MAKNA ILHAD DALAM ASMA’ DAN SHIFAT ALLAH SERTA MACAMNYA

Posted: 23 - Maret - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa

MAKNA ILHAD DALAM ASMA’ DAN SHIFAT ALLAH SERTA MACAMNYA

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Ilhad secara bahasa artinya condong, diantara adalah firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ (103) سورة النحل.

“Dan seseungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata:’Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manasia kepadanya (Muhammad), padahal bahasa yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepada bahasa ‘ajam sedang Al-Qur’an adalah bahasa yang terang” (QS. An-Nahl: 103).

Diantaranya lagi adalah kata lahad di kuburan, dinamakan lahad karena posisinya miring kesamping. Ilhad tidak akan diketahui kecuali dengan mengetahui yang lurus kerena seperti dikatakan:”Dengan lawannya, sesuatu menjadi jelas”.

Sikap yang benar dalam bab nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu pada hakekatnya yang sesuai dengan Allah Azza wa Jalla tanpa tahrif, ta’thil, takyif atau tamtsil, berpijak di atas kaedah yang dijalani Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang masalah ini. Jika kita telah tahu yang benar dalam masalah ini, maka yang menyelisihinya itulah yang dinamakan Ilhad (penyimpangan). Para ahlul ilm menyebutkan ilhad tentang nama-nama Allah bermacam-macam, yaitu:

a. Mengingkari sesuatu dari nama-nama itu atau sifat-sifat yang ditunjukkan oleh nama-nama itu. Misalnya: Orang yang mengingkari bahwa nama Ar-Rahman adalah termasuk nama-nama Allah Azza wa Jalla seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah atau menetapkan nama akan tetapi ia mengingkari sifat-sifat yang terkandung di dalamnya sebagaimana yang diucapkan oleh sebagian mubtadi’ (ahli bid’ah):”Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Rahim tanpa sifat rahmat dan Maha Mendengar tanpa sifat sama’ (pendengaran)”.

Memberi nama terhadap Allah Azza wa Jalla dengan nama yang tidak Allah Azza wa Jalla namakan untuk diri-Nya dengan nama tersebut.

Hal ini adalah bentuk ilhad, karena nama-nama Allah Azza wa Jalla adalah taufiqiyah (berdasar dalil), tidak halal bagi seseorang menamai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama yang Dia tidak namai diri-Nya sendiri dengan nama tersebut, karena hal ini termasuk perbuatan berkata terhadap Allah tanpa adanya ilmu dan sebagai permusuhan terhadap hak Allah Azza wa Jalla. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang filsafat, mereka menamai ilah dengan ilat fa’ilah (penyebab pelaku) juga seperti perbuatan orang-orang Nashrani yang menamai Allah dengan nama bapa dan sebagainya.

c. Berkeyakinan bahwa nama-nama ini menunjukkan sifat-sifat makhluk, sehingga nama-nama dan sifat-sifat tersebut merupakan bukti akan bolehnya melakukan tamtsil (penyerupaan pencipta dengan makhluk-Nya).

Hal ini merupakan bentuk ilhad, orang yang menyakini bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan pada pengertian menyerupakan Allah dengan makhluk maka dia telah mengeluarkannya dari madlul (pengertian/maknanya) dan menyimpang dari yang lurus, serta menjadikan perkataan Allah dan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai perkataan yang menunjukkan kekufuran, karena menyerupakan Allah dengan makhluk adalah kekufuran, sebab merupakan kedustaan terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ (11) سورة الشورى

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuura: 11).

 

Allah Ta’ala berfirman:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (65) سورة مريم

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65).

Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’I –guru imam Bukhori- rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka dia telah kafir dan barangsiapa yang menolak apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri maka dia telah kafir dan dalam sifat yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri tidak ada penyerupaan dengan makhluk-Nya”.

d. Mengambil pecahan kata dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk nama-nama patung seperti; Laata dari kata Ilah, ‘Uzza dari kata ‘Aziz dan Manat dari kata Al-Manan.

Hal ini merupakan bentuk ilhad, bahwasannya nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala khusu untuk diri-Nya, tidak boleh memindahkan makna-makna yang ditunjukkan oleh nama-nama tersebut kepada salah satu makhluk untuk diberikan peribadatan yang tidak ada yang berhak atas peribadatan tersebut kecuali Allah Azza wa Jalla. Inilah macam-macam ilhad terhadap nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Sumber: Majmu’ Fatawa fii Arkanil Islam, soal no. 37.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s