Petir Bagi Penyanjung Bid’ah Hasanah

Posted: 2 - Mei - 2007 in Aqidah/Manhaj, Bantahan, Fatwa

 Bismilah

PETIR BAGI PENYANJUNG BID’AH HASANAH

Oleh:

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

 

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang cara menyanggah ahlul bid’ah yang berhujjah dengan dalil:”Barangsiapa yang membuat suatu kebaikan dalam Islam…” dalam membenarkan kebid’ahan mereka?

Jawab: Kita menyanggah mereka dan kita katakan bahwa sesungguhnya orang yang telah bersabda:“Barangsiapa yang membuat kebaikan dalam Islam, maka ia mendapat pahala dari amalannya dan dari orang-orang yang mengikutinya”adalah juga orang yang telah bersabda:“Hendaknya kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Waspadalah terhadap perkara-perkara yang baru (dalam agama) karena setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat di Neraka”.

Atas dasar inilah, ada sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:“Barangsiapa yang berbuat kebaikan dalam Islam”.Kita harus memperhatikan asbabul wurudnya (=sebab-sebab turunnya hadits, pent). Sebab turunnya hadits ini adalah, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan BERSODAQOH untuk kaum yang tertimpa musibah, orang yang membutuhkan serta mereka yang faqir. Maka datanglah seorang laki-laki dengan membawa segenggam perak lalu diletakkannya di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa yang membuat suatu kebaikan dalam Islam, maka baginya pahala dari amalnya dan dari orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat”. Bila kita mengetahui penyebab adanya hadits ini lalu kita terapkan maknanya, maka menjadi jelas bahwa maksud membuat SUNNAH adalah membuat AMAL, bukan membuat syari’at. Karena membuat syari’at adalah hanya hak Allah dan Rasul-Nya. Dan hadits yang berbunyi “Barangsiapa yang membuat sunnah” maksudnya adalah MEMULAI AMALAN SUNNAH dan manusia mengikutinya, maka ia mendapatkan pahala dari amalannya dan juga dari orang yang ikut mengamalkannya. Inilah makna yang dimaksud dalam hadits itu dan juga makna dari hadits “Barangsiapa yang membuat suatu kebaikan” adalah BARANGSIAPA YANG MEMBUAT SUATU SARANA UNTUK IBADAH DAN MANUSIA MENGIKUTINYA, seperti mengarang kitab, mengklarifikasikan ilmu, membangun madrasah (sekolah) dan yang semacamnya. Ini semua adalah sarana yang dibutuhkan oleh syari’at.

Bila seseorang mengawali pembuatan sarana seperti ini, yang digunakan untuk kebutuhan syari’at, tidaklah terlarang dan hal itu termasuk dalam pengertian hadits di atas.

Jikalau makna dari hadits itu adalah BAHWA MANUSIA BOLEH MEMBUAT SYARI’AT MENURUT KEHENDAKNYA, berarti agama Islam ini belum sempurna dimasa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap manusia akan mempunyai syari’at dan manhaj sendiri. Bila mereka yang mengerjakan kebid’ahan menyangka bahwa ini adalah bid’ah hasanah maka sangkaan itu adalah salah, karena (sangkaan ini) mendustakan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu “setiap bid’ah adalah sesat.


Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 88

 

Iklan
Komentar
  1. sawiji berkata:

    setahu ana khalifah abu bakar assidiq tidak pernah memerintahkan shalat tarawih berjamaah di masjid, sedang Khalifah Umar bin Khattab memerintahkannya. Jika pengetahuan saya betul, mana yang bid’ah dari keduanya.
    Setahu ana, antum semua melarang/mengharamkan gambar manusia/binatang, lalu apa hukumnya orang yang menyimpan dan menggunakan gambar itu, seperti gambar manuasia/binatang dalam mata uang. khan banyak itu ktp, passport, kartu mahsiswa, SIM, apa antum ndak punya itu semua?
    apa alibi antum?

