HUKUM MEMPERINGATI MAULID NABI

Posted: 23 - Maret - 2007 in Aqidah/Manhaj, Fatwa

HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala

 

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala ditanya:”Apa hukumnya merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam?”

Jawab: Pertama: Malam kelahiran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, tapi sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa itu terjadi pada malam kesembilan Rabi’ul Awwal, bukan pada malam kedua belas. Tetapi saat ini perayaan maulid dilaksanakan pada malam kedua belas yang tidak ada dasarnya dalam tinjauan sejarah.

Kedua: Dipandang dari sisi aqidah juga tidak ada dasarnya. Dan kalaulah itu dari syari’at Allah, tentulah dilaksanakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam atau disampaikan kepada umat beliau. Dan kalaulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya atau menyampaikan kepada umat beliau, maka mestinya amalan itu terjaga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (9) سورة الحجر.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9).

Ketika ternyata tidak didapati, maka dapat diketahui bahwa hal itu bukan termasuk ajaran Islam. Dan jika bukan termasuk ajaran agama Allah, maka kita tidak boleh menjadikannya sebagai bentuk ibadah1) kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak boleh menjadikannya sebagai amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jika Allah telah menetapkan suatu jalan yang sudah ditentukan agar dapat sampai kepada-Nya itulah yang datang kepada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam., maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan membuat jalan sendiri yang akan menghantarkan kepada-Nya, padahal kita adalah seorang hamba? Ini berarti mengambil hak Allah Azza wa Jalla, yaitu membuat syari’at yang bukan dari-Nya dan kita masukkan ke dalam ajaran agama Allah. Ini juga merupakan pendustaan terhadap firman Allah Azza wa Jalla:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا…. (3) سورة المائدة

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan nukmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam sebagai agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

Maka kami katakana: Bila pernyataan ini termasuk bagian dari kesempurnaan ajaran agama, tentunya sudah ada sebelum Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan jika tidak, maka hal itu tidak mungkin menjadi bagian dari kesempurnaan agama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا…. (3) سورة المائدة

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan nukmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam sebagai agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).

Bagi siapa yang menyatakan bahwa perayaan maulid Nabi termasuk ajaran agama, maka telah membuat hal-hal yang baru sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ucapannya mengandung kedustaan terhadap ayat-ayat yang mulia ini. Tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang merayakan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengagungkan beliau, nampaknya kecintaan dan besarnya harapan untuk mendapatkan kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari perayaan yang diadakan dan untuk menghidupkan semangat kecintaan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semua ini termasuk ibadah; mencintai Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah bahkan iman seseorang tidak akan sempurna sehingga Rasul lebih dicintai daripada dirinya, anaknya, orang tuanya, dan semua manusia. Mengagungkan Rasul juga termasuk ibadah, demikian juga haus akan kasih sayang Rasul, juga termasuk agama, karena dengan demikian seseorang menjadi cenderung kepada syar’at beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian, maka tujuan perayaan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan pengagungan terhadap Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah ibadah, bila ini ibadah maka tidak boleh membuat hal-hal baru –yang bukan dari Allah- dan dimasukkan ke dalam agama-Nya selama-lamanya. Maka perayaan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah dan haram.

Kemudian kita juga mendengarkan bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yang tidak diterima oleh syara’, perasaan maupun akal. Mereka bernyanyi-nyanyi untuk maksud-maksud tertentu yang sangat berlebihan tentang Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mereka menjadikan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih agung/besar dari pada Allah –kita berlindung kepada-Nya-. Kita mendengar juga, karena kebodohan sebagian orang-orang yang merayakan maulid nabi, bahwa jika seseorang membaca kisah tentang kelahiran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam2) kemudian sampai pada lafadz “nabi dilahirkan” dengan serempak mereka berdiri. Kata mereka, Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam telah datang, maka kamipun berdiri untuk mengagungkan beliau”, ini adalah kebodohan. Ini bukanlah adab, karena beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam membenci bila disambut dengan berdiri. Para sahabat beliau adalah orang-orang yang paling mencintai dan mengagungkan beliau, namun mereka tidak berdiri menyambut beliau, karena mereka mengetahui beliau membenci hal itu. Saat beliau masih hidup saja tidak boleh, apatah lagi setelah beliau tidak ada (wafat).

Bid’ah ini – yakni bid’ah peringatan maulid nabi terjadi setelah berlalunya tiga generasi terbaik umat- dan dalam perayaan itu terdapat pula beberapa kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakannya yang bukan dari pokok-pokok ajaran agama. Terlabih lagi dengan terjadinya ikhtilat antara laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak kemungkaran-kemungkaran yang lain.

 

Sumber: Majmu’ Fatawa fii Arkanil Islam, soal no. 89.

Catatan kaki:

1) Ibadah adalah kumpulan nama-nama dari apa-apa yang dicintai dan diridloi oleh Allah Azza wa Jalla baik yang nampak atau tidak (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid).

2) Debaan (bahasa Cirebon).

