NASEHAT SYAIKH RABI’ UNTUK PENGELOLA SITUS SALAFY

Posted: 9 - April - 2007 in Nasehat

NASEHAT SYAIKH RABI’ BIN HADI AL-MADKHOLIY

UNTUK PENGELOLA SITUS SALAFY

Oleh: Asy-Syaikh Doktor Robi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkholiy hafizahullah

Alhamdulillah. Semoga shalawat dan sallam atas Rasulullah, keluarganya, para shahabat nya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.

Adapun sesudahnya,

Sungguh jihad yang paling utama adalah jihadnya para nabi dan Rasul yang mulia, yaitu jihad dengan hujjah dan burhan (dalil) dalam dakwah, mengikhlaskan ibadah untuk Allah, membantah semua jenis kesyirikan dan kesesatan, dan membantah syubhat-syubhat dan mematahkan syahwat-syahwat yang dijajakan oleh musuh-musuh para nabi dan Rasul, yang sangat keras permusuhannya, yang menentang tauhid dan kebenaran yang dibawa para Rasul kepada mereka. Padahal kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat berada di atas tauhid dan kebenaran, demikian pula keselamatan dan bebasnya dari murka Allah, penderitaan, dan kebinasaan di dunia dan akhirat adalah dengan mereka.

Kemudian jihadnya para pewaris mereka, baik dari para shahabat yang mulia, para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, para ulama tauhid dan ulama Sunnah yang mengibarkan panji-panji tauhid dan Sunnah dalam menghadapi orang-orang yang durhaka, ahlul fitnah, ahli kesesatan, yang mengibarkan panji-panji kebathilan. Mereka menuntun ‘buih’ dan ‘orang-orang rendahan yang mengikuti setiap orang yang berteriak’ menuju medan-medan kebinasaan, kehinaan, dan kehancuran di dunia dan akhirat.

Ahlul haq sengaja untuk menghadapi mereka ini dalam setiap tempat dan masa dengan mengangkat bendera al-haq sebagai pertolongan kepada Allah, agama-Nya, kitab-Nya, dan Rasul-Nya, sebagai nasehat bagi umat. Ahlul haq itu tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela dengan mewujudkan firman Allah ta’ala:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar.” (At-Taubah: 71)

Dan sabda Rasul yang mulia:

لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم حتى يأتي أمر الله تعالى

“Akan ada satu golongan umatku yang terus-menerus nampak di atas al-haq, qrang-orang yang merendahkan mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai datang perintah Allah ta’ala.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Dari nash-nash ini dan yang semisalnya, para Salafus Shaleh beranjak dalam medan yang agung ini, mereka mengikuti jejak langkah para Rasul yang mulia dalam berdakwah kepada tauhid, al-haq, ats-tsabat (kokoh) dan at-tatsbit (berupaya kokoh) di atasnya, dengan mengetahui secara sempurna bahwa itu adalah dakwahnya para Rasul yang mulia. Karena itu Al-Imam Yahya bin Yahya rahimahullah berkata:

الذب عن السنة أفضل من الضرب على السيوف

“Membela As-Sunnah lebih utama dari pada menyabetkan pedang.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

الراد على أهل البدع مجاهد

“Orang yang membantah ahlul bid’ah adalah seorang mujahid.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan menyampaikan Sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummat lebih utama daripada melemparkan anak-anak panah ke leher musuh. Karena melempar anak panah dapat dilakukan oleh banyak orang, sedangkan menyampaikan Sunnah-sunnah Rasulullah, tidak ditunaikan kecuali oleh pewaris-pewaris para nabi, pengganti-pengganti mereka pada ummat-ummat mereka. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara mereka dengan anugerah-Nya dan keutamaan-Nya.

Sesungguhnya aku hanyalah seorang yang lemah yang mengerahkan kesungguhanku yang rendah dan lemah dalam berdakwah kepada manhaj ini, yaitu manhaj para nabi dan pengganti-pengganti mereka yang berdiri di atas dua cahaya yang agung -Al-Kitab dan As-Sunnah – dengan pemahaman Salaful Ummah (pendahulu ummat), dan juga dalam membela As-Sunnah, para pengembannya dari para nabi dan para shahabat yang mulia, para imam As-Sunnah dan al-hadits. Membela orang-orang yang berpegang dengan manhaj ini secara umum baik dulu dan yang akan datang, menyanjung kedudukan-kedudukan mereka dalam banyak kitab, diantaranya:

Minhaj Al-Anbiya’ fii ad-da’wah ilallah fiihi al-hikmah wa al-‘aql

Minhaj ahli As-Sunnah wa al-jama’ah fii naqdi ar-rijal wa al-kutub wa ath-thowaif

Al-mahajjah al-baidho’ fii himayah As-Sunnah al-ghorro’ ‘an zaighi ahli al-ahwa’

Makanah ahli al-hadits

Dan kitab-kitab lain dalam membela manhaj ini beserta pengikutnya dan membantah kezalim an orang yang melampaui batas terhadap mereka dan berbuat jelek terhadap kedudukan mereka. Mereka menempuh Sunnahnya para ulama manhaj ini dalam hal itu dalam bentuk-bentuk menolak kezalim an dan perbuatan yang melampaui batas, dalam cara-cara berhujjah dan metode-metode pengambilan dalil. Angin badai ahlul bathil dan ahlul ahwa bertiup dengan membawa kedustaan-kedustaan yang zalim dan siaran-siaran jahiliyah murahan. Dimana dalam masalah itu, mereka menempuh jalan-jalan musuh-musuh Islam rendahan dengan menunggangi punggung berbagai macam pemberitaan yang paling jahat yang zalim.