    Sesungguhnya sholat Tarawih secara berjama’ah telah disyari’atkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sholat Tarawih secara berjama’ah lebih utama dibandingkan dengan sholat Tarawih sendirian. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata:”Kami melakukan shaum bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam…..Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    ان الرجل إذا صلى مع الإمام حتى ينصرف حسب له قيام ليلة
    “Apabila seseorang melakukan sholat bersama imam sampai imam selesai, maka pahala baginya seperti sholat semalam penuh” (HR. Ashabul Sunan dan selainnya. Lihat dalam Shahih Abi Dawud no. 1245; Irwa’ul Gholil no. 447. Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah:“Hadits Shahih”. Lihat Risalah Qiyam Ramadhan, hal:8. Syaikh Al-Albani rahimahullah).

    Sedangkan sebab tidak dilakukannya secara berkesinambungan sholat Tarawih berjama’ah oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah KARENA KEKHAWIRAN BELIAU SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM AKAN DIWAJIBKANNYA SHOLAT INI. Hal ini sebagaimana apa yang diterangkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

    Kemudian mengenai apa yang dikatakan oleh sahabat Umar radhiallah ‘anhu dengan perkataannya:“Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”, maka makna bid’ah disana adalah bid’ah secara bahasa bukan makna bid’ah secara syar’i.

    Berikut penjelasan singkat tentang makna bid’ah.
    a. Bid’ah secara bahasa.
    Bid’ah secara bahasa maknanya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, seperti firman-Nya:
    قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنْ الرُّسُلِ ….(9) سورة الأحقاف
    “Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul…” (QS. Al-Ahqof:9). Artinya:”sesungguhnya engkau (ya Muhammad, pent) bukanlah rasul pertama yang diutus-Nya, akan tetapi telah ada banyak rasul yang di utus-Nya”.

    Juga firman-Nya:
    وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا …(27) سورة الحديد
    “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah….” (QS. Al-Hadid: 27).

    Dan firman-Nya:
    بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ ….(117) سورة البقرة
    “Allah Pencipta langit dan bumi…” (QS. Al-Baqoroh: 117). Artinya:”Allah menciptakan langit dan bumi yang tidak ada sebelumnya”. (Lihat pembahasan tentang ini dalam kitab Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, jilid: 1, hal: 89. Oleh Syaikh Doktor Ibrohim Ar-Ruhailiy hafizahullah).

    b. Bid’ah secara syar’i.
    Pengertian bid’ah secara syar’I para ulama berbeda dalam pelafadannya, namun memiliki makna yang sama dan hal ini memiliki faedah untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

    Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah:”Bid’ah dalam agama adalah:’Apa-apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu apa-apa yang tidak diperintahkan olehnya baik itu wajib atau istihab (sunnah, pent)…” (Majmu’ Fatawa, jilid: 4, hal: 107-108).

    Berkata Ibn Rajab rahimahullah:”Bid’ah adalah apa-apa yang baru yang mana hal itu (bid’ah, pent) tidak memiliki dalil secara syar’I dan apabila hal itu memiliki dalil secara syar’I maka hal itu tidaklah disebut bid’ah secara syar’I akan tetapi bid’ah secara bahasa” (Jami’ul Ulum Wal Hikam, hal: 267. Oleh: Ibn Rajab rahimahullah).

    Dengan demikian jelaslah bahwa apa yang dikatakan oleh sahabat ‘Umar radhiallahu ‘anhu bukanlah makna bid’ah secara syar’I tetapi makna bid’ah secara bahasa dan hal ini tidaklah diharamkan dalam agama ini, apatah lagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sholat tarawih secara jama’ah. Allahu A’lam.