Iklan
Komentar
  1. fikhar berkata:

    Terkait kutipan anda dalam QS. Al-Hijr:9, saya rasa anda kurang tepat ketika harus menggunakan ayat tersebut untuk menjawab mengenai amalan yang dipelihara oleh Allah.

    Nabi Muhammad saw. pun telah memperingati peristiwa kelahirannya di dunia ini.
    Buktinya yaitu ketika Rosul saw melaksanakan puasa hari senin, dimana beliau berpuasa tersebut untuk memperingati hari kelahirannya (yaitu hari senin).

    Bentuk peringatan maulid Nabi saw. dari dulu sampai hari ini bisa jadi berubah, tetapi esensinya tetap sama.



    Ketika ternyata tidak didapati, maka dapat diketahui bahwa hal itu bukan termasuk ajaran Islam. Dan jika bukan termasuk ajaran agama Allah, maka kita tidak boleh menjadikannya sebagai bentuk ibadah) kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak boleh menjadikannya sebagai amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Maaf sebelumnya, ajaran Islam yang seperti apa ya?
    Kalaupun hal itu (peringatan maulid) itu salah menurut ajaran Islam anda, saya rasa Allah melihat aktivitas saya (memperingati maulid) dari niat yang saya timbulkan, yaitu untuk memiliki kecintaan terhadap Nabi Muhammad saw.
    Justru dengan adanya maulid Nabi saw, bisa mendekatkan diri kepada Allah.

    Menurut saya, anda terlalu berlebihan membenci kami yang menyukai maulid & mencintai Nabi saw.
    Dan aktivitas anda menjauhkan kami dari rasa cinta terhadap Allah & Kekasih-Nya.

    Mereka bernyanyi-nyanyi untuk maksud-maksud tertentu yang sangat berlebihan tentang Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mereka menjadikan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih agung/besar dari pada Allah –kita berlindung kepada-Nya-.

    Saya kutip sedikit dari Alquranul Kareem :
    Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. Al-Qalam: 4)
    Disitu telah jelas terbukti bahwa Allah menyanjung Nabi Muhammad saw dengan kata-kata yang ‘agung’, dimana tergambarkan bahwa Allah mencontohkan kepada kita tentang cara menyanjung.
    Kalau dibandingkan dengan sanjungan kita sebagai manusia, sanjungan kita kepada Nabi Muhammad saw tidak ada apa-apanya dibandingkan sanjungan Allah.

    Jadi kalau ada yang berpendapat sanjungan terhadap Nabi Muhammad saw itu berlebihan, saya rasa orang tersebut yang mengajarkan tidak baik kepada orang lain, dan berusaha menjauhkan dari rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad saw.

    Antum Salamun

    Saya hanya akan bertanya sedikit kepada anda. Apakah kecintaan anda kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cintanya para sahabat kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.Tentunya tidak ada apa-apanya. Kemudian apakah mereka (para sahabat) melakukan peringatan ini (maulid) setelah meninggalnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?? jawablah dengan ilmiah wahai akhi.

    Kuwait, 16 Rabi’ul Awwal 1428 – 3 April 2007

  2. Ahmad berkata:

    Anda mengatakan bahwa orang yang merayakan maulid itu bodoh, apalagi berdiri pada pembacaan kisah maulid. Artinya, Anda itu telah mengklaim bahwa Anda pintar. Sebab hanya orang yang mengaku pintarlah yang berani mengatakan orang lain itu bodoh. Apakah Anda lupa bahwa mengklaim diri sebagai pintar itu merupakan sikap orang yang sombong? Apakah Anda lupa bahwa Allah melarang umat-Nya bersikap sombong? Bayangkan, mayoritas umat Islam di Indonesia ini merayakan maulid Nabi dan berdiri pada pembacaan kisah maulid. Ini artinya Anda telah menganggap mayoritas umat Islam Indonesia itu bodoh. Allah berfirman: wa fauqa kulli dzii `ilmin `aliim “dan di atas setiap orang yang pintar masih ada Zat Yang Maha Pintar, yaitu Allah.” Jadi tidak layak Anda membodoh-bodohkan orang lain yang belum tentu orang itu bodoh!

    Allah Azza Wa Jalla berfirman:

