SUMPAH DALAM JUAL BELI; BOLEHKAH?

Posted: 31 - Maret - 2007 in Fatwa, Fiqih, Nasehat

SUMPAH DALAM JUAL BELI; BOLEHKAH?

Oleh: Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts, KSA.

 

 

1) Pertanyaan ke-1 dari fatwa no. 19637

Soal: Apakah boleh bersumpah dalam jual beli jika pelakunya seorang yang jujur?

Jawab: Sumpah dalam jual beli itu secara mutlak hukumnya makruh, baik pelakunya seorang pendusta maupun orang yang jujur. Jika pelakunya seorang yang suka berdusta dalam sumpahnya, maka sumpahnya menjadi makruh yang mengarah kepada haram, dosanya lebih besar dan adzabnya sangat pedih, dan itulah yang disebut sebagai sumpah dusta. Sumpah itu, jika menjadi satu sarana melariskan dagangan, maka ia akan menghilangkan berkah jual beli dan juga keuntungan. Hal tersebut ditunjukkan oleh apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata:”Aku pernah mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الحلف منفقة للسعة, ممحقة للبركة

“Sumpah itu dapat melariskan dagangan tetapi juga menjadi penghilang berkah”1)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahih milik keduanya. Dan lafadz di atas milik Bukhari. Silakan lihat kitab Fathul Bari IV/315. Dan juga didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat kelak, serta tidak dilihat oleh-Nya dan Dia tidak akan mensucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih”.

Beliau (Abu Dzar radhiallahu ‘amhu, pent) mengatakan:’Hal itu dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak tiga kali’. Abu Dzar mengatakan:’Mereka benar-benar gagal dan merugi, siapakah mereka ya Rasulullah?’. Beliaupun menjawab:“Pria yang memanjangkan pakaian di bawah mata kaki (musbil), orang yang menyebut-nyebut pemberian, serta orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya jili 1 halaman 102. Hal senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya.

Tetapi jika sumpah dalam jual beli itu dilakukan dengan penuh kejujuran, maka sumpahnya tetap makruh, tetapi makruh dalam pengertian tanzih karena yang demikian itu sebagai upaya melariskan dagangan sekaligus sebagai upaya mencari daya tarik pembeli dengan banyak mengumbar sumpah. Padahal Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلاً أُوْلَئِكَ لاَ خَلاَقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ وَلاَ يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (77) سورة آل عمران.

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak juga akan melihat mereka pada hari kiamat kelak serta tidak akan juga mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali-Imron: 77).

Juga didasrkan pada keumuman firman Allah Ta’ala:

وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ (89) سورة المائدة.

“Dan jagalah sumpah kalian….” (QS. Al-Maidah: 89).

Demikian juga dengan firman-Nya:

وَلاَ تَجْعَلُواْ اللّهَ عُرْضَةً لِّأَيْمَانِكُمْ (224) سورة البقرة.

“Janganlah kalian menjadikan nama Allah dalam sumpah kalian sebagai penghalang…” (QS. Al-Baqoroh: 224).

Juga didasarkan pada keumuman hadits yang diriwayatkan dari Abu Qotadah Al-Anshari As-Sulami dimana dia pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم وكثرة الحلف في البيع, فإنه ينفق ثم يمحق

“Hidarilah banyak bersumpah dalam jual beli, karena sesungguhnya sumpah itu dapat membuat laris tetapi kemudian melenyapkan”2).

Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahih-nya, Ahmad dalam Musnad-nya, An-Nasa’I, Ibn Majah, dan Abu Dawud.

Wabillahi Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Al-Lajnah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’.

Anggota : Bakr Abu Zaid

Anggota : Sholih Fauzan

Wakil Ketua : ‘Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh.

Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz.

2) Pertanyaan ke-27 dari fatwa no. 19637

Soal: Ada seorang yang mengatakan:’Barang ini dulu saya beli sekian’, padahal harga sebenarnya lebih rendah dari harga yang disebutkan itu. Hal tersebut dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak, bahkan ada juga diantara mereka yang mengucapkan sumpah untuk itu, lalu bagaimanakah hukumnya?

Jawab: Barangsiapa yang membeli suatu barang dagangan kemudian menawarkannya untuk dijual seraya berkata:’Barang ini dulu saya beli dengan harga sekian’, padahal ucapannya itu bohong, dengan tujuan mendapatkan keuntungan lebih dari barang yang dibelinya tersebut, berarti dia telah melakukan suatu perbuatan yang diharamkan dan terjerumus ke dalam lembah dosa. Dan sudah pasti berkah jual belinya akan dilenyapkan. Dan jika mengucapkan sumpah dalam hal tersebut, maka dosanya lebih besar dan siksaannya pun lebih pedih. Dengan demikian, dia masuk dalam ancaman yang disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahih-nya dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat kelak, serta tidak dilihat oleh-Nya dan Dia tidak akan mensucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih”.