    Kuwait, 18 Robi’ul Tsani 1428 – 5 Mei 2007

  2. sawiji berkata:

    Dan hadits yang berbunyi “Barangsiapa yang membuat sunnah” maksudnya adalah MEMULAI AMALAN SUNNAH dan manusia mengikutinya, maka ia mendapatkan pahala dari amalannya dan juga dari orang yang ikut mengamalkannya. Inilah makna yang dimaksud dalam hadits itu dan juga makna dari hadits “Barangsiapa yang membuat suatu kebaikan” adalah BARANGSIAPA YANG MEMBUAT SUATU SARANA UNTUK IBADAH DAN MANUSIA MENGIKUTINYA, seperti mengarang kitab, mengklarifikasikan ilmu, membangun madrasah (sekolah) dan yang semacamnya. Ini semua adalah sarana yang dibutuhkan oleh syari’at.

    Bila seseorang mengawali pembuatan sarana seperti ini, yang digunakan untuk kebutuhan syari’at, tidaklah terlarang dan hal itu termasuk dalam pengertian hadits di atas.
    ———
    dan yang namanya madrasah yang seperti sekarang, dengan kurikulum, dengan evaluasi dengan membayar SPP tidak pernah ada di jaman rasul, alias bid’ah.

    Berikut kami ketengahkan kaidah-kaidah yang menerangkan suatu perbuatan dikatakan bid’ah atau bukan.
    1. Al-Makan, yakni tempat dilakukan. Maksudnya, apabila suatu amal memerlukan tempat khusu untuk melakukannya, maka harus didatangkan dalil yang mengatur amalan tersebut. Jika tidak ada dalil, maka amalan tersebut termasuk bid’ah.
    2. Al-Zaman
    , yakni waktu dilakukan. Maksudnya, Apabila suatu amalan dilakukan diwaktu-waktu tertentu, maka harus didatangkan dalil atasnya.
    3. Al-Kaifiyat, yakni tata cara. Maksudnya, tata cara pelaksanaan amalan tersebut, seperti tata urutannya, cara-cara melakukannya dll.
    4. Al-Jins
    , yakni jenis amalan tersebut. Misal, berkurban. Dalam berkurban jenis binatang yang disyari’atkan adalah kambing, unta, dan sapi. Lalu apabila ada orang yang melakukan qurban dengan binatang selain yang disebutkan di atas, misal ayam, maka ia mesti mendatangkan dalil atasnya.
    6. Al-Sabab, yakni sebab dilakukannya amalan tersebut. Misal, membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah akan tetapi apabila ada sebab lain, misal karena memperingati hari kelahiran, ia membaca (mengkhatamkan) Al-Qur’an hingga tiga kali. Maka dengan demikian sebab dilakukannya amalan tersebut tidak disyari’atkan.
    7. Al-Qadar
    , yakni jumlah bilangan amalan tersebut. Misalnya, berzikir. Berzikir dengan lafaz SUBHANALLAH sebanyak 3000 kali setiap hari, maka jumlah bilangan tersebut harus mendantangkan dalil atasnya. (Lihat Al-Bid’ah lii Kamalis Syara’. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah).

    Kuwait, 18 Robi’ul Tsani 1428 – 5 Mei 2007

  3. yanu berkata:

    Artikel yg bagus,

    btw apakah judul dari Artikel aslinya “PETIR BAGI PENYANJUNG BID’AH HASANAH”

    Jazakallah khoironkatsiro. Dalam kitab aslinya tidak demikian, dalam kitabnya hanya tertulis judul pertanyaan-pertanyaan saja. Judul ini kami berikan sendiri dengan mengacu pada isi fatwa. Barakallah fiik.

  4. Al Faqiir adamlf berkata:

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    ًWa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

    Artikel yang cukup baik dan Perlu di telaah dengan cermat.

