Fatwa-fatwa Ulama Ahlus Sunnah Tentang Jama’ah Tabligh

Posted: 25 - Maret - 2007 in Fatwa, Harokah

FATWA-FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH TENTANG JAMA’AH TABLIGH

Kita akan membawa beberapa fatwa (keputusan) para ulama tentang Firqah Tabligh, agar ummat mengerti bahwa kita menuduh mereka sesat bukan dari kita sendiri, tapi kita mengambilnya dari ucapan ulama kita yang mulia, semoga Allah mengampuni mereka yang telah wafat dan menjaga yang masih hidup. Perhatikan ucapan para ulama ini agar terbuka kekaburan yang selama ini menutupi mereka. Dan hendaklah bagi mereka yang masuk ke dalam kelompok ini segera keluar dan yang kagum segera sadar dan membenci, karena kematian itu datangnya tiba-tiba.

1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah

“Dari Muhammad bin Ibrahim kepada yang terhormat raja Khalid bin Su’ud.

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Wa ba’du:

Saya telah menerima surat Anda dengan no. 37/4/5/D di 21/1/82H. Yang berkaitan tentang permohonan untuk bekerja sama dengan kelompok yang menamakan dirinya dengan “Kulliyatud Da’wah wat Tabligh Al Islamiyyah.”

Maka saya katakan: Bahwa jama’ah ini tidak ada kebaikan padanya dan jama’ah ini adalah jama’ah yang sesat. Dan setelah membaca buku-buku yang dikirimkan, kami dapati di dalamnya berisi kesesatan dan bid’ah serta ajakan untuk beribadah kepada kubur dan kesyirikan. Perkara ini tidak boleh didiamkan. Oleh karena itu kami akan membantah kesesatan yang ada di dalamnya. Semoga Allah menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 29/1/82H.” (Al Qaulul Baligh hal. 29 dengan diringkas)

2. Syaikh Hummud At Tuwaijiri rahimahullah

“Adapun ucapan penanya: Apakah aku menasehatinya untuk ikut khuruj dengan orang-orang tabligh di dalam negeri ini (Saudi) atau di luar?

Maka saya jawab: Saya menasehati penanya dan yang lainnya yang ingin agamanya selamat dari noda-noda kesyirikan, ghuluw, bid’ah dan khurafat agar jangan bergabung dengan orang-orang Tabligh dan ikut khuruj bersama mereka. Apakah itu di Saudi atau di luar Saudi. Karena hukum yang paling ringan terhadap orang tabligh adalah: Mereka ahlul bid’ah, sesat dan bodoh dalam agama mereka serta pengamalannya. Maka orang-orang yang seperti ini keadaannya, tidak diragukan lagi bahwa menjauhi mereka adalah sikap yang selamat.

Sungguh sangat indah apa yang dikatakan seorang penyair:

Janganlah engkau berteman dengan teman yang bodoh.

Hati-hatilah engkau darinya.

Betapa banyak orang bodoh yang merusak seorang yang baik ketika berteman dengannya.” (Al Qaulul Baligh, syaikh Hummud At Tuwaijiri hal. 30)

3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani hafidhahullah

Pertanyaan: Di sini ada pertanyaan: Apa pendapat Anda tentang Jama’ah (firqah) Tabligh dan apakah ukuran khuruj ada terdapat dalam sunnah?

Jawab:Pertanyaan ini adalah pertanyaan penting. Dan aku memiliki jawaban yang ringkas, serta kalimat yang benar wajib untuk dikatakan. Yang saya yakini bahwa da’wah tabligh adalah: sufi gaya baru. Da’wah ini tidak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khuruj yang mereka lakukan dan yang mereka batasi dengan tiga hari dan empat puluh hari, serta mereka berusaha menguatkannya dengan berbagai nash, sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan nash secara mutlak. Sebenarnya cukup bagi kita untuk bersandar kepada salafus shalih. Penyandaran ini adalah penyandaran yang benar. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk tidak bersandar kepadanya. Bersandar kepada para salafus sholih, -wajib diketahui hakikat ini,- bukanlah seperti bersandar kepada seseorang yang dikatakan pemilik mazhab ini atau kepada seorang syaikh yang dikatakan bahwa dia pemilik tarikat ini atau kepada seseorang yang dikatakan bahwa dia pemilik jama’ah tertentu. Berintima’ (bergabung) kepada salaf adalah berintima’ kepada sesuatu yang ‘ishmah (terpelihara dari dosa). Dan berintima’ kepada selain mereka adalah berintima’ kepada yang tidak ‘ishmah. Firqah mereka itu –cukup bagi kita dengan berintima’ kepada salaf- bahwa mereka datang membawa sebuah tata tertib khuruj untuk tabligh (menyampaikan agama), menurut mereka. Itu tidak termasuk perbuatan salaf, bahkan bukan termasuk perbuatan khalaf, karena ini baru datang di masa kita dan tidak diketahui di masa yang panjang tadi. (Sejak zaman para salaf hingga para khalaf). Kemudian yang mengherankan, mereka mengatakan bahwa mereka khuruj (keluar) untuk bertabligh, padahal mereka mengakui sendiri bahwa mereka bukan orang yang pantas untuk memikul tugas tabligh (penyampaian agama) itu. Yang melakukan tabligh (penyampaian agama) adalah para ulama, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dengan mengutus utusan dari kalangan para sahabatnya yang terbaik yang tergolong ulama mereka dan fuqaha` mereka untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Beliau mengirim Ali sendirian, Abu Musa sendirian, dan Mu’adz sendirian. Tidak pernah beliau mengirim para sahabatnya dalam jumlah yang besar, padahal mereka sahabat. Karena mereka tidak memiliki ilmu seperti beberapa sahabat tadi. Maka apa yang kita katakan terhadap orang yang ilmunya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sahabat yang tidak dikirim Nabi, apa lagi dibanding dengan para sahabat yang alim seperti yang kita katakan tadi?! Sedangkan mereka (Firqah Tabligh) keluar berdakwah dengan jumlah puluhan, kadang-kadang ratusan. Dan ada di antara mereka yang tidak berilmu, bahkan bukan penuntut ilmu. Mereka hanya memiliki beberapa ilmu yang dicomot dari sana sini. Adapun yang lainnya, hanya orang awam saja. Di antara hikmah orang dulu ada yang berbunyi: Sesuatu yang kosong tidak akan bisa memberi. Apa yang mereka sampaikan kepada manusia, padahal mereka mengaku (jama’ah) Tabligh?

Kita menasehati mereka di Suriah dan Amman agar duduk dan tinggal di negeri mereka dan duduk mempelajari agama, khususnya mempelajari aqidah tauhid, -yang iman seorang mukmin tidak sah walau bagaimanapun shalihnya dia, banyak shalat dan puasanya-, kecuali setelah memperbaiki aqidahnya.

Kita menasehati mereka agar tinggal di negeri mereka dan membuat halaqah ilmu di sana serta mempelajari ilmu yang bermanfaat dari para ulama sebagai ganti khurujnya mereka ke sana kemari, yang kadang-kadang mereka pergi ke negeri kufur dan sesat yang di sana banyak keharaman, yang tidak samar bagi kita semua yang itu akan memberi bekas kepada orang yang berkunjung ke sana, khususnya bagi orang yang baru sekali berangkat ke sana. Di sana mereka melihat banyak fitnah, sedangkan mereka tidak memiliki senjata untuk melidungi diri dalam bentuk ilmu untuk menegakkan hujjah kepada orang, mereka akan menghadapi, khususnya penduduk negeri itu yang mereka ahli menggunakan bahasanya, sedangkan mereka (para tabligh) tidak mengerti tentang bahasa mereka.

Dan termasuk syarat tabligh adalah hendaknya si penyampai agama mengetahui bahasa kaum itu, sebagaimana diisyaratkan oleh Rabb kita ‘Azza wa Jalla dalam Al Qur`an:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

“Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dia menerangkan kepada mereka.” (Ibrahim: 4)

Maka bagaimana mereka bisa menyampaikan ilmu, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki ilmu?! Dan bagaimana mereka akan menyampaikan ilmu, sedangkan mereka tidak mengerti bahasa kaum itu?! Ini sebagai jawaban untuk pertanyaan ini. (Dari kaset Al Qaulul Baligh fir Radd ‘ala Firqatit Tabligh)

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz hafidhahullah

Pertanyaan:Semoga Allah merahmati Anda, ya syaikh. Kami mendengar tentang (firqah) tabligh dan dakwah yang mereka lakukan, apakah anda membolehkan saya untuk ikut serta dengan mereka? Saya mengharap bimbingan dan nasehat dari anda. Semoga Allah memberi pahala kepada anda.

Jawab:Siapa yang mengajak kepada Allah adalah muballigh, (sebagaimana Nabi bersabda –pent) “Sampaikan dariku walau satu ayat.” Adapun jama’ah (firqah) tabligh yang terkenal dari India itu, di dalamnya terdapat khurafat-khurafat, bid’ah-bid’ah dan kesyirikan-kesyirikan. Maka tidak boleh khuruj (keluar) bersama mereka. Kecuali kalau ada ulama yang ikut bersama mereka untuk mengajari mereka dan menyadarkan mereka, maka ini tidak mengapa. Tapi kalau untuk mendukung mereka, maka tidak boleh, karena mereka memiliki khurafat dan bid’ah. Dan orang alim yang keluar bersama mereka hendaknya menyadarkan dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)

Tanya:Para penuntut ilmu menanya kepada anda dan para ulama kibar (senior) lainnya tentang: Apakah anda menyetujui kalau mereka bergabung dengan kelompok yang ada seperti Ikhwan, Tabligh, kelompok Jihad dan yang lainnya atau anda menyuruh mereka untuk belajar bersama para da’i salaf yang mengajak kepada dakwah salafiyyah?

