka.

Sumber : http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=41


Iklan
Komentar
  1. Abu Aqil Al-Atsy berkata:

    Assalamu’alaikum akh, ana sedikit bingung ni.
    Gmana hukumnya bagi wanita yang berangkat/safar karena menunaikan haji namun tidak disertai Mahromnya. Apakah shah hajinya atau tidak ?

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Berikut adalah syarat-syarat untuk ibadah haji
    1. Muslim
    2. Berakal
    3. Baligh
    4. Merdeka
    5. Mampu
    6.Wajibnya Mahram bagi wanita. Karena tidak boleh bagi wanita mengadakan perjalanan (safar) untuk haji atau yang lainnya tanpa disertai mahram (Mulakhosh Fiqhiy 1/400, 403. Syaikh Sholih Fauzan).

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    لا تسافر المرأة إلا مع محرم…. البخاري 1862؛ مسلم 1341
    “Tidak boleh wanita pergi safar kecuali bersama mahram….” (HR. Bukhori 1862; Muslim 1341).

    Dan berdasar sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki yang mana ia telah mendaftarkan diri dalam peperangan ini dan ini tetapi istrinya ingin menunaikan haji, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan laki-laki ini untuk pergi bersama istrinya untuk berhaji (Dikeluarkan oleh: Bukhori 1862 dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu).

    Dalil-dalil di atas menerangkan diharamkannya wanita bepergian baik untuk haji atau selainnya tanpa disertai mahram (Mulakhosh Fiqhiy 1/404. Syaikh Sholih Fauzan).

    Apabila seorang wanita tidak memiliki mahram untuk pergi haji maka dianggap dia tidak mampu ( Fatawa Lajnah Daimah juz 11 hal:91 soal no. 4909).

    Allah Ta’ala berfirman:

    وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً (97) سورة آل عمران
    “…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah..” (QS. Ali-Imron: 97).Allah Ta’ala A’lam

    Kuwait, 23 Jumadil Awwal 1428 H/8 Juni 2007 M

  2. Abu Aqil Al-Atsy berkata:

    Di negeri kita, wanita2 yang berangkat haji mengangkat seorang pemimpin (biasanya dari DepAg) apakah ini bisa dijadikan pengganti mahrom ? Soalnya sewaktu ana menanyakannya kepada seorang ust.pengajian di masjid ana, dia menjawab demikian, sebagaimana boleh menggantikan wali dalam pernikahan dengan persetujuan wali ashlinya.

    Silakan lihat pembahasan dalam https://abdurrahman.wordpress.com/2007/06/13/kewajiban-mahram-bagi-wanita-yang-ingin-pergi-haji/#more-324. Barokallah fikum.

  3. Ummu 'Afifah berkata:

    Assalamu’alaikum
    ijinkan ana bertanya,
    yang dimaksud safar itu bagaimana?
    jazakollohu khoir

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh
    Safar secara bahasa adalah berpindahnya tempat tinggal/kedudukan seseorang (Lihat Syarh Mumtiq ‘ala Zaadul Mustaqni’, 4/347-348. Cet: Daar Ibn Al-Jauziy).Jarak perjalanan safar adalah sehari semalam perjalanan dengan mengendarai Onta.

    Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan batasan safar yang menyebabkan menjama’ dan mengqoshor sholat. Kami nukilkan pendapat-pendapat tersebut sbb:
    1. 80 ½ Km. (Lihat Kitabul Fiqh ‘Alal Madzahib Al-Arba’ah, hal: 267. Oleh: Abdurrahman bin Muhammad Al-Jazairiy. Cet: Daar Ibn Hazm).
    2. 80 Kilo 640 meter (Lihat Fathul Robbaniy 5/108).
    3. 82 Km (Taisir Al-‘Alam 1/273. Oleh Al-Basam)1)
    4.Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa tidak menentukan batasan safar, beliau rahimahullah menentukan menurut kebiasaan/adat daerah (Negara) tersebut. Hal ini dikarenakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan Khulafa’ Ar-Rosyidin mengqashr sholat ketika berada di Arofa dan Muzdalifah. Sedangkan Arofah termasuk bagian dari Makkah. Hal ini (qashr) sholat berlaku untuk ahli Makkah dan selain Ahli Makkah. Demikian pendapat yang shahih menurut Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah (24/10)2), Ibn ‘Utsaimin rahimahullah (Syarh Al-Mumti’ (4/351)3), dan Ibn Qudamah dalam Al-Mughniy.

    Kuwait, 14 Jumadits Tsani 1428 – 29 Juni 2007

    Catatan Kaki:
    1) Pendapat ke-2 dan ke-3 dinukil dari Kitab Syarh Al-Mumti’ ‘ala Zaadul Mustaqni’ (4/496). Oleh Syaikh Al-‘Utsaimin; Takhrij Ahadits: Dr. Sulaiman bin Abdillah bin Hamud dan Dr. Kholid bin ‘Ali. Penerbit: Muasasa Asam).
    2) Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah. Takhrij Ahadits: ‘Amir Al-Jazar dan Anwar Al-Baaz.Penerbit:Daarul Wafa).
    3) Syarh Al-Mumriq ‘ala Zaadul Mustaqni’. Penerbit: Daar Ibn Al-Jauziy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s