    Akhi Abdurrahman, ana kadang2 bingung dengan kita yang berpegang kepada Salafusshalih.. Mengapa Hal2 yang sifatnya Klasik dan sudah ada sejak zaman dulu di angkat kembali bahkan saat ini jadi Sorotan Utama. Contohnya perkara Bid’ah…

    Kami jawab dengan perkataan Sufyan Ats-Tsauri sbb:
    البدعة أحب إلى إبليس من المعصية. المعصية يثاب منها, والبدعة لا يثاب منها
    “Ahli bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada pelaku maksiat. Pelaku maksiat masih dapat diharapkan untuk bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah tidak mungkin diharapkan untuk bertaubat” (Talbis Iblis, hal: 26. Ibnul Jauzi rahimahullah)

    ‘Ulama sudah jelas2 berbeda pendapat.. bukankan kita harus menghormati hal itu, dan juga orang2 yang mengikuti ijtihad mereka (dalam pemahaman masalah Bid’ah).
    Kita semua sudah Faham bahwa yang membagi Bid’ah menajdi 2 adalah Imam Syafi’i Rah. Sebagaimana di riwayatkan secara Shahih dari dua muridnya yang terkenal pada zaman akhir kehidupan beliau yaitu ; Pakar Hadith Mesir, Harmala ibn Yahya
    al-Tujaybi Rahimahullah. dan al-Rabi’ ibn Sualyman al-Muradi Rahimahullah. ;

    Harmala Rah, menyebut : “Aku mendengar Imam al-Shafi’i Rah, berkata : “Bid’ah itu dua jenis (al-bid’atu bid’atan)”

    “Bid’ah yang di puji (bid’ah mahmudah) dan bid’ah yang buruk/keji (bid’ah mazmumah). Apa yang selaras dengan Sunnah itu di puji (mahmudah) dan apa yang bertentangan itu buruk/keji (mazmumah).”

    Beliau menggunakan dalil dari kenyataan Saidina ‘Umar ibn al-Khattab ra kepada jamaah yang mengerjakan Shalat Tarawih di bulan Ramadhan dengan katanya ; “Alangkan cantiknya bid’ah ini.”(1)

    (1) – Diriwayatkan dari Harmala oleh Abu Nu’aym dgn sanad dari Abu Bakr al-Ajurri dalam Hilyat al-Awliya’ dan di nukil oleh Abu Shama dalam al-Ba’ith ‘ala Inkar al-Bida’ wal Hawadith (edisi Riyadh 1990. hal.93), Ibn Rajab dalam al-‘Ulum wal-Hikam ,Ibn Hajar dalam Fath al-Bari (edisi 1959, 13:253) , al-Turtushi dlm al-Hawadith wa al-Bida’ (hal. 158-159), dan al-Shawkani, al-Qawl al-Mufid fi Adillat al-Ijtihad wa al-Taqlid (edisi 1347/1929 hal.36). Adapun Riwayat dari Saidina ‘Umar disebut oleh Imam Malik dalam al-Muwatta dan al-Bukhari dalam Shahih Bukhari.

    Al-Rabi’ juga meriwayatkan kenyataan yang sama bahwa Imam Al-Shafi’i berkata kepada kami :

    ‘Perkara baru yang di ada-adakan itu dua jenis (al-muhdathatu min al-umuri darban):

    Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan al-Qur;an atau Sunnah atau athar Sahabat atau ijma’ apra ‘ulama. Maka bid’ah itu adalah sesat (Fahadzihi al-bid’atu dhalalah).

    Kedua, ialah perkara baru yang di adakan dari segala kebaikan (ma uhditha min al-Khayr) yang tidak bertentangan dengan mana-manapun di atas, dan ini bukan bid’ah yang sesat/keji (wahadzihi muhdathatun ghayru madmumah). ‘Umar ra berkata terhadap Shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan : “Alangkah cantiknya/baiknya bid’ah ini!” bermaksud bahwa ‘PERKARA BARU’ yang di ada-adakan yang belum ada sebelum ini, tetapi hal itu tidak bertentangan dengan perkara di atas (Al-Qur’an, Sunnah, athar Sahabat dan Ijma’).(2)