Jawab:Kita nasehati mereka semuanya untuk belajar bersama para thalabul ilmi lainnya dan berjalan di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita nasehati mereka semuanya agar tujuannya untuk mengikuti Al Kitab dan sunnah dan berjalan di atas jalan Ahlus sunnah wal Jama’ah. Dan hendaknya mereka menjadi ahlus sunnah atau para pengikut salafus shalih. Adapun berhizb dengan Ikhwanul Muslimin, Tablighi atau yang lainnya, maka tidak boleh. Ini keliru. Kita nasehati mereka agar menjadi satu jama’ah dan bernisbah kepada Ahlus sunnah wal jama’ah. Inilah jalan yang lurus untuk menyatukan langkah. Kalau ada berbagai nama sedangkan semuanya di atas satu jalan, dakwah salafiyyah, maka tidak mengapa, seperti yang ada di Shan’a dan yang lainnya, tapi yang penting tujuan dan jalan mereka satu. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)

5. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Ghudayyan hafidhahullah (anggota Hai’ah Kibarul Ulama`)

Pertanyaan:Kami berada di suatu kampung dan berdatangan kepada kami apa yang dinamakan dengan (firqah) Tabligh, apakah kami boleh ikut berjalan bersama mereka? Kami mohon penjelasannya.

Jawab:Jangan kalian ikut berjalan bersama mereka!! Tapi berjalanlah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!! (Dari kaset Al Qaulul Baligh)

6. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidhahullah

Pertanyaan:Syaikh, di sana ada kelompok-kelompok bid’ah, seperti Ikhwan dan Tabligh serta yang lainnya. Apakah kelompok ini termasuk Ahlus Sunnah? Dan apa nasehat anda tentang masalah ini?

Jawab:“Kelompok-kelompok ini… Telah diketahui bahwa yang selamat adalah yang seperti yang telah saya terangkan tadi, yaitu kalau sesuai dengan Rasulullah dan para sahabatnya, yang mana beliau berkata ketika ditanya tentang Al Firqatun Najiyah: Yang aku dan para sahabatku ada di atasnya. Firqah-firqah baru dan beraneka ragam ini, pertama kali: bid’ah. Karena lahirnya di abad 14. Sebelum abad 14 itu mereka tidak ada, masih di alam kematian. Dan dilahirkan di abad 14. Adapun manhaj yang lurus dan sirathal mustaqim, lahirnya atau asalnya adalah sejak diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka siapa yang mengikuti ini dialah yang selamat dan berhasil. Adapun yang meninggalkan berarti dia menyimpang. Firqah-firqah itu telah diketahui bahwa padanya ada kebenaran dan ada kesalahan, akan tetapi kesalahan-kesalahannya besar sekali, maka sangat dikhawatirkan.

Hendaknya mereka diberi semangat untuk mengikuti jama’ah yakni Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan yang berada di atas jalan salaf ummat ini serta yang menta’wil menurut apa yang datang dari Rasulullah bukan dengan yang datang dari si fulan dan fulan, menurut tarikat-tarikat yang ada di abad 14 H. Maka kedua kelompok yang tadi disinggung adanya hanya di abad 14 H. Mereka berpegang dan berjalan di atas jalan-jalan dan manhaj-manhaj itu. Mereka tidak berpegang dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan Sunnah, tapi dengan pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran dan manhaj-manhaj yang baru dan bid’ah yang mereka membangun jalan dan manhaj mereka di atasnya.

Dan yang paling jelas di kalangan mereka adalah: Wala` dan Bara`. Al Wala` wal Bara` di kalangan mereka adalah bagi yang masuk ke dalam kelompok mereka, misalnya Ikhwanul Muslimin, siapa yang masuk ke dalam kelompok mereka, maka dia menjadi teman mereka dan akan mereka cintai walaupun dia dari rafidlah, dan akhirnya dia menjadi saudara dan teman mereka.

Oleh karena ini mereka mengumpulkan siapa saja, termasuk orang rafidlah yang membenci sahabat dan tidak mengambil kebenaran dari sahabat. Kalau dia masuk ke dalam kelompok mereka, jadilah dia sebagai teman dan anggota mereka. Mereka membela apa yang dia bela dan membenci apa yang dia benci.

Adapun Tabligh, pada mereka terdapat perkara-perkara mungkar. Pertama: dia adalah manhaj yang bid’ah dan berasal dari Delhi (India –red) bukan dari Mekkah atau Madinah. Tapi dari Delhi di India. Yakni seperti telah diketahui bahwa di sana penuh dengan khurafat, bid’ah dan syirik walau di sana juga banyak Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti jama’ah ahlul hadits, yang mereka adalah sebaik-baik manusia di sana. Tetapi Tabligh ini keluar dari sana melalui buatan para pemimpin mereka yang ahli bid’ah dan tarekat sufi yang menyimpang dalam aqidah. Maka kelompok ini adalah kelompok bid’ah dan muhdats. Di antara mereka ada Sufi dan Asy’ari yang jelas-jelas bukan berada di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dalam aqidah dan manhaj. Dan yang selamat adalah orang yang mengikuti manhaj salaf dan yang berjalan di atas jalan mereka.” (Dari kaset Al Qaulul Baligh)

7. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah

“Saya tidak pernah khuruj dengan mereka (Firqah tabligh), tapi saya pergi untuk suatu keperluan, yakni ke Kashmir. Setelah selesai dari pekerjaan ini aku melewati Delhi. Maka ada yang mengatakan kepadaku: Mari kita singgah ke suatu tempat untuk dikunjungi, yaitu ke markas Tabligh yaitu di Nizamuddin. Nizamuddin ini adalah masjid yang dekat dengan markas jama’ah tabligh. Di dalamnya ada lima kubur yang diberi kubah. Yakni kuburan yang disembah, bukan menyembah kepada Allah. Ini ibadah yang jelas syirik. Maka kami melewati ‘monumen’ ini. Kemudian kami singgah ke markas tabligh. Orang-orang berselisih apakah di dalamnya ada kuburan atau tidak.

Maku Abdurrab bertanya, ini orang yang saya ceritakan tadi, apakah di dalam masjid Tabligh ini ada kuburan? Yang cerdas di kalangan mereka berkata: Tidak, di sini tidak ada kuburan! Kuburan Ilyas di Mekkah atau di tempat ini atau itu yang jauh. Maka dia terus bertanya hingga ada seseorang yang menunjukkan atau mengabarkan bahwa di sana ada kuburan Ilyas dan di sebelahnya kuburan istrinya.

Kemudian al Akh Abdurrab pergi ke kedua kuburan itu dan mencari-carinya setelah ketemu, dia datang kepada kami sambil berkata: Mari, saya tunjukkan kepada kalian dua kuburannya. Maka kami melihat, ini kuburan Ilyas dan ini kuburan istrinya yang keduanya ada di dalam masjid.

Kemudian setelah itu kami pastikan bahwa di dalamnya ada empat kuburan, bukan dua kuburan saja. Kami memastikannya melalui orang-orang yang dipercaya yang telah berjalan bersama Tabligh bertahun-tahun.

Tidak akan berkumpul masjid dan kuburan (di satu tempat) dalam agama Islam. Akan tetapi, mereka ini karena kesufiannya, kebodohannya terhadap manhaj dakwah para nabi, jauh darinya dan meremehkannya, mereka menguburkan para gurunya di masjid, padahal para ulama telah mengatakan: bahwa shalat di dalam masjid yang ada kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya tidak sah. Saya bertanya tentang hal ini kepada Syaikh Bin Bazz. Sebenarnya saya tahu tentang ini dan juga para Thalabul Ilmi bahwa shalat di dalam masjid yang ada satu kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya tidak sah. Maka saya tanyakan kepada Syaikh Bin Bazz, agar hadirin mendengar jawabannya. Saya katakan: Apa pendapat anda, syaikh, tentang masjid yang ada kuburan di dalamnya, apakah sah shalat di dalamnya? Beliau menjawab: Tidak! Saya katakan: Di dalamnya ada banyak kuburan? Beliau mengatakan: Terlebih lagi demikian! Saya katakan: Kuburannya bukan di kiblat masjid, tapi di sebelah kiri dan kanannya? Beliau menjawab: Demikian juga, tetap tidak sah.

Saya katakan kepada beliau bahwa masjid induk atau markas induk tabligh di dalamnya ada beberapa kuburan? Maka beliau menjawab: Tetap shalatnya tidak sah!

Sangat disayangkan sekali, kelompok ini bergerak di dunia, tetapi beginilah keadaannya; tidak mengajak kepada tauhid, tidak membasmi syirik dan tidak membasmi jalan-jalan menuju kesyirikan. Mereka terus berjalan dengan melewati beberapa kurun dan generasi tetap dengan dakwah seperti ini. Tidak mau berbicara tentang tauhid, memerangi kesyirikan dan tidak membolehkan bagi para pengikutnya untuk melaksanakan kewajiban ini. Ini adalah suatu hal yang telah diketahui di kalangan mereka.

Maka kita meminta kepada mereka agar kembali kepada Allah dan mempelajari manhaj dakwah para nabi, mereka juga jama’ah yang lainnya.

Mengapa demikian wahai saudara-saudara? Karena kalau ada yang berdakwah mengajak kepada shalat, orang akan berkata: Silahkan! Tidak ada yang melarang, mereka tidak akan khawatir. Akan tetapi coba kalau mengatakan: Berdo’a kepada selain Allah adalah perbuatan syirik! Membangun kuburan haram hukumnya! Menyembelih untuk selain Allah adalah syirik! Maka mereka akan marah.


Ada seorang pemuda yang berkhuthbah di suatu masjid tentang persatuan, akhlak, perekonomian, dekadensi moral, dan yang lainnya. Orang-orang semuanya, masya Allah, berkumpul dan mendengarkannya. Kita katakan kepadanya: Ya akhi… jazakallahu khairan, khuthbah anda sangat baik, tetapi orang-orang yang ada di hadapanmu ini tidak mengenal tentang tauhid, mereka terjatuh dalam kesyirikan dan bid’ah, maka terangkan kepada mereka tentang manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam! Maka ketika dia mulai berbicara, merekapun mulai bersungguh-sungguh. Ketika dia terus berbicara, merekapun semakin jengkel. Maka ketika yang ketiga kalinya ada sekelompok orang yang ada di masjid bangkit dan memukulinya! Maka dia datang kepadaku sambil menangis. Dia berkata: Aku habis bertengkar dengan mereka, mereka memukuliku! Maka aku katakan kepadanya: Sekarang engkau telah berjalan di atas manhaj dakwah para Nabi. Kalau engkau tetapi seperti dulu bertahun-tahun, engkau tidak akan berselisih dengan seorangpun. Dari sinilah kelompok yang ada ini bergerak, mereka memerangi bagian ini. Nabi bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاء ثُمَّ اْلأّمْثَل فَاْلأَمْثَل

“Seberat-berat manusia diberi cobaan adalah para Nabi, kemudian yang selanjutnya dan kemudian yang selanjutnya.”