    …..الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (3) سورة المائدة.
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku cukupkan nikmat-Ku dan telah Ku ridloi islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah: 3)
    Allah Ta’ala berfirman:
    ….فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ (32) سورة يونس.
    “…maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan” (QS. Yunus: 32).
    Allah Ta’ala berfirman:
    وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (153) سورة الأنعام.
    “Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-An’am: 153).
    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد” (البخاري برقم: 2697؛ مسلم (17/1718))
    “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama kami1) yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhori no. 2697; Muslim 17/1718)
    Dan dalam lafadz Muslim berbunyi:
    “من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد” (مسلم 17/1718).
    “Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang mana perbuatan itu tidak ada dalam agama kami1), maka amalan tersebut tertolak” (HR.Muslim 17/1718)
    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “أما بعد؛ فإن خير الحديث كتاب الله, وخير الهدى هدى محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها, وكل بدعة ضلالة” (مسلم برقم 867).
    “Kemudian setelah itu: Sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang muhdats (baru dalam agama) dan setiap yang bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867) (Lihat dalam kitab Riyadhus Sholihin, hal: 104, Bab ke- 18:”Bab Larangan dari perbuatan bid’ah dan perkara-perkara baru (muhdats) dalam agama”).
    Dalam riwayat lain:
    “وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار”
    “Dan setiap yang bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka”
    Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقل ذرة من كبر”……. “الكبر بطر الحق وغمط الناس” (أخرجه مسلم؛ الترمذي؛ ابن خزيمة عن ابن مسعود)
    “Tidak akan masuk Surga seseorang yang di dalam hatinya ada seberat biji zaroh kesombongan sampai sabdanya:”Al-Kibr (kesombongan) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. (HR. Muslim; At-Tirmidzi; Ibn Khuzaimah dari Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih Jami’us Shoghir wa Ziyadatuh jilid:2).

    Catatan:
    1) Keterangan dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah Ta’ala dalam kitab Shahih Riyadhus Sholihin.

    Kuwait, 22 Robi’ul Awwal 1428 – 9 April 2007

  3. Asep Suryana berkata:

    Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Saya sedang menimba ilmu tentang Islam. Penjelasan ustadz tentang maulid nabi telah menambah wawasan saya tentang hal tersebut. Ada hal yang ingin saya tanyakan yang -menurut saya- agak mirip dengan maulid nabi, yaitu bacaan shalawat untuk para sahabat. Kita sering mendengar bacaan shalawat seperti ini : “Allahumma shali ‘ala Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi aj’maiin.”
    Sejauh yang saya pelajari di sekolah dulu, bacaan shalawat adalah untuk nabi dan keluarganya saja. Apakah bershalawat dengan menyertakan sahabat nabi (wa ashabihi ajma’in) pernah dicontohkan oleh Rasulullah ?
    Terima kasih atas penjelasannya.

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Pembacaan sholawat tidak bisa kita samakan dengan peringatan maulid nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
    Allah Ta’ala berfirman tentang perintah bersholawat kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam:
    إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (56) سورة الأحزاب.
    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan untuknya” (QS. Al-Ahzab: 56).
    قال البخاري:قال أبو العالية:” صلاة الله تعالى ثناؤه عليه عند الملائكة وصلاة الملائكة الدعاء”.
    Berkata Bukhori:”Berkata Abu ‘Aliyah:’Sholawat Allah Ta’ala adalah penghormatan-Nya terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam disisi para malaikat-Nya, sedangkan sholawat para malaikat adalah do’a”.
    قال ابن أبي حاتم: حدثنا عمرو الأودي, حدثنا وكيع عن الأعمش عن عمرو بن مرة, قال الأعمش عن عطاء بن أبي رباح:” إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا, قال: صلاة تبارك وتعالى سبوح قدس, سبقت رحمتي غضبي والمقصود من هذه الأية أن الله سبحانه وتعالى أخبر عباده بنمزله عنده ونبيه عنده في الملأ الأعلى بأنه يثنى عليه عند الملائكة المقربين, وأن الملائكة تصلي عليه ثم أمر تعالى أهل العلم السفلي بالصلاة والتسليم عليه, ليجتمع الثناء عليه من أهل العالمين, العلوي والسفلي جميعاً (انظر تفسير ابن الكثير 3/281)
    Berkata Ibn Abi Hatim:’Menceritakan kepadaku ‘Amr Al-Audiy, bercerita kepadaku Waki’ dari A’masy dari ‘Amr bin Marah, berkata A’masy dari Atho’ bin Abi Robah (tentang firman-Nya):”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi…”, ia berkata:”Sholawat Allah Ta’ala adalah SUBUHUN QUDUSUN…..makna dari ayat ini adalah: Allah Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya akan kedudukan hamba dan nabi di sisi-Nya kepada para penghuni langit dikarenakan Ia memuji hamban-Nya (nabi,pent) kepada para malaikat yang terdekat. Dan para malaikat bersholawat kepadanya (nabi, pent) kemudian Allah Ta’ala memerintahkan Ahli Ilm untuk bersholawat dan mengucapkan keselamatan kepadanya, agar terkumpul pujian terhadapnya dari seluruh penghuni dunia ini baik yang tertinggi maupun yang terendah” (Lihat Tafsir Ibn Katsir 3/281. Cet: Darul Bashiroh, Mesir).
    Jadi sholawat kita kepada nabi dan para sahabatnya adalah sebagai pujian (tsana’) kepada mereka.
    Allah Ta’ala berfirman ketika memuji para sahabat radhiallahu anhum:
    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (218) سورة البقرة.
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang hijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqoroh: 218).
    قال قتادة: أثنى الله عز و جل على أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أحسن الثناء في هذه الأية. (أنظر كتاب فضائل الصحابة. لعبد الله عبد القادر).
    Berkata Qotadah:”Allah Azza wa Jalla memuji para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebaik-baiknya pujian pada ayat ini”. (Lihat Kitab Fadhoil As-Shohabah. Karya Abdullah Abdul Qodir).Allahu A’lam.
    Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga memuji para sahabatnya, hal ini sebagaimana dalam hadits berikut:
    Dari ‘Imron bin Hushain radhiallah anhu, ia berkata: Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
    “خير أمتي قرني, ثم الذين يلونهم, ثم الذين يلونهم, ثم الذين يلونهم”
    “Sebaik-baiknya umat adalah pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya”. Berkata ‘Imron: Saya tidak tahu apa beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan generasi setelahnya sebanyak dua atau tiga kali.1) Allahu Ta’ala A’lam.