    (2) – Diriwayatkan dari al-Rabi oleh al-Bayhaqi di dalam Madkhal dan Manaqib al-Shafi’i (1:469), dengan sanad Shahih sebagaimana yang di sahkan oleh Imam Ibn Taymiyah Rah. dalam Dar Ta ‘Arud al-Aql wa al-Naql (hal.171) dan melalui al-Bayhaqi oleh Ibn ‘Asakir dalam Tabyin Kadhib al-Muftari (edisi Kawthari, hal.97). Dinukilkan oleh al-Dhahabi dalam Siyar (8:408), Ibn Rajab dalam Jami’ al-Ulum wal Hikam dan Hafidz Ibn Hajar Rah. dalam Fath al-Bari’ (1959 ed. 13:253)

    Oleh karena itu, Imam Shafi’i telah meletakkan suatu kriteria asas, yang perlu di gunakan dalam menjatuhkan hukum terhadap sesuatu “Perkara Baru”.

    Belum lagi Definisi yang kurang lebih senada dari ‘Ulama2 berikut ini ;

    1. Imam Ghazali Rah.(Ihya ‘Ulum al-Din 1:276 )
    2. Qadi Abu Bakr ibn al-‘Arabi al-Maliki ( Ibn al-‘Arabi, Aridat al-Ahwadhi (10:146-147)
    3. Ibn al-Athir al-Jazairi (al-Nihaya, 1:79 )

    Kami jawab sbb:
    1. Allah Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً (59) سورة النساء
    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa’: 59)
    Maka setelah kita merujuk kepada sumber kedua hukum Islam, nyatalah bahwa tidak ada yang namanya BID’AH HASANAH. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
    كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار
    “Setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka”
    2. Kami tidak menemukan perkataan Al-Imam Syafi’I tersebut di atas dalam kitab-kitab beliau rahimahullah semisal Al-Umm dan Ar-Risalah. Bahkan yang kami temukan dalam kitab beliau rahimahullah adalah sebaliknya. Berikut kami nukilkan perkataan Al-Imam Syafi’iy dalam kitab beliau Al-Umm dan Ar-Risalah.
    Berkata Al-Imam Syafi’iy rahimahullah:
    “من إستحسن فقد شرع”
    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu, maka ia telah membuat syari’at” (Dinukil dari Majmu’ Masail, jilid: 2 Karya: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah. Lihat juga dalam kaset Silsilah Huda wan Nuur, kaset pertama menit ke-5 detik ke 27-28. Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah).
    Kemudian berkata Imam Asy-Syafi’iy dalam kitabnya Ar-Risalah ketika menerangkan makna kalimat di atas:
    و هذا يدل على أنه ليس لأحد دون رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بالإستدلال…
    “Hal ini merupakan dalil (petunjuk) bahwasannya tidak ada seorangpun selain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (menyatakan baik sesuatu, pent) kecuali berdasarkan dalil-dalil…” (Ar-Risalah, hal: 25 riwayat ke-70. Oleh Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. Lihat juga Kitab Al-Umm, karya Imam As-Syafi’iy juga).
    Artinya apabila kita menganggap peringatan Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kebaikan, misalnya. Maka tentunya kita telah membuat suatu syari’at baru dalam agama ini dan tentunya kita semua mengatahui bahwa yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah Azza wa Jalla.
    3. Perkataan Imam Asy-Syafi’iy: Kedua, ialah perkara baru yang di adakan dari segala kebaikan (ma uhditha min al-Khayr) yang tidak bertentangan dengan mana-manapun di atas, dan ini bukan bid’ah yang sesat/keji (wahadzihi muhdathatun ghayru madmumah). ‘Umar ra berkata terhadap Shalat Tarawih berjamaah di bulan Ramadhan : “Alangkah cantiknya/baiknya bid’ah ini!” bermaksud bahwa ‘PERKARA BARU’ yang di ada-adakan yang belum ada sebelum ini, tetapi hal itu tidak bertentangan dengan perkara di atas (Al-Qur’an, Sunnah, athar Sahabat dan Ijma’).
    Kami jawab sbb:
    Berkata Ibn Rajab ketika mendefinisikan bid’ah secara Syar’i:
    ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يدل عليه, و أما ما كان أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا و إن كان بدعة لغة
    “Bid’ah adalah apa-apa yang baru yang mana hal itu (bid’ah, pent) tidak memiliki dalil secara syar’I dan apabila hal itu memiliki dalil secara syar’I maka hal itu tidaklah disebut bid’ah secara syar’I akan tetapi bid’ah secara bahasa” (Jami’ul Ulum Wal Hikam, hal: 267. Oleh: Ibn Rajab rahimahullah)
    Dan kita semua mengetahui bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan sholat tarawih secara berjama’ah kemudian ia shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya dikarenakan takut bahwa hal itu (sholat tarawih) diwajibkan bagi mereka.
    Jadi apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syafi’I di atas bukanlah disebut bid’ah secara syar’I akan tetapi bid’ah secara bahasa. Kita ketahui bahwa makna bid’ah secara syar’I adalah:”Apa-apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu apa-apa yang tidak diperintahkan olehnya baik itu wajib atau istihab (sunnah, pent) dengan tujuan untuk mendekatkan diri/taqarub kepada-Nya”.