Karena mereka menghadapi berbagai gangguan yang hanya Allah yang tahu tentang kerasnya gangguan itu ketika mereka berdakwah kepada tauhid dan membasmi kesyirikan. Dari sinilah para da’i yang mengajak kepada tauhid dan membasmi syirik malah disakiti. Kalau dakwah Ikhwan dan Tabligh disenangi manusia karena meremehkan sisi ini. Tapi kalau aku berkhuthbah di masjid seperti ini, sedikit sekali yang mau mendengarku dan menerima dakwahku, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Kalau aku berdakwah mengajak shalat, mereka akan berkata: silahkan. Tapi kalau aku berdakwah untuk bertauhid dan memerangi kesyirikan, semuanya akan lari dan merasa asing. Inilah dakwah para Nabi.

Inilah dasarnya mengapa mereka menjadi manusia yang paling banyak ganngguannya. Sekarang para salafiyyun, para da’i kepada tauhid keadaan mereka dikaburkan oleh manusia. Karena banyaknya fitnah, kebohongan-kebohongan dan tuduhan dusta yang ditujukan kepada mereka. Mengapa? Karena mereka mengajak untuk mentauhidkan Allah!

Kelompok ini tidak bisa masuk ke dalam lapangan ini, karena mereka takut kepada sisi ini. Tetapi mereka akan ditanya di hadapan Allah. Demi Allah, telah datang kepada kami seseorang atau segolongan Tabligh di Benares, di sebuah rumah yang saya tempati dengan syaikh Shalih Al Iraqi. Mereka berkata: Kami dengar kalian datang, kami sangat senang, maka kami datang mengunjungi kalian agar kalian ikut bersama kami berdakwah kepada Allah. Dan tempat kami adalah masjid ini. Maka kami juga gembira dan mendatangi masjid itu, ternyata masjid itu tempat tarikat Berelwian. Mereka adalah para penyembah berhala dan sangat keterlaluan dalam penyembahan itu.

Mereka meyakini bahwa para wali bisa mengetahui perkara yang ghaib dan mengatur alam. Mereka membolehkan untuk bernadzar, menyembelih, sujud dan ruku’ kepada kuburan. Singkat kata: mereka adalah golongan penyembah berhala. Maka Syaikh Shalih pergi dan bersama kami ada seorang penerjemah, namanya Abdul Alim, sekarang dia ada di Rabithah Al Alam Islami. Kami bawa orang ini untuk menerjemahkan ucapan syaikh. Maka syaikhpun berbicara. Setiap selesai berbicara beliau melihat kepada penerjemah agar diterjemahkan. Maka penerjemahpun akan bergerak, maka ternyata pemimpin tabligh melihat dan berkata: Tungguh, saya yang akan menerjemahkan. Maka syaikh terus berbicara, tapi tidak ada seorangpun yang menerjemahkan. Hingga ceramahnya selesai. Ketika selesai acara itu dia mengucap salam dan malah pergi. Maka kami tetapi di situ menunggu terjemah. Dia berkata: Saya ada keperluan, biar orang ini yang menerjemahkan. Maka kami shalat Isya’ sambil menunggu terjemahan ceramah itu, tapi tidak kunjung diterjemahkan. Maka saya temui lagi orang itu dan mengatakan: Ya akhi, kami datang ke tempat kalian ini bukan untuk main-main. Tapi kalian tadi meminta kepada kami untuk ikut serta bersama kalian berdakwah, maka kamipun datang menyambut ajakan kalian. Dan syaikh tadi telah berbicara. Ketika penerjemah akan menerjemah engkau malah melarangnya. Dan engkau menjanjikan akan menerjemahkannya, tapi engkau tidak lakukan sedikitpun. Maka dia berkata: Ya akhi, engkau tahu?! Masjid ini milik Khurafiyyin!! Kalau kita berbicara tentang tauhid, mereka akan mengusir kita dari masjid. Maka saya katakan: Ya akhi, apakah seperti ini dakwah para Nabi? Ya akhi, dakwah kalian sekarang menyebar di penjuru dunia. Kalian pergi ke Amerika, Iran dan Asia, kalian tidak dapati sedikitpun perlawanan selama-lamanya. Apakah seperti ini dakwah para Nabi? Semua manusia menerimanya dan menghormatinya? Dakwah para Nabi padanya ada pertempuran, darah, kesusahan-kesusahan dan lain-lain. Kalau engkau diusir dari suatu masjid, berdakwahlah di masjid lain atau di jalan-jalan atau di hotel-hotel. Katakan kalimat yang haq dan tinggalkan. Rasul saja diusir dari Mekkah karena sebab dakwah ini. Kemudian saya tanya sudah berapa lama dakwah ini berjalan? Dia berkata: Belum tiga puluh tahun. Saya katakan: Kalian telah menyebar di India, utara dan selatan. Dan engkau melihat fenomena kesyirikan di hadapanmu dan telah mati berjuta-juta orang. Sudah berapa juta orang yang mati selama itu dalam keadaan berada di atas kesesatan, kesyirikan dan bid’ah yang kalian sebarkan ini?! Dan engkau belum menerangkan hal itu kepada mereka! Apakah engkau tidak merasa kalau engkau akan ditanya di hadapan Allah karena engkau menyembunyikan kebenaran ini dan tidak menyampaikannya kepada para hamba Allah?! Diapun diam. Maka aku permisi dan keluar.

Mereka menyembunyikan kebenaran yang dinyatakan Al Qur`an. Dan mereka tidak menegakkan panji-panji tauhid dan tidak mau menyatakan peperangan kepada kesyirikan dan bid’ah. Mereka ini terkena ayat Allah:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ

“Sesungguhnya orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al Baqarah: 159).

Apa yang mereka dapati kalau mereka telah menyembunyikan kebenaran yang paling nyata?! Dan hal yang paling besar yang bukti-bukti itu berdiri di atasnya?! Bukti-bukti yang paling besar adalah ayat-ayat tauhid. Dakwah yang paling besar yang dilakukan para nabi dan Al Qur`an adalah tauhid. Dan yang paling jelek dan bahaya adalah syirik dan bid’ah. Al Qur`an dan Sunnah telah memeranginya. Kemudian mereka malah setuju dan bersama kesyirikan, bid’ah, dan para pendukungnya sampai mati. Berapa banyak orang yang mati di bawah panji ini dalam keadaan tidak tahu kebenaran tauhid selama itu?! Dan dalam keadaan tidak bisa membedakan antara tauhid dengan syirik?!

Kalau mereka tidak dihisab karena menyembunyikan ayat tauhid, maka siapa lagi yang dihisab?

Kita berharap kepada Allah agar menjadi orang yang menolong agama ini dan menasehati kaum muslimin. Dan agar Allah menjauhkan kita dari sifat menipu dalam agama, karena membiarkan bid’ah dan syirik adalah penipuan yang paling besar. Tidak ada penipuan yang bisa menyaingi penipuan ini. Kalau menipu manusia dalam perdagangan saja Rasulullah berlepas tangan, maka bagaimana lagi kalau menipu dalam agama? Bagaimana engkau bisa diam terhadap kesyirikan dan bid’ah?! Engkau merusak aqidah kaum muslimin dan masyarakat mereka. Kemudian engkau mengatakan: Kita semua kaum muslimin, bersaudara dan engkau tidak menerangkan mana yang haq dan mana yang batil?! Kita memohon kepada Allah agar Dia menjaga kita dari penyakit ini.” (Dari kaset Al Qaulul Baligh)

8. Syaikh Shalih bin Abdullah Al Abud hafidhahullah

Adapun tabligh… ketika Khilafah Utsmaniyyah runtuh bangkitlah firqah ini dengan pemikiran jama’ah ini, firqah tabligh. Dan mereka membuat dasar-dasar untuk para pengikutnya dengan nama “Ushulus Sittah” yang mereka dakwahkan manusia kepadanya. Dan di akhirnya mereka membai’at menurut empat macam tarekat sufi; Jistiyyah, Syahrawardiyyah, Naqsyabandiyah dan Matur… saya lupa yang keempat, yang jelas empat tarekat. Mereka dalam bidang aqidah adalah Maturidiyah atau Asy’ariyyah. Dan dalam pemahaman syahadat mereka, yaitu syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah. Mereka tidak memahami maknanya kecuali bahwa: Tidak ada yang Kuasa untuk Mencipta dan Mengadakan serta Membuat kecuali Allah. Dan dalam memahami makna Muhammad Rasulullah, (mereka tidak memahaminya seperti yang kita fahami, yaitu membenarkan apa yang beliau sampaikan, mentaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan peringatkan dan Allah tidak diibadahi kecuali dengan apa yang beliau syariatkan). Pemahaman ini tidak ada di kalangan jama’ah tabligh, bahkan kadang-kadang mereka mengkultuskan individu-individu tertentu dan menyatakan mereka memiliki ‘Ishmah (tidak akan salah). Dan sampai-sampai bila para syaikhnya mati, mereka bangun di atas kuburannya bangunan-bangunan dalam masjid. Tabligh adalah firqah, tanpa perlu diragukan lagi. Karena menyelisihi firqatun Najiyah. Mereka memiliki manhaj khusus. Yang tidak ikut ke dalamnya tidak dianggap sebagai orang yang mendapat hidayah. Tabligh membagi manusia menjadi: Muhtadi (orang yang mendapat hidayah) dan manusia yang masih diharapkan mendapat hidayah (tim penggembira saja –pent). Golongan Muhtadi adalah yang telah masuk keseluruhan dalam tandhim (keorganisasian) dan firqah mereka. Dan yang non Muhtadi, tidak termasuk golongan mereka walaupun dia imam kaum muslimin. Ini dalam pemahaman mereka.