    Kuwait, 26 Robi’ul Awwal 1428 – 12 April 2007

    Catatan Kaki:
    1) HR. Ahmad 4/426/440; Bukhori 8/5/6/7 dalam Al-Manaqib; Muslim dalam Al-Fadhoil 16/87/88/89; At-Tirmidzi; An-Nasa’I; Abu Dawud dan selain mereka. Dalam riwayat lain:
    “خير هذه الأمة القرن الذي بعث فيهم”
    “Sebaik-baiknya generasi pada umat ini adalah generasiku yang mana aku diutus padanya”. (HR. Ahmad 1/378/417). Sedangkan hadits yang berasal dari Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu berbunyi:
    “خير الناس قرني…..”
    “Sebaik-baiknya manusia adalah pada generasi…..” (HR. Bukhori; At-Tirmidzi)
    Sedangkan dalam lafaz Muslim berbunyi:
    “Seseorang bertanya: Siapakah manusia terbaik? Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Manusia terbaik adalah pada generasiku”. (HR. Muslim).

  4. cinta Rasulullah berkata:

    HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

    Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin rahimahullah Ta’ala

    bila ini ibadah maka tidak boleh membuat hal-hal baru –yang bukan dari Allah- dan dimasukkan ke dalam agama-Nya selama-lamanya. Maka perayaan maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah dan haram.

    UNTUK Orang yang mengatakan Maulid itu bid’ah dan haram.SUNGGUH SANGAT DANGKAL PEMIKIRAN NYA

    PAHAMILAH APA HAKIKAT DARI MAULID ITU.

    Hakikat Maulid ,
    Maulid bagi kami ( sunah wal jamaah) ialah memperingati hari kelahiran Sang pembawa RAHMAT BAGI SEKALIAN ALAM, Mahluk Yang Paling Mulia, Kekasih ALLAH. yg membimbing umat islam kejalan yang di Ridhaan Allah dan masih banyak lagi kemulian dengan kelahiran Beliau saw.
    Didalam Maulid ini kami mengajak umat untuk mencintai ALLAH dan RasulNYA.Memuji,Mengingat dan mengenang Akhlak dan Perjuangan Beliau saw.Memuji serta Bershalawat kepada Beliau Saw.

    Allah Saja Memuji Baginda Saw.
    FirmanNYA
    Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128).

    Dan ALLAH menyuruh Kita Bergembira dengan RahmatNYA.
    FirmanNYA
    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِفَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ
    Katakanlah (hai Muhammad) dengan kurniaan Allah dan rahmatNya, hendaklah (dengan itu) mereka bergembira.

    Kami Yang Merayakan Maulid Nabi saw.hakikatnya ingin menunjukan RASA CINTA KAMI… RASA CINTA KAMI…RASA CINTA KAMI dengan bayak bershalawat didalamnya kepada Junjungan Kami Baginda Muhammad saw.Atas jasa2 Baginda saw.

    Saudaraku Wahabi/salafy
    Tahukah Anda MAHLUK ALLAH Yang PALING TIDAK BERGEMBIRA DENGAN KELAHIRAN BAGINDA SAW.
    dengan kelahiran Sang Pembawa RAHMAT Bagi Sekalian Alam. adalah SYAITAN LAKNATULLAH..
    Karena dia mengetahui dengan kelahiran Baginda saw.mendajikan Rahmat bagi Alam ini dan menjadikan manusia tahu Cara beribadah Kepada ALLAH ( puasa,solat,haji,sedekah dan mengajarkan kita mana yang halal dan mana yang haram dll, karena Rasulullah saw yang mengajakan kita semua), SEDANGKAN SYAITAN LAKNATULLAH hanya menginginkan kita (Manusia) dalam KESESATAN ataupun DURHAKA kepada ALLAH.

    Apakah kurang cukup Apa Yang dikatakan Allah dalam Al-Quran mengenai memuji dan bergembira dengan kelahiran KekasihNYA.
    untuk membuka hati dan pikiran anda.