    Sampai kepada Bid;ah yang di bagi menjadi 5 (Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh & Haram) yaitu ;

    1. Imam al-Izz Ibn ‘Abdul Salam Rahimahullah (al-Qawa’id al-Kubra, 2:337-339)

    Belum lagi dukungan ‘Ulama lain terhadap Klasifikasi Imam al-Izz Rahimahullah ;

    a. Imam Nawawi Rahimahullah (Tahdhib al-Asma’ wal-Lughat (3:20-22)
    b. Imam Al Hafidz Ibnu Hajar (Fath, al-Bari (cetakan 1959 5:156-157 = cetakan 1989 4:318)

    Akhi masih banyak lagi… adapun saya cukupkan di sini.

    Nah apakah kita lalu berstatement bahwa meerka itu salah ??? orang yang mengikuti ijtihad mereka adalah Ahlul Bid’ah ???

    Inilah yang kita mesti mentelaah lagi, begitupun juga dengan pendapat ulama2 yang lain yaitu ; Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah
    Nah dengan adanya keterangan ini.. apakah Antum dan Ikhwah Salafy lainnya masih mau “Memperselisihkan” ?????….

    Semoga Allah SWT memberikan Kita semua Sifat yang Baik dan Akhlaq sebagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam, Para Sahabat Ra dan ‘Ulama2 Salafusshalih, khususnya dalam pendalaman mereka dalam agama. Juga semoga dengan hal ini kita bisa mempererat Ukhuwah, dan tidak terpecah belah hanya karena permasalahan yang mana ‘Ulama berbeda – beda dalam memahaminya.

    Walaahu Tabaraka Wata’allam.
    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Untuk masalah pembagian bid’ah menjadi seperti hukum Syari’ah, maka kami harap anda dapat menuliskan/menterjemahkan keseluruhan apa yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut di atas dan insyaAllah kami akan menanggapinya kemudian.Allahu A’lam bish Showab

    Kuwait, 24 Robi’ul Tsani 1428 – 11 Mei 2007

  5. kadud berkata:

    kalo tulisan al Quran seperti sekarang ini yang bisa dibaca semua muslim.. Apakah bisa dibilang bidah nggak… kan pada jama rasulullah, quran yang ada tidak ada kharakatnya, tidak ada titik-titiknya….
    jangan berstandard ganda lho..