Ikhwanul Muslimin juga demikian, yang termasuk tandhim mereka adalah Ikhwanul Muslimin dan yang tidak masuk, maka bukan Ikhwanul Muslimin walaupun orang itu adalah alim dalam Islam. Cukup sikap ta’ashshub ini menjadi dalil bahwa mereka telah mengeluarkan diri-diri mereka sendiri dari jama’ah kaum muslimin. Karena jama’ah kaum muslimin tidak menganggap bahwa hidayah hanya sampai kepada mereka saja. Dan manhaj mereka adalah manhaj yang paling luas, karena mereka tidak mencap setiap orang yang tidak sefaham dengan mereka sebagai orang kafir. Tapi mereka masih mengakui bahwa mereka adalah kaum muslimin dan mengharapkan agar dia mendapat hidayah. Meskipun orang itu mengkafirkan mereka, mereka tetap tidak membalasnya dengan mengkafirkannya pula. Maka manhaj Firqatun Najiyah adalah manhaj yang paling luas dalam hal ini. Wallahu A’lam. (Semua fatwa ini diambil dari kaset Al Qaulul Baligh ‘ala Dzammi Jama’atit Tabligh)

9. Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i hafidhahullah

Setelah membawakan pendirian beliau terhadap Ikhwanul Muslimin beliau berkata: “Adapun Jama’ah tabligh, silakan engkau membaca apa yang dituturkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Washshabi, ia berkata:

1. Mereka mengamalkan hadits-hadits dla’if (lemah) bahkan maudlu’ (palsu) serta Laa Ashla Lahu (tidak ada asalnya).

2. Tauhid mereka penuh dengan bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah. Karena dakwah mereka berdasarkan Al Faqra (kefakiran) yaitu khuruj (keluar). Dan ini diharuskan di setiap bulan 3 hari, setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan, dan setiap pekan 2 jaulah… jaulah pertama di Masjid yang didirikan shalat padanya dan yang kedua berpindah-pindah. Di setiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang didirikan shalat padanya, yang kedua di rumah. Mereka tidak senang kepada seseorang kecuali bila dia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan Allah Ta’ala.

3. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada tauhid akan memecah belah ummat saja.

4. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada sunnah juga memecah belah ummat.

5. Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahwa: Bid’ah yang bisa mengumpulkan manusia lebih baik daripada sunnah yang memecah belah manusia.

6. Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara isyarat atau terang-terangan.

7. Mereka berpendapat bahwa manusia tidak bisa selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang enggan akan hancur. Mereka berkata: “Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh.” Ini saya dengar dengan telinga saya sendiri di Urdun (Yordania –ed) dan Yaman.

8. Mereka tidak menaruh perhatian terhadap tauhid Uluhiyyah dan Asma` was Sifat.

9. Mereka tidak mau menuntut ilmu dan berpendapat bahwa waktu yang digunakan untuk itu hanya sia-sia belaka.” (Dinukil dari kutaib Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i hafidhahullah hal. 15-17)

 

Sumber: Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M

Iklan
Komentar
  1. […] Kam 29 Mar 2007 Fatwa-fatwa Ulama Ahlus Sunnah Tentang Jama’ah Tabligh Posted by Abu Faruq as Salaf under Fatwa  Fatwa-fatwa Ulama Ahlus Sunnah Tentang Jama’ah Tabligh […]

  2. Haitan Rachman berkata:

    Perkara-I:
    Banyak pandangan yang berhubungan terhadap usaha da’wah dikarenakan kitab fadhilah amal ini.

    Saudara-saudara,
    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Kami tidak memberikan penjelasan terhadap hadits-hadits yang disampaikan itu, tetapi kami mengajak untuk lebih berpikir proporsional dalam menghadapi keadaan, sehingga kita dapat membangun kebersamaan untuk kaum muslimin di masa depan, tidak lagi dalam suasana Kontra-Produktif. Sehingga tulisan-tulisan ini lebih mengajak untuk berpikir, tidak lagi dalam saling bermudzakarah dalam hadits-haditsnya.

    Kitab Fadhilah Amal yang sekarang banyak dipelajari kaum muslimin merupakan kitab untuk dorongan beramal. Saat ini telah ada pandangan-pandangan yang berlebihan terhadap usaha da’wah ini dikarenakan kitab fadhilah amal, seperti dinyatakan bahwa usaha da’wah ini sebagai aliran sesat, banyak melakukan bid’ah, khurafat, dsb. Sehingga pandangan-pandangan ini sangat berlebihan, bahkan seolah-olah memperlihatkan ketidaksukaan sebagian kaum muslimin terhadap usaha da’wah ini. Dan hal ini telah memberikan perilaku yang kurang baik, misalkan menyimpan kitab fadhilah amal ke dalam tong sampah. Perilaku ini jelas tidak terpuji disisi Agama kita yang mulia ini.

    Beberapa ulama menyatakan bahwa kitab ini mempunyai hadits yang dhoif, maudhu, mungkar. Tulisan dari kitab ini jelas merupakan hasil karya seorang ulama yang berdasarkan pada sumber-sumber rujukan (referensi) sebelumnya. Artinya bahwa kitab ini tidak terlepas dari sumber-sumber yang menjadi rujukannya. Tetapi yang harus dipahami bahwa penentuan hadits dhoif dan maudhu terhadap bobot satu hadits, belum tentu semua ulama mempunyai timbangan yang sama. Kita semua dapat mempelajari dari beberapa kitab hadits yang ada sekarang ini. Bahkan dalam kitab Targhib Wat Tarhib sendiri beberapa haditsnya dinyatakan sebagai maudhu oleh Syeikh Al-Banni, atau juga kitab Al-Mashobih.

    Yang menjadi sebuah pertanyaan besar adalah kenapa demikian terbukanya para ulama salafi terhadap kitab fadhilah amal, sampai-sampai dengan menggunakan perkataan-perkataan yang boleh jadi berlebihan. Tetapi kenapa tidak juga dilakukan kepada kitab-kitab yang menjadi rujukan kitab fadhilah amal sendiri, seperti kitab targhib wat tarhib atau kitab al-mashobih. Sehingga dengan pendekatan seperti ini, kenapa tidak dilakukan kepada rujukan-rujukannya, karena ini lebih mendasar lagi sebenarnya.

    Padahal dalam usaha da’wah ini jelas mempunyai kebijakan-kebijakan, misalkan saja kitab riyadhush sholihin dipergunakan di tataran arab. Kenapa dipilihnya kitab riyadhush sholihin? Tidak kitab-kitab lainnya, misalkan kitab al-muntaqa atau kitab bulughul murom. Hal ini sebenarnya melalui proses musyawarah. Sudah dijelaskan diawal bahwa kitab yang diperlukan adalah kitab yang menjadi dorongan-dorongan amal, sehingga lebih memudahkan kaum muslimin untuk membentuk suasana amal islam itu sendiri.

    Sebenarnya para ulama salafi atau siapa saja yang mempunyai kemampuan terhadap hadits, tidak perlu dengan cara seperti itu disampaikannya, sehingga akhirnya hanya mempunyai dorongan-dorongan kepada kaum muslimin awam, terutama para pemuda yang baru belajar Islam dengan semangatnya, untuk berperilaku yang tidak islami, misalkan menyimpan kitab ke dalam tong sampah, tidak menjawab salam ketika disampaikan salam.

    Syeikh Al-Banni sudah melakukan pembagian terhadap kitab-kitab besar, misalkan kitab Targhib Wat Tarhib, Tirmidzi. Sehingga dibagi ke dalam dua bagian utama, yaitu kitab khusus Shohih saja dan juga dhoif atau maudhu. Sehingga ini mungkin akan memudahkan bagi yang lainnya. Ini merupakan yang sistematik, meskipun ada sebagian ulama lain yang kurang berkenan terhadap pemisahan hal ini. Dari contoh di atas, tidak ada satupun ucapan-ucapan yang meremehkan terhadap si penulisnya sendiri, meskipun syeikh al-banni sendiri menyebutkan ada yang dhoif atau maudhu.

    Kitab Riyadhush Sholihin dipergunakan untuk di tataran Arab. Artinya tidak menutup kemungkinan dipergunakan kitab lainnya. Kami sering perhatikan terhadap kitab-kitab lainnya, para ulama juga mengetahui bahwa terdapat hadits-hadits yang dhoif dan maudhu dalam kitab-kitab itu. Para ulama tidak serta menyalahkan atau bahkan menapikan sama sekali terhadap kitab-kitab itu.

    Terhadap kitab Fadhilah Amal ini, penulis sendiri, Maulana Dzakaria, memberikan kesempatan kaum muslimin untuk menyampaikannya kepada orang-orang yang ditunjuk oleh Penulisnya sendiri, bukan kepada setiap orang yang terlibat dalam usaha da’wah ini. Seperti tadi kita kaum muslimin tidak semuanya mempunyai pandangan yang sama terhadap satu bobot hadits tadi, misalkan yang telah kami sampai sebelumnya, Syeikh Al-Banni saja memilahkan kitab itu ke dalam dua kitab yang berbeda. Itu merupakan hak ilmiyah dari Syeikh Al-Banni, tetapi juga bukan berarti semuanya harus sama mengikutinya terhadap pembobotan itu.

    Kitab Riyadhush Sholihin merupakan kitab yang dipergunakan secara baik, jadi artinya jika ada kitab yang boleh jadi cocok dengan sasaran yang dimaksud ta’lim fadhilah itu, maka kita sendiri bisa mengajukannya. Atau jika memang tidak ada, maka boleh jadi kita melakukan pemisahan terhadap kitab fadhilah Amal itu sendiri, seperti syeikh Al-Banni terhadap kitab Tirmidzi, dan juga disebar luaskan ke lingkungan kaum muslimin. Atau jika tidak berkenan dengan pemisahan ini, maka coba kita susun kembali tulisan-tulisan fadhilah Amal seperti kitab riyadhush sholihin atau bahkan seperti kitab fadhilah amal, yang disusun oleh Maulana Dzakaria. Artinya kita semua perlu diajari dengan cara-cara yang membangun bersama di lingkungan kaum muslimin, tidak hanya diarahkan kepada sebuah keadaan yang bukan alamnya sekarang ini.

    Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
    Haitan Rachman

    Untuk menjawab hal ini kami nukilkan tentang ketentuan penggunaan Hadits Dho’if dalam KEUTAMAAN BERAMAL, silakan baca dengan teliti.

    Hukum Menggunakan Hadits-Hadits Lemah Dalam Keutamaan Amal

    Berkata Syaikh Muhadits (=ahli hadits) Muhammad Nashiruddin Al-Albanirahimahullah: ”Di kalangan ahli ilmu dan para penuntut ilmu ini telah masyhur bahwa hadits dla’if (=lemah) boleh diamalkan dalam fadlailul ‘amal (=keutamaan amal). Mereka menyangka bahwa perkara ini tidak diperselisihkan. Bagaimana tidak, Imam Nawawi rahimahullah menyatakan dalam berbagai kitab beliau bahwa hal ini telah disepakati. (Seperti dalam kitab Arba’in Nawawi, pent.) Tetapi pernyataan beliau itu terbantah karena perselisihan dalam hal ini ma’ruf. Sebagian besar para muhaqiq (=peneliti) berpendapat bahwa hadits dla’if tidak boleh diamalkan secara mutlak, baik dalam perkara-perkara hukum maupun keutamaan-keutamaan.

    Syaikh Al-Qasimi rahimahullah dalam kitab Qawaid At-Tahdits, hal: 94 mengatakan bahwa pendapat tersebut diceritakan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ‘Uyunul Atsar dari Yahya bin Ma’in dan Fathul Mughits beliau menyandarkannya kepada Abu Bakr bin ‘Arabi. Pendapat ini juga merupakan pendapat Bukhari, Muslim dan Ibnu Hajm.

    Saya (Syaikh Al-Albani) katakan bahwa inilah yang benar menurutku, tidak ada keraguan padanya karena bebarapa perkara;pertama: Hadits dla’if hanya mendatangkan sangkaan yang salah (dzanul marjuh). Tidak boleh beramal dengannya berdasarkan kesepakatan. Barangsiapa mengecualikan boleh beramal dengan hadits dla’if dalam keutamaan amal, hendaknya dia mendatangkan bukti, sungguh sangat jauh!. Kedua: Yang aku pahami dari ucapan mereka tentang keutamaan amal yaitu amal-amal yang telah disyari’atkan berdasarkan hadits shahih, kemudian ada hadits lemah yang menyertainya yang menyebutkan pahala khusus bagi orang yang mengamalkannya. Maka hadits dla’if dalam keadaan semacam ini boleh diamalkan dalam keutamaan amal, karena hal itu bukan pensyari’atan amal itu tetapi semata-mata sebagai keterangan tentang pahala khusus yang diharapkan oleh pelakunya. Oleh karena itu ucapan sebagaian ulama dimasukkan seperti ini. Seperti Syaikh Ali Al-Qari rahimahullah dalam Al-Mirqah 2/381 mengatakan bahwa hadits lemah diamalkan dalam perkara keutamaan amal walaupun tidak didukung secara ijma’ sebagaimana keterangan Imam An-Nawawi, yaitu pada amal yang shahih berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.

    Maka dengan dasar inilah maka beramal dengan hadits dla’if diperbolehkan jika telah adanya hadits shahih yang menunjukkan disyari’atkannya amal itu. Akan tetapi kebanyakan orang yang berpendapat seperti itu tidak dimaksudkan makna seperti itu. Buktinya kita menyaksikan mereka beramal dengan hadits-hadits dla’if yang tidak terkandung dalam hadits-hadits shahih, seperti Imam An-Nawawi dan yang mengikutinya menganggap sunnah menjawab ucapan orang yang mengumandangkan iqamah ketika mengucapkan dua kalimat syahadat (=qadqa matis shalah, qadqa matis shalah) dengan ucapan “aqamahala wa adamaha” (=semoga Allah menegakkannya dan melazimkannya), padahal hadits tentang masalah ini adalah dla’if . [Kelemahan hadits ini dapat dilihat pada; Irwa’ul Ghalil 241. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah; Ilmu Ushulil Bida’, hal: 157. Syaikh ‘Ali Hasan bin Adul Hamid.]

    Amal ini tidak ditetapkan pensyari’atannya kecuali pada hadits dla’if tersebut. Meskipun demikian mereka menganggap hal itu merupakan suatu sunnah. Padahal perkara sunnah adalah salah satu hukum diantara kelima hukum (yakni: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram) yang harus ditetapkan berdasarkan dalil.

    Betapa banyak perkara-perkara yang mereka anggap disyari’atkan dan disunnahkan bagi manusia hanya didasari dengan hadits-hadits lemah yang tidak ada asal pensyari’atannya dalam hadits shahih. Akan tetapi disini tidak mungkin untuk mencantumkan sebagai contoh, cukuplah salah satu contoh yang telah aku sebutkan.

    Adapun yang terpenting disini adalah hendaklah orang-orang yang menyelisihi hal ini mengetahui bahwa beramal dengan hadits dla’if dalam perkara keutamaan amal tidak mutlak menurut orang-orang yang berpendapat dengannya. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata dalam Tabyanul Ujab, hal: 3-4 bahwa para ahli ilmu telah bermudah-mudah dalam membawakan hadits-hadits tentang keutamaan amal walaupun memiliki kelemahan selama tidak maudlu’ (=palsu). Seharusnya hal ini diberi syarat yaitu orang yang beramal dengannya menyakini bahwa hadits itu lemah dan tidak memasyhurkannya sehingga orang tidak beramal dengan hadits dla’if dan mensyari’atkan apa yang tidak disyari’atkan atau sebagian orang-orang jahil (=bodoh) menyangka bahwa hadits itu adalah shahih.

    Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Ustadz Abu Muhammad bin Abdus Salam dan lain-lain.
    Hendaknya setiap orang khawatir jika termasuk dalam ancaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:
    (من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكذبين)

    “Barangsiapa menceritakan dariku satu hadits yang dianggap hadits itu dusta, maka dia termasuk seorang pendusta” [Untuk lebih jelasnya lihat permasalahn ini pada kitab Syarh Shahih Muslim, juz: 1, bagian muqadimah. Imam An-Nawawi Ad-Damsiqi rahimahullah.]

    Maka bagaimana orang yang mengamalkannya?!. Tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam perkara keutamaan amal, sebab semuanya adalah syari’at.

    Inilah tiga syarat penting diperbolehkannya beramal dengan hadits-hadits dla’if dalam keutamaan amal;
    a. Hadits itu tidak maudlu’ (=palsu).
    b. Orang yang mengamalkannya mengetahui bahwa hadits itu adalah dla’if.
    c. Tidak memasyhurkan untuk beramal dengannya.

    Akan tetapi sangat disayangkan kita menyaksikan kebanyakan ulama lebih-lebih orang awam meremehkan syarat-syarat ini. Mereka mengamalkan suatu hadits tanpa mengetahui kelemahannya, mereka tidak mengetahui apakah kelemahannya ringan atau sangat parah sehingga (hadits) tersebut tidak boleh diamalkan. Kemudian mereka memasyhurkannya sebagaimana halnya beramal dengan hadits shahih!. Oleh karena itu banyak ibadah-ibadah dikalangan kaum Muslimin yang tidak shahih dan memalingkan mereka dari ibadah-ibadah yang shahih yang diriwayatkan dengan sanad-sanad (=jalan, pent) yang shahih.

    Kemudian syarat-syarat tersebut menguatkan pendapat kami bahwa sebagian besar ulama tidak menginginkan makna yang kami anggap kuat tadi, sebab satupun diantara syarat-syarat itu tidak diterapkan sebagaimana yang tanpak.

    Menurutku (Syaikh Al-Albani), Al-Hafidz Ibnu Hajar cenderung kepada tidak boleh beramal dengan hadits dla’if berdasarkan ucapan beliau yang telah lewat bahwa tidak ada perbedaan antara mengamalkan suatu hadits dalam perkara hukum atau dalam keutamaan amal sebab semuanya adalah syari’at.

    Inilah yang haq, karena hadits dla’if yang tidak ada penguatnya kemungkinan adalah maudlu’ (=palsu), bahkan umumnya palsu dan mungkar. Hal ini ditegaskan oleh sebagian ulama. Orang yang membawakan hadits dla’if termasuk dalam ucapan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam:”…yang dianggap hadits itu dusta”, yaitu dengan menampakkan demikian. Oleh karena itu Al-Hafidz menambahkan dengan ucapannya:”Maka bagaimana dengan orang yang mengamalkannya”.

    Hal ini dikuatkan dengan perkataan Ibnu Hibban bahwa setiap orang yang ragu terhadap apa yang dia riwayatkan, shahih atau tidak shahih, maka dia termasuk dalam hadits ini. Dan kita katakan seperti perkataan Al-Hafidz (Ibnu Hajar):”Maka bagaimanakah dengan orang yang mengamalkannya”.

    Inilah penjelas dari maksud ucapan Al-Hafidz Ibnu Hajar tersebut. Adapun jika ucapan beliau dimaksudkan kepada larangan memakai hadits maudlu’ (=palsu) dan tidak ada perbedaan antara perkara hukum dan keutamaan adalah sangat jauh dari konteks ucapan Al-Hafidz, sebab ucapan beliau adalah dalam pembahasan hadits dla’if, bukan maudlu’ sebagaimana hal itu tidak tersembunyi.

    Apa yang kami sebutkan tidak menafi’kan (=meniadakan) bahwa Al-Hafidz (Ibnu Hajar) menyebutkan syarat-syarat itu untuk mengamalkan hadits dla’if. Sebab kita katakan bahwa Al-Hafidz menyebutkan perkataan itu kepada orang-orang yang membolehkan memakai hadits dla’if dalam perkara keutamaan selama tidak maudlu’ (=palsu). Seakan-akan beliau berkata kepada mereka:”Jika kalian berpendapat demikian, maka seharusnya kalian menerapkan syarat-syarat ini”.