    Mudah2 Saya dan Saudara wahabi/salafy tidak terjerumus, dan Mengikuti tingkah laku Syaitan Laknatullah…
    Ya..ALLAH Lindungi Kami ,Saudara kami Umat Islam Ini Dari Tipu Daya SYAITAN. Amin…

    PERTANYAAN UNTUK saudaraku wahabi/salafy

    1.Didalam majelis maulid ini kami memuji, bergembira,dan bershalawat kepada Baginda saw. sedang Allah menyuruh bergembira dengan rahmat Allah. APAKAH KAMI YANG MERAYAKAN INI MAULID INI MELANGGAR HUKUM SYARA’ ???

    2.Bukankah Kelahiran Baginda Rasulullah saw merupakan RAHMAT ALLAH UNTUK SEKALIAN ALAM ????.(sepantasnyalah kami mengenang dan memuji)

    3.Apakah ANDA BERGEMBIRA dengan kelahiran Baginda Rasulullah saw?, dan bagaimanakah cara anda mengaplikasikannya?.

    4.Apakah salah (dalam hukum syara’)kita mengajak umat islam mengenang dan memuji akhlak, Jasa2, Baginda saw agar sekalian Umat Muslim Sayang dan Cinta Kepada Beliu saw???.

    5.Apakah Kami yang melaksanakan/merayakan Maulid ini mengikuti perbuatan Syaitan,sedangkan dia(syaitan)tidak bergembira dengan kelahiran Rasulullah saw ???.

    saudaraku..janganlah menyalahkan orang yang berbuat baik demi agama Islam (tidak melanggar hukum Syara’) engkau salahkan….

    Catatan untuk saudarku..wahabi/salafy
    1.Kalau kita sudah Cinta & Mengidolakan Beliau saw.sudah pasti berusaha ingin mengikuti jejak ,Tingkah laku,dan apa yang disenangi oleh orang yang dicintainya.dan akan meninggalkan Apa yang tidak disukai ALLAH dan RasulNYA..itulah HAKIKAT CINTA.

    Pertanyaan Untuk saudaraku Wahabi/Salafy
    Bukankah jaman sekarang banyak Umat islam yang merayakan hari-hari tertentu misalnya ;
    1. Memperingati hari kemerdekaan
    2. Hari kelahiran (ulang Tahun ) Anaknya,
    3. Hari kelahiran (ulang Tahun ) Kekasihnya ( pacar ),teman.
    4. Hari Pahlawan Nasional.
    5. Ulang Tahun Atasan ( kepala Kantor )
    6. Hari kelahiran orang tua kita.
    7. dan masih banyak lagi…

    APAKAH ITU DIKATAKAN BID’AH ????.
    APAKAH ITU PERNAH DILAKUKAN DI JAMAN RASUL & SAHABATNYA ?
    Jangan -Jangan ANDA SENDIRI IKUT MERAYAKANNYA ????…..

    Apakah mereka diatas LEBIH MULIA DARI JUNJUNGAN KITA BAGINDA RASULULLAH saw ?

    tolong di jawabnya ?

    NB : Belajarlah dalam kehidupan kita sehari-hari.