    Berikut kami ketengahkan kaidah-kaidah yang menerangkan suatu perbuatan dikatakan bid’ah atau bukan.
    1. Al-Makan, yakni tempat dilakukan. Maksudnya, apabila suatu amal memerlukan tempat khusu untuk melakukannya, maka harus didatangkan dalil yang mengatur amalan tersebut. Jika tidak ada dalil, maka amalan tersebut termasuk bid’ah.
    2. Al-Zaman, yakni waktu dilakukan. Maksudnya, Apabila suatu amalan dilakukan diwaktu-waktu tertentu, maka harus didatangkan dalil atasnya.
    3. Al-Kaifiyat, yakni tata cara. Maksudnya, tata cara pelaksanaan amalan tersebut, seperti tata urutannya, cara-cara melakukannya dll.
    4. Al-Jins, yakni jenis amalan tersebut. Misal, berkurban. Dalam berkurban jenis binatang yang disyari’atkan adalah kambing, unta, dan sapi. Lalu apabila ada orang yang melakukan qurban dengan binatang selain yang disebutkan di atas, misal ayam, maka ia mesti mendatangkan dalil atasnya.
    5. Al-Sabab, yakni sebab dilakukannya amalan tersebut. Misal, membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah akan tetapi apabila ada sebab lain, misal karena memperingati hari kelahiran, ia membaca (mengkhatamkan) Al-Qur’an hingga tiga kali. Maka dengan demikian sebab dilakukannya amalan tersebut tidak disyari’atkan.
    6. Al-Qadar, yakni jumlah bilangan amalan tersebut. Misalnya, berzikir. Berzikir dengan lafaz SUBHANALLAH sebanyak 3000 kali setiap hari, maka jumlah bilangan tersebut harus mendantangkan dalil atasnya. (Lihat Al-Bid’ah lii Kamalis Syara’. Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah).

    Kuwait, 28 Rabi’ul Tsani 1428 – 15 Mei 2007

  6. cinta Rasulullah berkata:

    BID’AH
    I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
    Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yg membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yg tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal-hal yg baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yg tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat : “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM..dst, “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”, maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yg baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
    Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yg bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa-apa yg sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw : “Barangsiapa yg membuat buat hal baru yg berupa keburukan…dst”, inilah yg disebut Bid’ah Dhalalah. Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yg baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal yg ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yg buruk (Bid’ah dhalalah).
    Mengenai pendapat yg mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yg dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
    II. Siapakah yg pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yg mereka itu para Huffadh (yg hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yg tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
    Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yg baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, ada yg tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yg memulainya.
    Kita perhatikan hadits yg dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yg membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yg berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yg mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati-hatilah dengan hal-hal yg baru, sungguh semua yg Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).
    Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yg baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yg baru, yg tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
    Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik-baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu. Demikian pula hal yg dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
    Siapakah yg salah dan tertuduh?, siapakah yg lebih mengerti larangan Bid’ah?, adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah?
    III. Bid’ah Dhalalah
    Jelaslah sudah bahwa mereka yg menolak bid’ah hasanah inilah yg termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin, nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yg merupakan Bid’ah dhalalah, hal yg telah diperingatkan oleh Rasul saw.
    Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
    Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah. Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
    Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam ? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi, jelaslah sudah sabda Rasul saw yg telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yg berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yg berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
    Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an, sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.
    Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yg tak diperbuat oleh Rasulullah saw??, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra) meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
    Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yg kumuliakan, hati yg jernih menerima hal-hal baru yg baik adalah hati yg sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yg dijernihkan Allah swt, DAN CURIGALAH PADA DIRIMU BILA KAU TEMUKAN DIRIMU MENGINGKARI HAL INI, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yg maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
    Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

    Alhamdulillah syubhat-syubhat di atas telah kami terangkan dalam dua tulisan dalam blog kami
    1.https://abdurrahman.wordpress.com/2007/05/02/petir-bagi-penyanjung-bidah-hasanah/#more-269
    2.https://abdurrahman.wordpress.com/2007/05/08/pengertian-bidah-macam-serta-hukumnya/#more-273
    Barokallah fiik.

    Kuwait, 20 Jumadil Ula 1428H – 05 Juni 2007 M

  7. Abu Luqman berkata:

    Assalamu’alaikum..
    Kaifa Halukum?
    Alhamdulilah, juga ada di:
    http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=127
    # barokallohu fiikum #

    ًWa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

    Alhamdulillah kabar kami baik. Jazakallah khoiron katsiro atas informasinya, semoga Al-Akh CINTA RASULULLAH dan orang-orang yang sefaham dengannya dapat mengambil pelajaran dari artikel-artikel tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s