    Al-Hafidz tidaklah menyatakan dengan tegas bahwa dia menyetujui mereka dalam membolehkan (beramal dengan hadits-hadits yang dla’if) dengan syarat-syarat itu. Bahkan diakhir ucapan beliau menegaskan sebaliknya seperti yang telah kami terangkan.

    Kesimpulannya, bahwa beramal dengan hadits dla’if dalam perkara keutamaan amal tidak diperbolehkan sebab menyelisihi hukum asal dan tidak ada dalilnya. Orang yang membolehkannya harus memperhatikan syarat-syarat itu ketika mengamalkan hadits dla’if, Wallahu Muwaffiq. Demikian perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. [Tamamul Minah Fii Ta’liq Fiqh Sunnah, hal: 34-38. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Dinukil dari majalah Salafy edisi: XXIII/Ramadlan/1418H/1996, hal: 23-25.]

    Kuwait, 16 Rabi’ul Awwal 1428 – 3 April 2007

  3. Haitan Rachman berkata:

    Perkara-II:
    Banyak pandangan yang berhubungan terhadap khuruj fisabilillah dan juga jumlah hari yang dilakukannya, bahkan terdapat pandangan yang mengatakan bahwa khuruj fisabilillah dan jumlah-jumlah hari merupakan perkara Bid’ah yang tidak ada contohnya.

    3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani hafidhahullah
    Pertanyaan: Di sini ada pertanyaan: Apa pendapat Anda tentang Jama’ah (firqah) Tabligh dan apakah ukuran khuruj ada terdapat dalam sunnah?
    Jawab:Pertanyaan ini adalah pertanyaan penting. Dan aku memiliki jawaban yang ringkas, serta kalimat yang benar wajib untuk dikatakan. Yang saya yakini bahwa da’wah tabligh adalah: sufi gaya baru. Da’wah ini tidak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khuruj yang mereka lakukan dan yang mereka batasi dengan tiga hari dan empat puluh hari, serta mereka berusaha menguatkannya dengan berbagai nash, sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan nash secara mutlak. Sebenarnya cukup bagi kita untuk bersandar kepada salafus shalih. Penyandaran ini adalah penyandaran yang benar. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk tidak bersandar kepadanya. Bersandar kepada para salafus sholih, -wajib diketahui hakikat ini,- bukanlah seperti bersandar kepada seseorang yang dikatakan pemilik mazhab ini atau kepada seorang syaikh yang dikatakan bahwa dia pemilik tarikat ini atau kepada seseorang yang dikatakan bahwa dia pemilik jama’ah tertentu. Berintima’ (bergabung) kepada salaf adalah berintima’ kepada sesuatu yang ‘ishmah (terpelihara dari dosa). Dan berintima’ kepada selain mereka adalah berintima’ kepada yang tidak ‘ishmah. Firqah mereka itu –cukup bagi kita dengan berintima’ kepada salaf- bahwa mereka datang membawa sebuah tata tertib khuruj untuk tabligh (menyampaikan agama), menurut mereka. Itu tidak termasuk perbuatan salaf, bahkan bukan termasuk perbuatan khalaf, karena ini baru datang di masa kita dan tidak diketahui di masa yang panjang tadi. (Sejak zaman para salaf hingga para khalaf). Kemudian yang mengherankan, mereka mengatakan bahwa mereka khuruj (keluar) untuk bertabligh, padahal mereka mengakui sendiri bahwa mereka bukan orang yang pantas untuk memikul tugas tabligh (penyampaian agama) itu. Yang melakukan tabligh (penyampaian agama) adalah para ulama, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dengan mengutus utusan dari kalangan para sahabatnya yang terbaik yang tergolong ulama mereka dan fuqaha` mereka untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Beliau mengirim Ali sendirian, Abu Musa sendirian, dan Mu’adz sendirian. Tidak pernah beliau mengirim para sahabatnya dalam jumlah yang besar, padahal mereka sahabat. Karena mereka tidak memiliki ilmu seperti beberapa sahabat tadi. Maka apa yang kita katakan terhadap orang yang ilmunya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sahabat yang tidak dikirim Nabi, apa lagi dibanding dengan para sahabat yang alim seperti yang kita katakan tadi?! Sedangkan mereka (Firqah Tabligh) keluar berdakwah dengan jumlah puluhan, kadang-kadang ratusan. Dan ada di antara mereka yang tidak berilmu, bahkan bukan penuntut ilmu. Mereka hanya memiliki beberapa ilmu yang dicomot dari sana sini. Adapun yang lainnya, hanya orang awam saja. Di antara hikmah orang dulu ada yang berbunyi: Sesuatu yang kosong tidak akan bisa memberi. Apa yang mereka sampaikan kepada manusia, padahal mereka mengaku (jama’ah) Tabligh?
    Kita menasehati mereka di Suriah dan Amman agar duduk dan tinggal di negeri mereka dan duduk mempelajari agama, khususnya mempelajari aqidah tauhid, -yang iman seorang mukmin tidak sah walau bagaimanapun shalihnya dia, banyak shalat dan puasanya-, kecuali setelah memperbaiki aqidahnya.
    Kita menasehati mereka agar tinggal di negeri mereka dan membuat halaqah ilmu di sana serta mempelajari ilmu yang bermanfaat dari para ulama sebagai ganti khurujnya mereka ke sana kemari, yang kadang-kadang mereka pergi ke negeri kufur dan sesat yang di sana banyak keharaman, yang tidak samar bagi kita semua yang itu akan memberi bekas kepada orang yang berkunjung ke sana, khususnya bagi orang yang baru sekali berangkat ke sana. Di sana mereka melihat banyak fitnah, sedangkan mereka tidak memiliki senjata untuk melidungi diri dalam bentuk ilmu untuk menegakkan hujjah kepada orang, mereka akan menghadapi, khususnya penduduk negeri itu yang mereka ahli menggunakan bahasanya, sedangkan mereka (para tabligh) tidak mengerti tentang bahasa mereka.
    Dan termasuk syarat tabligh adalah hendaknya si penyampai agama mengetahui bahasa kaum itu, sebagaimana diisyaratkan oleh Rabb kita ‘Azza wa Jalla dalam Al Qur`an:
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
    “Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dia menerangkan kepada mereka.” (Ibrahim: 4)
    Maka bagaimana mereka bisa menyampaikan ilmu, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki ilmu?! Dan bagaimana mereka akan menyampaikan ilmu, sedangkan mereka tidak mengerti bahasa kaum itu?! Ini sebagai jawaban untuk pertanyaan ini. (Dari kaset Al Qaulul Baligh fir Radd ‘ala Firqatit Tabligh)

    Saudara-saudara,
    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Perkara-III:
    Saat ini pandangan yang sangat berlebih disampaikan terhadap usaha da’wah ini, salah satunya terhadap penjelasan ayat 3:110 yang diperoleh oleh Maulan Ilyas RH melalui mimpi/kasyaf.

    Saudara-saudara,
    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Mimpi seseorang dapat benar, ataupun juga keliru. Agama kita sudah menjelaskan dengan cukup lengkap dalam beberapa keterangan, termasuk dalam kitab hadits seperti Kitab Shohih Muslim. (Silahkan pelajari: Bagian yang berhubungan dengan mimpi dalam Kitab Shohih Muslim ).

    Tetapi sebelumnya marilah kita pelajari dua mimpi yang perlu menjadi perhatian kita kaum muslimin, karena kedua-duanya dijelaskan dengan baik sekali di dalam Al-quran. Sehingga dengan hal ini, kita tidak serta merta menyalahkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi itu sendiri.

    Allah swt merekam dua mimpi yang sangat penting ke dalam al-quran, dan kedua-duanya agar manjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua.

    Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”

    Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.”

    Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

    Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

    Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

    Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.

    Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” QS Yusuf: 43-49

    Mimpi seorang raja dianggap hal yang biasa bagi kebanyakan orang, tetapi ketika ditanyakan kepada Nabi Yusuf As, maka mimpi ini memberikan sebuah makna yang sangat penting bagi negeri yang bersangkutan. Disini ada sebuah pelajaran yang berharga bagi kita bahwa mimpi seseorang itu dapat mempunyai makna. Oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskannya dengan baik, supaya kita kaum muslimin tidak keliru dengan hal-hal ini.

    Karena boleh jadi mimpi itu akan menjadi sebuah malapetaka atau cobaan bagi masyarakat. Perhatikan mimpinya Raja Firaun. Al-quran menjelaskan mimpi dengan sangat baik sekali, dan kita kaum muslimin perlu mendapatkan pelajaran terhadap kisah itu.

    Sama halnya dengan mimpi/kasyaf dari Maulana Ilyas RA terhadap gambaran atau penjelasan 3:110. Beliau ini adalah seorang Muslim yang dibesarkan di lingkungan yang cukup baik pertumbuhannya, dimana keluarga beliau merupakan keluarga yang banyak kepahaman terhadap agama Islam ini. Dan beliau sendiri mendapatkan pelajaran-pelajaran Islam, termasuk juga dengan sejarah Islam dan juga hadits Rasulullah SAW.

    Sehingga mimpi seperti ini bagi Maulana Ilyas RH sendiri merupakan sesuatu hal yang perlu menjadi perhatian, karena hal ini jelas jarang terjadi bagi beliau sendiri. Apalagi perkara da’wah ini sudah menjadi perhatian beliau bertahun-tahun dalam kajian dan pendalamannya. Dan yang perlu kita pahami adalah beliau sendiri tidak membuat aturan atau hukum baru dalam Islam, tetapi beliau lebih menekankan kepada metoda atau cara penerapan da’wah Islam.

    Dan beberapa ulama yang banyak berhubungan dengan beliau ini, tidak hanya mengandalkan pada mimpi/kasyaf itu saja. Tetapi melakukan kajian secara lebih mendalam terhadap sumber-sumber para ulama salafush sholeh terdahulu. Dan salah satu kitab yang dapat memperlihatkan seluk-beluk usaha da’wah ini secara sangat gamblang, yaitu Kitab Hayatush Shahabah yang disusun oleh Maulana Yusuf RH sendiri, sebagai ulama dan juga pemimpin da’wah ini.