    1. Jika antum membaca membaca artikel ini dengan teliti, maka telah nyata bahwa para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya kita tidak dapat memastikan bahwa hari kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jatuh pada tanggal 12 Robi’ul Awwal.
    2. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ٌ (3) سورة المائدة.
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah: 3).
    Berkata Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas sbb:
    “هذه أكبر نعم الله تعالى على هذه الأمة حيث أكمل تعالى لهم ديبهم, فلا يحتاجون إلى دين غيره, ولا إلى نبي غير نبيهم صلوات الله وسلامة عليه, ولهذا جعله الله تعالى خاتم الأنبياء وبعثه إلى الإنس والجن, فلا حلا إلا ما أحله, ولا حرام إلا ما حرمه, ولا دين إلا ما شرعه, و كل شيء أخبر به فهو حق وصدق لا كذب فيه ولا خلف كما قال تعالى “وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً (115) سورة الأنعام” أي صدقا في الأخبار, وعدلا في الأوامر والنواهي….” (انظر تفسير ابن الكثير).
    “Inilah nikmat terbesar Allah Ta’ala kepada umat ini, yaitu Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama bagi mereka, tidak berguna agama selainnya (Islam, pent), tidak ada nabi setelah nabi mereka Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya Allah menjadikannya sebagai penutup para nabi dan diutus-Nya untuk jin dan manusia, tidak ada sesuatu yang halal kecuali yang telah dihalalkannya dan tidak ada yang haram kecuali yang telah diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali apa yang telah disyari’atkannya. Dan ia (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, pent) telah mengabarkan segalanya (kepada umatnya, pent) dengan haq dan jujur tanpa berdusta dan menyimpang dalam penyampaiannya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan telah sempurna kalimat Rabbmu sebagai kalimat yang benar dan adil” (QS. Al-An’am: 115), yaitu benar dalam berita-beritanya dan adil dalam segala perintah dan larangannya…” (Lihat Tafsir Ibn Katsir).
    Maka jika antum mengatakan bahwa memperingati Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai bentuk KECINTAAN KEPADANYA, maka kami bertanya kepada antum:”apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal ini?”, jika jawabannya “tidak” berarti antum telah menyangka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat terhadap risalah yang diembannya karena dengan demikian antum telah menyangka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam belum menyampaikan segala perintah-Nya.
    Kemudian apakah para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in pernah memerintahkan atau melaksanakan peringatan maulid Nabi ini? Bukankah kecintaan mereka kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar dibandingkan dengan kita?! Dan bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tazkiyah kepada mereka dengan sabdanya:”Sebaik-baiknya generasi adalah pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya…” (HR. Bukhori; Muslim).
    Berkata ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibn Abbas tentang firman-Nya:”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS. Al-Maidah: 3), yaitu Islam. Allah Ta’ala mengabarkan kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mu’minin bahwasannya Ia telah menyempurnakan keimanan bagi mereka, maka tidak memerlukan tambahan untuk selama-lamanya dan Allah telah menyempurnakannya dan tidak akan berkurang selama-lamanya dan Allah telah meridhoinya dan tidak ada kemarahan kepadanya selama-lamanya” (Lihat Tafsir Ibn Kaatsir).
    3. Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, ia berkata: Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
    “من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد” أي مردود. (رواه البخاري 5/301 –فتح-؛ مسلم 1718).
    “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama kami (Islam) yang tidak ada perintah dari kami padanya, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhori 5/301 –dalam Fathul Bari-; Muslim no. 1718).
    Berkata Ibn Rajab rahimahullah:”Hadits ini merupakan dasar yang begitu agung dari dasar-dasar agama Islam sebagaimana hadits الأعمل بالنيات (segala sesuatu tergantung pada niatnya). Hadits ini (segala sesuatu tergantung pada niatnya, pent) adalah timbangan segala perbuatan bathin, sedangkan hadits ini (Barangsiapa yang membuat perkara baru…, pent) adalah timbangan segala perbuatan yang nyata. Sebagaimana segala perbuatan apabila tidak karena mengharap wajah Allah semata maka pada perbuatan tersebut tidak ada pahala, dan demikian pula segala perbuatan yang tidak ada perintahnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maka perbuatan tersebut tertolak. Dan seluruh perbuatan yang baru dalam agama yang tidak di izinkan oleh Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk dalam agama sedikitpun.
    Dan telah datang hadits dari Irbadl bin Sariyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya ia bersabda:
    “من يعش منكم بعدي؛ فسيرى إختلافا كثيرا, فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي, عضوا عليها بالنواجذ, وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة, وكل بدعة ضلالة” (رواه أبو دواد؛ الترمذي)
    “Barangsiapa diantara yang hidup setelahku maka akan menemui perbedaan yang banyak, maka pegang teguhlah sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk setelah. Pegang teguhlah kedua sunnah tersebut dengan gigi gerahammu. Berhati-hatilah dari perbuatan muhdats (baru dalam agama, pent) karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah di Neraka tempat kembalinya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).
    Berkata At-Tirmidzi:”Hadits Hasan Shahih”1) (Al-Muntaqo min Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, hal: 96-97. Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy hafizahullah Ta’ala).
    4. Dalil-dalil ayat yang antum pergunakan sama sekali tidak mendukung tentang diperbolehkannya memperingati Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat tafsir ayat-ayat tersebut dalam kitab Tafsir Ibn Katsir).
    5. Dalam agama Islam hanya mengenal 3 hari raya, yaitu hari raya ‘idul fitri, hari raya ‘Idul Adha, dan hari raya dalam sepekan (yakni hari Jum’at) selain dari ketiga hari raya ini maka hal tersebut adalah bid’ah, lihat lebih lengkap dalam artikel HUKUM MEMPERINGATI HARI IBU. Allahu Ta’ala A’lam.

    Kuwait, 27 Robi’ul Awwal 1428 – 14 April 2007.

    Catatan Kaki:
    1) Berkata Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy hafizahullah Ta’ala:”Shahih, sebagaimana kami terangkan dalam kitab Shahih dan Dlo’if Al-Adzkar 1263/995.

  5. cinta Rasulullah berkata:

    Kami Yang merayakan Maulid ini,pada Hakikatnya
    Menunjukkan Rasa Cinta kami Kepada Rasulullah saw.

    Betapa besar kecintaan para sahabat Radhiyallahu?anhum kepada Nabi saw, sebagaimana makna cinta, berarti selalu rindu pada yang dicintainya, selalu ingin bersama kekasihnya, selalu tak ingin berpisah dengan kekasihnya, mencintai segala miliknya, bahkan apa-apa yang disentuh oleh Rasul saw menjadi mulia dimata mereka, sebagaimana riwayat Sa’ib ra, : “aku diajak oleh bibiku kepada Rasul saw, seraya berkata : Wahai Rasulullah.., keponakanku sakit.., maka Rasul saw mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan padaku, lalu beliau berwudhu, lalu aku meminum air dari bekas wudhu beliau saw, lalu aku berdiri dibelakang beliau dan kulihat Tanda Kenabian beliau saw” (Shahih Muslim hadits no.2345). Riwayat lain ketika dikatakan pada Ubaidah ra bahwa kami memiliki rambut Rasul saw, maka ia berkata : ?Kalau aku memiliki sehelai rambut beliau saw, maka itu lebih berharga bagiku dari dunia dan segala isinya? (Shahih Bukhari hadits no.168),
    Apakah Rasul saw Melarangnya???