Dengan hal itu mereka menghalangi orang yang mereka anggap ringan dari al-haq dan dari jalan pengenal al-haq. Sehingga al-haq menjadi sangat tersamar atas mereka. Mungkin ia tidak ada bandingannya. Sehingga mereka menggambarkan bagi orang-orang bahwa yang zalim itu sebagai orang yang dizalimi, dan orang yang dizalimi itu sebagai orang yang zalim, orang yang berdusta sebagai orang yang benar dan orang yang benar sebagai orang yang berdusta.

Dengan cara-cara ini, mereka menyeret orang-orang untuk bermuwalah (berkasih sayang) dengan ahlul bid’ah dan pengikut kesesatan, untuk membela mereka, untuk membela manhaj-manhaj mereka yang bathil, serta untuk membela mereka dengan pembelaan jahiliyah, dan untuk memerangi al-haq dan pengikut al-haq tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang memberi kejelasan.

Mereka membuat orang-orang itu melupakan manhaj Al-Kitab dan As-Sunnah dalam menempuh jalan al-haq dan mencela jalan kebodohan dan hawa nafsu serta jalan kesesatan dan kebinasaan. Allah menjelaskan jalan-jalan yang paling jelek dan paling buruk dalam menerima dan menyebarkan kabar-kabar dari orang-orang munafik dan Yahudi yang merupakan makhluk yang paling jelek dan dari musuh-musuh Allah, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا ءَامَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ ءَاخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Rasul, hendaknya kamu jangan disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi . (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah” Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah.” (Al-Maidah: 41)

Maka hati-hatilah wahai orang muslim, janganlah kamu menempuh jalan orang-orang itu dalam masalah mengambil berita-berita dusta dan menyebarkannya. Dan hati-hatilah kamu dari mengubah perkataan-perkataan dari tempatnya, dari memerangi al-haq dan tunduk kepada kebathilan-kebathilan dan kedustaan-kedustaan. Dan berlindunglah kepada Allah dari fitnah. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لتتبعن سنن من كان قبلكم شبراً بشبر وذراعاً بذراع، حتى لو دخلو جحر ضب تبعتموهم، قالوا : اليهود والنصارى ؟ قال: فمن ؟

“Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai kalau mereka masuk ke lubang Dhobb, kalian akan mengikuti mereka.” Para shahabat berkata: “Apakah mereka itu Yahudi dan Nashroni?” Beliau berkata: “Siapa lagi (kalau bukan mereka).” (Muttafaqun ‘alaih)

Yang menyedihkan, banyak pemuda kaum muslimin menempuh jalan-jalan ini melalui tangan-tangan setan-setan manusia dan jin yang menghasung mereka menuju jalan-jalan yang membinasakan. Kami memohon kepada Allah untuk menerima taubat mereka dan menunjuki mereka untuk menempuh jalan al-haq dan petunjuk, dan untuk menempuh jalan-jalan orang-orang yang dibimbing dan diberi petunjuk.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isro’: 36)

Allah juga menerangkan jalan-jalan para musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya dalam menghadapi al-haq dan pengikut al-haq dan dalam berpegang dengan kebathilan dan kesesatan:

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (An-Najm: 23)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث

“Hati-hatilah kalian dari persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu adalah pembicaraan yang paling dusta.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Betapa banyak persangkaan-persangkaan yang dusta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan dari kezaliman, beliau berkata:

اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة

“Takutlah kalian dari kezaliman, sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Al-Imam Muslim meriwayatkan hadits yang serupa dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Termasuk kezaliman yang paling buruk adalah sikap memerangi al-haq dan melanggar kehormatan-kehormatan pengikut al-haq.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الربا اثنان وسبعون باباً أدناها مثل إتيان الرجل أمه، وإن أربى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه

“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, riba yang paling rendah seperti seorang menzinai ibunya, dan termasuk riba yang paling buruk adalah sikap seseorang melampaui batas dalam kehormatan saudaranya.” (HR. Ath-Thabrani dari Al-Bara’ bin ‘Azib. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah telah menshahihkan dengan syahid-syahid dan mutabi’-mutabi’nya. Lihat hadits No. 1871)

Wajib seorang muslim untuk menjadi seorang yang mulia, wara’, membiasakan jujur sehingga dia termasuk golongan orang-orang shadiqin dan orang-orang mulia. Dan hendaklah dia berhati-hati dari pengikut kedustaan, orang-orang bodoh, ruwaibidhah, karena dia berada di masa kedustaan dan siaran-siaran kedustaan tersebar. Suatu masa yang orang-orangnya sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ash-Shadiqul Mashduq:

سيأتي على الناس سنوات خداعات، يصدق فيها الكاذب، ويكذب فيها الصادق ، ويؤتمن فيها الخائن، ويخون فيها الأمين، وينطق فيها الرويبضة، قيل وما الرويبضة؟ قال: الرجل التافه؛ يتكلم في أمر العامة

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh dengan tipu daya. Padanya orang pendusta dibenarkan, orang-orang yang benar didustakan, orang-orang yang khianat diberi amanat, dan orang-orang yang amanat dituduh khianat. Pada masa itu ruwaibidhoh-ruwaibidhoh akan berbicara.” Ditanyakan kepada Rasulullah: “Apakah Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Seorang yang pandir yang berbicara tentang urusan orang banyak.”

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk golongan mukminin shodiqin yang kokoh di atas al-haq dan petunjuk. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan doa. Dan semoga shalawat dan sallam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, pengikutnya, dan para shahabat nya.

—————————————————

 


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s