    Kami sendiri yang sudah cukup lama berhubungan dengan usaha da’wah ini, tidak hanya mengandalkan pada mimpi seseorang, karena hal itu sebenarnya merupakan bentuk gambaran sesuatu hal ketika seseorang banyak mendalami atau memfokuskan pada hal yang berhubungan dengan hal tertentu itu. Sehingga kami sendiri lebih terfokus pada pendalaman beliau, bukan pada mimpinya. Ini merupakan sesuatu yang fair secara ilmiyyah.

    Apakah kita hanya terfokus pada kejadian aneh seseorang yang menemukan stetoskop, atau alat stetoskopnya itu. Padahal penemuan itu ditemukan secara kebetulan, ketika bermain-main dengan anak-anak kecil. Apakah kita hanya terfokus kejadian lucu ketika ditemukan hukum archimides, atau pada teorinya? Disinilah kita harus bijak dan lebih ilmiyyah dalam berpikir.

    Kembali lagi terhadap mimpi/kasyaf itu Maulana Ilyas RH itu, kita boleh percaya atau tidak. Semuanya dipersilahkan kepada kaum muslimin, yang penting bagi kita kaum muslimin bahwasanya Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi dengan jelas, termasuk juga dengan adab-adabnya dengan baik, dalam Kitab Shohih Muslim dijelaskannya termasuk juga syarahnya.

    Jika kita perhatikan dan juga pelajari kitab Hayatush Shahabah dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa usaha da’wah ini sebenarnya membawa terhadap kerangka Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan bentuk metoda penyebarannya adalah kepahaman terhadap QS 3:100, dimana kaum muslimin sebagai bagian dari manusia itu sendiri perlu disebarkan dan ditampilkan di hadapan manusia seluruh alam ini sebagai penyeru kepada Islam. Penjelasan ini merupakan kerangka yang sangat fitrah, karena kaum muslimin akan mempunyia peran yang komunikasi yang interaktif dan dinamis dengan berbagai lapisan masyarakat dan juga manusia itu sendiri.

    Dan jika kita pelajari kitab-kitab tafsir besar, seperti Ibnu Katsir dan juga Durul Manstur, hampir bisa dijelaskan bahwa penjelasan yang disampaikan oleh Maulana Ilyas tersebut tidak menyalahi, dan juga lebih memperlihatkan bentuk kongrit yang orisionalitas dari peran kaum muslimin itu sendiri.

    Berkata Imam Asy-Syathibi rahimahullah:
    “…. الرؤيا من غير الأنبياء لا يحكم بها شرعا على حال” (الإعتصام: 1/260)
    “…..dan mimpi seseorang selain para nabi tidak dapat menjadi hukum dalam syari’at” (Lihat Kitab Al-I’tishom 1/260).

    Berkata Imam An-Nawawi:
    لا يجوز إثبات حكم شرعي بما جاء في الرؤي
    “Tidak boleh menetapkan hukum syar’I dengan dasar mimpi”

    Jadi kita tidak boleh berdalil dengan mimpinya seseorang, kecuali mimpinya para Nabi. Allahu A’lam.

    Kuwait, 16 Rabi’ul Awwal 1428 – 3 April 2007

  4. Bismillah

    Saya ingat mimpi saya bertemu Rasulullah di saat saya menenami satu Jama’ah dari Malaysia yg sedang khuruj ke Jogjakarta, Indonesia (Masjid Pogung Dalangan). Di mimpi tersebut, saya melihat seseorang memakai qamish putih-putih sedang berbaring tengadah dengan menekankan tangannya ke dahi, seperti sedang berpikir.

    Awalnya, dalam mimpi itu saya berdiri di depan sebuah kota dengan gerbang, dan saya mendengar kata2 Madinnah Ar-Rasul. Saya saat itu baru2 dalam tahap awal beriman kepada Allah sebagai Pencipta saya serta Alam Semesta dan Muhammad SAW sebagai Nabi dari Agama Islam, sehingga masih sedikit pengetahuan tentang Islam yang saya ketahui. Sehingga saya tidak mengetahui arti dari kata2 Madinnah Ar-Rasul. Yang saya tahu, bahwa di dalam kota ini Rasulullah tinggal. Maka dengan penuh semangat saya memasuki kota tersebut, dan memasuki rumah-rumahnya untuk menemukan rumah Rasulullah. Dan akhirnya saya menemukan rumah kecil yang sederhana, dan saya memasuki rumah tersebut, langsung masuk ke bilik kecil. Dan disitulah saya melihat seseorang sedang berbaring di atas sebuah dipan kecil.

    Lama saya pandangi wajah Beliau yang sedang berbaring tersebut. Dengan senang dan bahagia. Saat itu Beliau tidak memakai tutup kepala, sehingga saya dapat melihat rambut beliau yang hitam ikal. Kemudian dalam hati saya berpikir : “Wah, ini Rasulullah, saya mau bertanya. Dan kali ini saya akan bertanya kepada Beliau dengan menambah sapaan Yaa”.(itu karena pada mimpi sebelumnya, saya tidak menggunakan kata sapaan Yaa, namun langsung memanggil Nabi. Maka kemudian saya menyapa Rasulullah sebagai berikut,

    “Yaa Nabi, bisakah saya bertanya kepadamu sesuatu?”
    Beliau terbangun sambil tetap menselonjorkan kakinya dan menjawab,
    “Bisa, tanya saja”
    Kemudian saya melanjutkan pertanyaan saya,
    “Bagaimana caranya saya bisa berada di surga bersama-sama engkau?”
    Terdiam beberapa saat, kemudian Beliau menjawab,
    “Bisa, tapi kamu harus berada di dalam satu Jama’ah”

    Kemudian antara tersadar dan tidak, saya melihat di atas tubuh saya yang terlentang, sosok memakai Jubah putih-putih tinggi menjulang.

    Keesokan paginya, setelah musyawarah Subuh, amir Jama’ah bertanya pada saat musyawarah pagi,
    “Siapa yang tadi malam mimpi bertemu Rasulullah?”
    Saya agak heran kenapa ada pertanyaan ini, tapi saya tidak mau menceritakan mimpi saya, diantaranya karena saya tidak mau membuka rahasia mimpi saya itu.

    Begitulah pengalaman pribadi saya.
    Saya tulis dengan sebatas pengetahuan saya.

    Wallahu a’lam.

    Jogjakarta, Indonesia 16 Rabiul Awwal 1428 – 4 April 2007 (qabla Ashar)
    * mohon di tanggapi kelembutan, spt yg disampaikan Akh Wira Mandiri disini : http://wiramandiri.wordpress.com/2006/11/13/kelembutan-itu/

    Kami kira perlu mengulang jawabannya sbb:
    Berkata Imam Asy-Syathibi rahimahullah:
    “…. الرؤيا من غير الأنبياء لا يحكم بها شرعا على حال” (الإعتصام: 1/260)
    “…..dan mimpi seseorang selain para nabi tidak dapat menjadi hukum dalam syari’at” (Lihat Kitab Al-I’tishom 1/260).

    Berkata Imam An-Nawawi:
    لا يجوز إثبات حكم شرعي بما جاء في الرؤي
    “Tidak boleh menetapkan hukum syar’I dengan dasar mimpi”

    Jadi kita tidak boleh berdalil dengan mimpinya seseorang, kecuali mimpinya para Nabi. Allahu A’lam.

    Kuwait, 17 Rabi’ul Awwal 1428 – 4 April 2007

  5. Haitan Rachman berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Oleh karena itu seharusnya sdr. membaca terlebih dahulu dalam tulisan di atas dengan baik. Dan selanjutnya mulai bertanya, apakah Maulana Ilyas RH menetapkan sebuah hukum? Yang dilakukan dalam usaha da’wah ini adalah merupakan sebuah metoda, sehingga yang dilihat bukan mimpinya tetapi metodanya. Tentang hal ini, kami akan berikan tulisan lanjutannya, supaya kita kaum muslimin mempunyai kerangka yang lebih membangun bersama di masa depan.

    Silahkan lihat di situs http://www.si*****.com yang berhubungan dengan usaha da’wah ini, ketika kami bermudzakarah dengan yang lainnya.

    Oleh karenanya ulama ahlul hadits menerangkan akan keberadaan derajat hadits pada kitab yang menjadi pegangan bagi tabighiy ini, supaya ummat waspada akan bahaya penggunaan hadits-hadits lemah atau palsu.
    Berkata pengarang kitab WUJUB LUJUM AL-JAMA’AH ketika menerangkan sebab-sebab terjadinya bid’ah, diantaranya adalah taqlid buta dan penggunaan hadits-hadits lemah/palsu. Hal serupa jg diterangkan olh Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam kutaibnya Hajatun Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.Allahu A’lam.

    Kuwait, 17 Rabi’ul Awwal 1428 – 4 April 2007.

  6. matkilau berkata:

    Wahabi sahaja yang masuk surga–orang lain masuk neraka?!!!

    Adakah ini ajaran para salaf dahulu. Wahabi sahaja masuk surga..

    Siapakah wahabiy itu ya akhi, tahukah anda aqidah beliau? Dan jika anda menyandarkan nama demikian, sungguh ini suatu kesalahan. Nama beliau adalah Muhammad bin Abdil Wahhab, jadi jika disandarkan kepada beliau maka namanya bukan WAHABI.

