Mewaspadai Pendapatan Yang Haram

Posted: 27 - Mei - 2007 in Aqidah/Manhaj, Nasehat

Bismilah

MEWASPADAI PENDAPATAN YANG HARAM

Oleh:

Al-Ustadz Ja’far Sholih hafizahullah

 

Hadirin sidang Jum’at yang berbahagia

Allah Subhanahu Wa Ta’aala telah berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS. Al Maidah: 92)

Dan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم واختلافهم على أنبياءهم

“Segala yang telah aku larang jauhilah oleh kalian dan segala yang telah aku perintahkan kerjakanlah semampunya, karena yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya mereka bertanya dan kedurhakaan mereka kepada nabi-nabi mereka”.

Hadirin yang berbahagia,

Telah benar riwayatnya dari Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda,

لعن الله الراشي والمرتشي والرائش

“Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap dan perantara di antara mereka berdua”. (HR Ahmad dan At-Thabrani)

Maka di antara perkara yang diharamkan di dalam Islam, dan datang peringatan yang keras terhadap pelakunya adalah: menyuap dan menerima suap serta orang yang membantu mereka dengan menjadi perantara.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Rahimahullah menerangkan, bahwa risywah (suap menyuap) adalah memberikan sesuatu harta atau selain harta apakah kepada pegawai pemerintahan atau kepada selain mereka seperti perusahaan swasta dengan balasan dipenuhi urusannya, yang sebenarnya wajib bagi mereka memenuhi urusan orang itu tanpa pemberian apa-apa. Dan menjadi semakin haram apabila yang dia berikan itu dengan tujuan menjadikan yang benar itu salah dan yang salah itu benar, dalam rangka mendzalimi seseorang.

Hadirin sekalian

Dari hadits di atas diketahui bahwa perbuatan suap menyuap adalah termasuk di antara dosa-dosa besar, karena Allah Subhanahu Wa Ta’aala melaknat pelakunya. Dan laknat adalah mengusir seseorang dari rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Sebagaimana menerima suap adalah di antara bentuk memakan harta yang haram, dan Allah Subhanahu Wa Ta’aala telah mencela orang-orang Yahudi dari perbuatan seperti ini,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

 “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram”. (Qs. Al Maidah: 42)

 Pada ayat yang lain Allah Subhanahu Wa Ta’aala berfirman,

 وَتَرَى كَثِيرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu”. (QS. Al Maidah: 62)

 فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللّهِ كَثِيرًاوَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS. An-Nisaa’: 160-161)

Dan telah datang peringatan yang keras dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari perbuatan memakan harta yang haram, di antaranya yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda,

 كل لحم أنبتت من سحت فالنار أولى به. قيل: وما الست؟ قال: الرشوة في الحكم

“Setiap daging yang ditumbuhkan dari suht maka nerakalah yang paling pantas untuknya”. Para shahabat bertanya: apa itu suht? Beliau menjawab, “Suap menyuap dalam hukum”.

Dan Al Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

 ما من قوم يظهر فيهم الربا إلا أخذوا بالسنة، وما من قوم يظهر فيهم الرشا إلا أخذوا بالرعب

“Tidak satu pun kaum yang merebak pada mereka perbuatan riba kecuali Allah timpakan kepada mereka kekeringan, dan tidak satu pun kaum yang merebak pada mereka suap menyuap kecuali Allah timpakan kepada mereka ketakutan”.

Dan di antara akibat memakan yang haram, Allah Subhanahu Wa Ta’aala menolak doa seseorang. Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda di dalam haditsnya yang shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu riwayat Muslim,

إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين قال تعالى (( يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا )) وقال تعالى (( يا أيها الذين أمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم )) ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يارب يارب، ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له

“Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang dia perintahkan kepada para rasul, Allah berfirman ((Wahai sekalian rasul makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih)) dan Allah berfirman ((Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari yang baik-baik yang dirizkikan kepada kalian)). Kemudian (Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) mengisahkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh hingga rambutnya kusut dan badannya berdebu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan menyeru: Wahai Rabb, Wahai Rabb. Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dibersarkan dengan barang yang haram, bagaimana doanya bisa dikabulkan”.

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’aala telah melarang orang-orang yang beriman dari saling memakan harta di antara mereka pada ayat-Nya,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa’: 29)

——————————-

Kaum muslimin sekalian

Bertakwalah kepada Allah dan hati-hatilah dari kemurkaan-Nya dan menghindarlah dari sebab-sebab kemarahan-Nya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’aala sangat cemburu apabila larangannya dilanggar. Dan telah datang riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda,

لا أحد أغير من الله

“Tidak seorang pun lebih cemburu daripada Allah”.

Hindarilah diri-diri kalian dan keluarga kalian harta yang haram dan makanan yang haram, sebagai jalan keselamatan untuk kalian dan mereka dari neraka yang Allah jadikan sebagai tempat paling pantas untuk daging yang tumbuh dari barang yang haram. Dan diriwayatkan oleh Al Imam At-Thabrani dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, ia berkata, “Dibacakan di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam firman Allah Subhanahu Wa Ta’aala,

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al Baqarah: 168)

 Maka bangkitlah ketika itu Sa’d bin Abi Waqqash seraya dia berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku orang yang doanya dikabulkan”. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

 يا سعد، أطب مطعمك تكن مستجاب الدعوة، والذي نفسي بيده إن العبد ليقذف اللقمة الحرام في جوفه ما يقبل الله منه عملا أربعين يوما وأيما عبد نبت لحمه من سحت فالنار أولى به

“Wahai Sa’d, makanlah yang baik-baik jadilah engkau orang yang dikabulkan doanya. Dan sungguh demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya seorang hamba benar-benar meletakkan satu suapan haram ke dalam perutnya, Allah tidak terima amalannya selama empat puluh hari. Dan hamba manapun dagingnya tumbuh dari yang haram maka nerakalah yang paling pantas untuknya”.

Kaum muslimin yang berbahagia

Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’aala telah mengajak kalian untuk menjaga diri-diri kalian dan keluarga kalian dari jilatan api neraka dan menyeru kalian kepada jalan keselamatan dari adzabnya yang pedih, Allah Subhanahu Wa Ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. Tahrim: 6)

Maka sambutlah seruan-Nya, taatilah perintah-Nya, jauhilah larangan-Nya dan berhati-hatilah dari sebab-sebab kemurkaan-Nya, sehingga kamu berbahagia di dunia dan di akhirat,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al-Anfal: 24)

 

Sumber: http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=48

 

Iklan
Komentar
  1. Didik berkata:

    Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Sebagai PNS pasti korupsi, bisa korupsi uang atau jam kerja atau pekerjaan yang kalau dihitung dengan gaji sebulan ada selisih yang mungkin tidak berhak diterima (misalnya sehari 8 jam kerja, faktanya banyak istirahat di luar, atau pekerjaan sehari selesai menjadi dua tiga hari baru selesai?) Bagaimana solusinya sesuai ajaran Salafush Sholih?

  2. @ Akh Didik

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

    Allahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s