    Diriwayatkan pula bahwa Abu Talhah adalah yang pertama kali mengambil rambut Rasul saw saat beliau saw bercukur (Shahih Bukhari hadits no.169)

    Tentunya seorang yang dicintai akan selalu dipuji, tentunya seorang pecinta akan selalu memuji kekasihnya, dan pujian bagi sang nabi saw boleh dimana saja, tidak terkecuali di masjid, karena kecintaan pada Utusan Allah adalah kecintaan kepada Allah, dan beliau saw sendiri yang bersabda bahwa cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah, dan dalam hadits beliau bersabda : ?tiada sempurna iman kalian sebelum aku lebih dicintainya dari anak-anaknya, dari ayahnya dan dari seluruh manusia? (Shahih Muslim hadits no.44).

    bahkan Imam Muslim mengatakan bahwa ?Secara Mutlak seseorang itu tidak disebut beriman kalau ia tak mencintai Nabi saw? (Shahih Muslim Juz 1 hal 67).

    Hassan bin Tsabit ra selalu memuji Rasul saw didalam masjid Nabawiy, maka ketika ia sedang asyik bernasyid (nasyid, syair, qasidah, sama saja dalam bahasa arab yaitu puji-pujian pada Allah dan Rasul saw), ia sedang melantunkan syair puji-pujian pada Rasul saw, tiba-tiba Umar ra mendelikkan matanya kepada Hassan, maka berkatalah Hassan bin tsabit ra : ?Aku sudah memuji beliau (saw) ditempat ini (masjid) dan saat itu ada yang lebih mulia dari engkau (Rasul saw melihatnya dan tidak melarang)?, lalu berkata pula Hassan kepada Abu hurairah ra yang juga ada bersama mereka : ?Demi Allah bukankah Rasul saw telah berdoa untukku : WAHAI ALLAH BANTULAH IA (hassan ketika membaca syair dihadapan Rasul saw) DENGAN JIBRIL???. Maka Abu Hurairah berkata : ?Betul, maka Umar ra pun tak lagi berani mengganggunya. (Shahih Bukhari hadits no.3040). riwayat yang sama pada Shahih Muslim hadits no.2485.

    APAKAH menunjuk RASA CINTA yang dilakukan Sahabat ra diatas,Rasulullah yang menyuruhnya???

    Maka jelaslah sudah bahwa Rasul saw tidak melarang puji-pujian atas Allah dan Rasul Nya di masjid, bahkan diriwayatkan bahwa Rasul saw menaruh sebuah Mimbar khusus untuk Hassan bin Tsabit ra di Masjid, untuk ia membaca Syair memuji Allah dan Rasul saw (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6058, 6059), dan ketika ada orang yg tak menyukai Hassan, maka marahlah Ummulmukminin Aisyah ra, seraya berkata : ?Jangan kalian menghina Hassan, karena ia selalu memuji Rasulullah saw? (Mustadrak Alaa Shahihain hadits no.6063), berkata Imam Hakim bahwa ucapan ini shahih memenuhi syarat Shahih Bukhari dan Muslim.

    Fahamlah kita bahwa Puji-Pujian pada Rasul saw, yang diantaranya Qasidah, Maulid dll merupakan hal yang dimuliakan oleh Rasul saw, bahkan Sayyidatuna Aisyah ra marah ketika ada orang yang menghina orang yang memuji Rasul saw, MAKA ketika di akhir zaman ini muncul kelompok yang mengharamkan puji-pujian pada Rasul saw dan nasyid/qasidah di masjid, ini menunjukkan kesempitan pemahaman mereka dalam Syariah Islamiyyah, memang betul ada hadits Rasul saw yang melarang membaca syair-syair di masjid, namun itu adalah syair-syair keduniawian yang membuat ummat lupa kepada Allah swt, bukanlah syair pujian atas Allah dan Rasul saw yang memberi semangat kepada ummat untuk semakin taat kepada Allah swt.

    Saudaraku…Wahabi/salafy
    Jawablah Pertanyaan Saya ini,
    1.Adakah MAHLUK ALLAH yang tidak Bergembira,Memuji dengan dilahirkannya ORANG YANG MEMBAWA RAHMAT BAGI SEKALIAN ALAM, YANG AKHLAK TIDAK ADA SUATU MAHLUK PUN YANG MENANDINGINYA, YANG MENGINGINKAN MANUSIA BERTAKWA KEPADA ALLAH,YANG MENGAJARKAN KITA BAGAIMANA CARA BERIBADAH KEPADA ALLAH,YANG MENGINGINKAN UMATNYA KELUAR DARI KESESATAN dan masih bayak lagi KEMULIAN BELIAU saw ?????.