    Kuwait, 20 Rabi’ul Awwal 1428 – 7n April 2007

  7. Haitan Rachman berkata:

    Assalamu ‘alaikum
    Kita semua dapat bermudzakarah untuk mendapatkan kepahaman:
    http://www.si === edit===

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Sesungguhnya, informasi yang ditulis oleh MANTAN JT yang telah lama terjun di dalamnya sudah cukup bagi kami. Sedangkan apa yang anda tulis adalah tidak lebih dari sikap ashobiyah dan taqlid buta.
    Kuwait, 14 Robi’ul Tsani 1428 – 1 Mei 2007

  8. Haitan Rachman berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.
    Kami menjadi heran dengan teman-teman salafi sekarang ini, bagaimana sdr. dapat membuktikan bahwa kami ashobiyyah, sedangkan kami menyampaikan untuk sama-sama kita bermudzakarah. Apakah dengan menyampaikan pandangan, terus sdr. katakan sebagai ashobiyyah. Jelas hal ini keliru.
    Bagaimana mungkin hanya para ulama salafi saja untuk memberikan pandangan, sedangkan saudara kaum muslimin yang lain tidak diperkenankan untuk dapat menyampaikan pandangan kami sendiri.
    Sehingga dengan begitu, seolah-olah bahwa para ulama salafi benar secara mutlak, sedangkan kaum muslimin yang lain keliru. Disinilah kerangka salafi untuk dapat saling berinteraksi dengan baik dengan kaum muslimin lainnya.
    Perhatikan sdr. sendiri yang mengedit link yang seolah-olah kaum muslimin yang tidak boleh mengetahuinya, apakah seperti ini kita untuk sama-sama membangun kaum muslimin.
    Sedangkan untuk hal mantan JT yang sdr. sampaikan, silahkan terdapat singgungan secara singkat di http://ab…com
    Apakah dengan mantan JT sudah cukup? Jelas tidak cukup, karena kita perlu sama-sama untuk mendalaminya. Dengan begitu, sangat jelas bahwa sdr. sangat hanya bergantung pada satu pendapat, dengan tidak berusaha mendapatkan pandangan lainnya. Oleh karena itu, silahkan masuk ke dalam situs yang kami buat, karena sdr. sendiri tidak membuatnya secara umum.

  9. abu husam berkata:

    Assalamualaikum Akh…

    Buat Haitan Rachman, pertimbangan ikhwan salafy tidak mencantumkan link-link yang antum tampilkan karena pada link-link antum mengandung syubhat. Padahal yang mengunjungi blog ini juga terdapat orang awam. Sedangkan kami salafiyun berlepas diri dan tidak ingin turut serta berpartisipasi menyebarkan syubhat pemahaman jamaah tabligh yang bathil, sesat dan menyesatkan.

    Komentar ini juga sebagai pertanyaan kepada al akh Abdurrahman, mengapa komen Haitan Rachman yang terakhir ini tidak antum edit link2nya?

    Sekedar informasi: berikut ini artikel-artikel tentang jamaah tabligh:
    http://ghuroba.blogsome.com/2007/04/26/jamaah-tabligh/
    http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/01/sesatkah-jamaah-tabligh/
    http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/02/rusaknya-aqidah-firqah-tabligh/
    http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/03/syubhat-jamaah-tabligh/

    Demikian semoga bermanfaat. Buat al akh Abdurrahman, jika ana ada yang salah mohon koreksinya. Jazakallahu Khairan.

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh
    Kami ucapkan jazakumullah khoiron katsiro. Kemudian untuk pertanyaan antum kami jawab; Kami memandang bahwa dalam tulisan beliau (Abu Salma) dalam masalah ini beliau juga menukilkan fatwa-fatwa ulama ahlus sunnah dan kami mengharapkan dengan demikian dapat diambil manfaatnya oleh kita. Allahu Musta’an.

    Kuwait, 16 Robi’ul Tsani 1428 – 3 Mei 2007

  10. Haitan Rachman berkata:

    Teman-teman salafi yang budiman, bagaimana mungkin antum semua akan membangun dan memimpin peradaban ummat Islam di masa depan berdasarkan peradaban salafush sholeh itu sendiri. Hal ini dikarenakan teman-teman salafi tidak mampu memimpin kaum muslimin dengan lebih bijak, tetapi lebih sering terbiasa dengan kerangka sendiri dan tidak bersedia mendengarkan bagaimana kaum muslimin yang lain memberikan pandangannya. Sehingga akhirnya seolah-olah teman-teman salafi sudah membawa peradaban ummat Islam itu sendiri.

    Apakah pandangan anda yang tidak berdalil itu lebih baik dari pernyataan-pernyataan mantan tablighi yang telah bertaubat? Sungguh apa yang anda tuliskan itu hanyalah karena persaan fanatik yang telah membutakan mata anda saja.

  11. abu muhammad heriyanto berkata:

    kenapa orang2 Jamaah Tabligh mengkhususkan diri dengan kitab Riyadhush shalihin dan Fadhail amal? kenapa tidak juga mengajarkan bulughul maram, kitab shahih bukhari-muslim, tafsir ibnu katsir? kenapa orang2 jama’ah tabligh hanya mengajak orang2 untuk pergi ke masjid dan shalat? kenapa tidak juga mengajarkan cara sholat yang benar sesuai dengan tuntunan nabi -shollallahu ‘alayhi wa sallam? kenapa juga tidak mengajarakan cara wudhu’ yang benar? kenapa tidak juga mengajarkan tentang bagaimana cara penetapan zakat maal?
    kenapa tidak juga mengajarkan tentang hukum2 yang berkenaan dengan pengurusan jenazah?
    dan yang lebih penting lagi, kenapa tidak mengajarkan tentang tauhid dan syirik? sunnah dan bid’ah?
    kenapa tidak mau membahas bahwa “Laa ilaaha illallaah” itu adalah “tiada sesembahan yang berhak untuk di ibadahi secara haq, melainkan Allah semata” ?
    bukankah banyak dari umat islam ini yang bodoh terhadap agamanya sendiri? kenapa jamaah tabligh tidak berusaha mengentaskan kebodohan umat islam ini shg mereka mengerti tauhid dan menjauhi syirik, mengerti sunnah dan menjauhi bid’ah, mengetahui yang halal dan menjauhi yang haram, mengerti permasalah riba, mengerti permasalahan jihad dsb?
    bukankah ilmu itu didahulukan sebelum amal?
    Imam bukhari memberi satu bab dalam shahihnya “ilmu sebelum berucap dan beramal”..bukankah ilmu itu adalah Al Qur’an dan As Sunnah yang shohih dengan bimbingan pemahaman generasi terbaik umat ini dan para aimatul huda?
    apakah jamaah tabligh memberikan ilmu ini kepada umat islam?

  12. student berkata:

    Situs yg tdk ilmiah..hanya satu arah..memaksakan kehendak..tdk mau bermudzakarah secara terbuka..biarkan kami dari luar forum mengetahui pandangan kedua pihak…sayang seribu sayang …

    Kami ucapkan jazakumullah khoiron jaza’atas kritikan antum.Tidakkah cukup bagi Anda akan nasehat dari para ulama terhadap jama’ah Anda???!.Apalah gunanya nasehat orang yang hanya memiliki secuil ilmu dibanding mereka yang memahami dua sumber hukum ini. Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kami dan Anda. Allahu Musta’an.

  13. Herisuanto Mahfudz berkata:

    assalamu alaikum Wr.Wb.
    saudaraku salafy yang budiman
    di antara yang diajarkan Jt kpd pengikutnya adalah “menuntut ilmu dan zikir”
    maksudnya belajar supaya agamanya benar dan ilmunya diamalkan, Nah setelah mereka pulang dari khuruj (trsaining dakwah) 3hr/40 hr/4 bln mereka punya semangat untuk belajar dan datang di majlis ulama dan belajar Aqidah, Fiqh dsb. dengan demikian mereka akan benar agamanya, ya antum yang salafi merasa benar ajarilah mereka itu shalat yang benar, Aqidah yang benar fiqh yang benar agar mereka nggak sesat, tapi antum jangan ngomong atau nuduh JT tanpa mengetahui manhaj JT tsb. kalau antum tahu manhajnya yang benar atau asli mungkin antum akan menarik balik fatwa bidaah kalian sebagaimana Syaikh Abdullah bin Bazz menarik ucapannya

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari apa yang kami lihat di lapangan, kami katakan bahwa apa yg Anda katakan tdklah benar. Pada bulan Ramadlon tahun ini di maktabah masjid Salim ‘Ali As-Shobah, Jahra-Kuwait telah terjadi “perbincangan” antara Tablighiy asal Mesir dan Kuwait dgn seorang -insyaAllah- Salafy ttg masalah khuruj dll.Alhamdulillah kami termasuk org yg hadir waktu itu.Dari setiap soal “dasar” yg diajukan ikhwan salafy ini tdk dapat dijawab oleh Tablighiy Mesir dan Kuwait. Akhir dari “perbincangan” itu, Tablighiy Mesir dan Kuwait mengakui bahwa kelemahan orang-orang Tabligh adalah “kurangnya ilmu”.Maka kami katakan kepada kalian wahai Tablighiy, tidakkah kalian tahu bahwa Allah Ta’ala berfirman (artinya):”Ketahuilah,sesungguhnya tidak ada Ila selain Allah dan beristighfarlah atas dosa-dosa kalian”. Berkata Imam Bukhori dlm Shahih-nya:”Bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”.

    Maaf, sedikit ralat. Mungkin maksudnya Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah ya? Jika beliah rahimahullah yang dimaksud, fatwa yang mana ya yang beliau cabut? Setahu kami beliau merubah fatwa yang mentazkiyah JT, tetapi fatwa terakhir beliau bahwa JT termasuk firqah sesat kami belum tahu beliau mencabutnya. Bisa berikan buktinya, jazakumullah khoiron katsiro.

  14. albanjari berkata:

    Kepada kaum muslimin sekalian yang sekarang sedang meniti jalan di sebelah kanan dan di sebelah kiri dari jalan yang lurus maka bertobatlah kepada Alloh dan kembali ikuti jalan Alloh, Rosulululloh, Sohabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in, para aimmatus sholeh, ahlul hadits/ahlul atsar ;jangan mengikuti jalan sebelah kanan dan sebelah kiri dimana pada setiap ujungnya ada penyeru yang mengajak kepada neraka jahannam.Jika pengikut jama’ah muhammad ilyas (jama’ah ndableg) tidak mau kembali ke jalan yang lurus biarkan saja mereka menempuhnya sampai mati dan fanatik kepada jalan muhammad ilyas sebagai pendiri jama’ah tersebut dan tutuplah hatimu dengan kefanatikan yang sangat dalam dan berlepaslah kalian pengikut Jama’ah ndableg dengan Islam kaum muslimin.

  15. badrus soleh berkata:

    anda sibuk berdebat, diskusi dan pamer ilmu, tahukah anda kebutuhan umat. umat saat ini menunggu anda kerumahnya, mengajaknya pergi kemasjid untuk solat dan memberi kepahaman agama. mengajak taat kepada Alloh SWT. lakukanlah seperti orang JT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s