Lalu kami bertanya:’Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?. Mereka itu benar-benar gagal lagi merugi. Beliau bersabda:

المنان, و المسبل إزاره, و المنفق سلعته بالحلف الكذب.

“Orang yang menyebut-nyebut pemberian, pria yang memanjangkan pakaiannya di bawah mata kaki (musbil), dan orang yang melariskan barang dagangan dengan sumpah palsu”.

At-Tirmidzi berkata:”Hadits Hasan Shahih”. Dan dalam sebuah riwayat lain disebutkan:“Dengan sumpah yang keji”. Serta apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain bahwa Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu dia berkata:’Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الحلف منفقة للسعة, ممحقة للبركة

“Sumpah itu dapat melariskan dagangan tetapi juga menjadi penghilang berkah”4)

Juga berdasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh Bukhari di dalam shahih-nya (IV/316) dari ‘Abdullah bin Abi ‘Aufa radhiallahu ‘anhu bahwasannya ada seseorang yang menawarkan suatu barang di pasar, lalu ia bersumpah atas nama Allah bahwa ia telah memberikan harga yang paling rendah yang belum pernah diberikan, agar ada seorang muslim yang terjebak, lalu turunlah ayat:

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلاً أُوْلَئِكَ لاَ خَلاَقَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ وَلاَ يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (77) سورة آل عمران.

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak juga akan melihat mereka pada hari kiamat kelak serta tidak akan juga mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih” (QS. Ali-Imron: 77)5).

Serta didasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka dari Abi Hurairaoh radhiallahu ‘anhu, dia berkata:’Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة, ولا ينظر إليهم, ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم, رجل على فضل ماء بطريق يمنع منه ابن السبيل, ورجل بايع رجلا-و في رواية:إماما- لا يبايعه إلا لدنيا, فإن أعطاه ما يريد وفي له, وإلا لم يف له, ورجل ساوم رجلا بسلعة بعد العصر, فحلف بالله لقد أعطى بها كذا وكذا فأخذها.

“Tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan dilihat dan disucikan oleh-Nya dan bagi mereka azab yang pedih pada hari kiamat; Seseorang yang mempunyai kelebihan air disebuah jalalan, dimana ia menghalangi para pejalan dari air tersebut, seseorang yang membai’at seseorang – dalam suatu riwayat- seorang imam yang dia tidak membai’atnya melainkan untuk kepentingan dunia, yang jika orang yang membai’atnya memberi apa yang ia inginkan, maka ia akan mentaatinya dan jika tidak maka dia tidak akan mentaatinya, serta seorang yang menawar barang dagangan orang lain setelah Ashar, lalu dia (penjual) berdumpah dengan menggunakan nama Allah bahwa dia benar-benar telah memperoleh barang tersebut sekian dan sekian, lalu diambillah oleh orang itu”6).

Wabillahi Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Al-Lajnah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’.

Anggota : Bakr Abu Zaid

Anggota : Sholih Fauzan

Wakil Ketua : ‘Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh.

Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz.

Catatan Kaki:

1) (HR. Ahmad II/235, 242, 413; Bukhari III/12; Muslim XI/44; Abu Dawud III/630 no. 3335; An-Nasa’I VII/346 no. 4461).

2) (HR. Ahmad V/297,298; Muslim XI/45 –Syarh Shahih Muslim-; An-Nasa’I VII/246 no. 4460; Ibn Majah II/745 no. 2209; Al-Baihaqi V/265).

3) Lafaz hadits ini milik At-Tirmidzi.

4) Telah lewat takhrij haditsnya, pent.

5) (HR. Bukhari III/12 dan 161; Ibn Abi Hatim dalam At-Tafsiir II/355 no. 823 –tahqiq Dr. Hikmat Bashir-).

6) (HR. Ahmad II/253 dan 480; Bukhari III/76 dan 160, VIII/124; Muslim I/103 no. 108; Abu Dawud III/749 dan 750 no. 3474ndan 3575; At-Tirmidzi IV/150-151 no. 1595: An-Nasa’I VII/247 no. 4462; Ibn Majah II/744 dan 958 no. 2207 dan 2870).

Sumber: Fatawa Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts, kitab Buyuu’ (Jilid I).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s