    2.Bukankah RASUL SAW & SAHABAT ra ,hidup penuh kesederhanaan/zuhut ( Makan Pokoknya Roti kalau tidak ada roti kurma,pakaiannya 2 atau 3 helai saja ), Dermawan (mementingkan perut orang lain dari pada perutnya sendiri dan keluarganya ), menegakan keadilan ( yang haq) (menegakkan kebenaran tidak pandang keluarga,Ras dll),Ibadahnya(solat sunatnya, puasanya sangat banyak ).BUKANKAH ITU TERMASUK IBADAH yang Dilakukan Rasulullah saw & Sahabatnya ra.????

    sudahkah kita hidup mengikuti beliau saw dan sahabatnya????

    AKAN TETAPI KENAPA HARI-HARI KITA TIDAK BISA MENGIKUTI JEJAK BELIAU SAW dan SAHABATnya.

    Contohnya;

    1. Kenapa kehidupan hari-hari kita tidak bisa kalau tidak makan NASI.(tidak makan kurma ama Roti) ?. dan pakaian saya banyak(lebih dari 5 mungkin 20 lembar) dilemari saya.

    Dan Lebih Jelasnya Jaman Sekarang Masih Banyak Saudara WAHABI / SALAFY BERIBADAH Mengunakan BAJU KEMEJA ,INGAT !!! PAKAIAN MODEL KEMEJA BELUM DIKENAL DI ZAMAN NABI SAW & SAHABATNYA.
    BUKANKAH IYU NAMA NYA BID’AH ????

    Tolong Dijelasin ya…..

    1. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:
    قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (31) سورة آل عمران.
    “Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali-Imron: 31).
    Berkata Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas:”Ayat ini merupakan mizan (timbangan) yang mana kita dapat mengetahui dengannya siapakah orang yang benar-benar mencintai Allah dgn orang yang mendakwahkan/menyerukan akan hal itu (mencintai Allah, pent) tetapi ia menyimpang. Dan alamat (cirri-ciri) dari kecintaan kita kepada Allah adalah beritiba’ (mengikuti) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia menjadikan segala kepatuhan kepada-Nya dan segala bentuk dakwahnya hanyalah mengharap kecintaan dan keridloan-Nya. Dan tidak mungkin seseorang itu mencintai Allah, mendapat ridlo-Nya kecuali ia membenarkan apa-apa yang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Al-Qur’an dan Sunnahnya, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Barangsiapa yang melakukan yang demikian, maka Allah akan mencintainya dan ia akan mendapat ganjaran sebagai sebagai bagian dari Al-Muhibbin (orang-orang yang mencintai), akan diampuni dosa-dosanya serta ditutupi aib-aibnya” ( Tafsir As-Sa’di, hal: 129-130).
    Jadi jika anda benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, mestilah anda melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan mejauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam.
    Bukankah Allah telah berfirman tentang telah sempurnanya agama ini (Islam), telah Allah lengkapkan nikmat-Nya dan telah Ia ridloi agama ini bagi kita.
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ٌ (3) سورة المائدة
    .
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah: 3).
    Dan bukankah Rasul kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kita dari perbuatan bid’ah dalam agama ini.
    “من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد” (رواه البخاري 2697؛ مسلم 1718/17).
    “Barangsiapa yang berbuat perkara-perkara baru dalam agama kami (Islam) yang tidak ada perintahnya dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak” (HR. Bukhori no. 2697; Muslim 1718/17)
    Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    “أما بعد؛ فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمدصلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثتها وكل بدعة ضلالة” (رواه مسلم 867).
    “Amma ba’du (dan setelah itu); Sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang baru dalam agama, dan setiap yang bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim 867) (Lihat hadits-hadits lainnya dalam kitab Riyadhus Sholihin. باب في النهي عن البدع ومحدثات الأمور (Bab: Larangan dari perbuatan bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama), karya Imam An-Nawawi rahimahullah).
    Dan silakan lihat kembali hadits-hadits yang lalu dan tafsir dari QS. Al-Maidah: 3 di atas.
    Maka sungguh benarlah firman Alah Ta’ala:
    فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ (32) سورة يونس.
    2. Berkata sahabat Ibn ‘Umar (Abdullah bin Umar, pent) radhiallahu anhum:
    “كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة” (رواه المروزي في السنة, ص: 24؛ ابن بطة في الإبانة الكبرى جـ: 1, ص: 339).
    “Setiap perbuatan bid’ah adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai suatu kebaikan” (Riwayat Al-Marwazi dalam As-Sunnah, hal: 24; Ibn Bathah dalam Al-Ibanah Kubro, juz: 1, hal: 339. Lihat juga kitab Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, jilid: 1. Oleh Syaikh Doktor Ibrohim Ar-Ruhaili hafizahullah).
    Berkata seorang laki-laki kepada Ibn Abbas radhiallahu anhu:’Nasehatilah saya’, berkata Ibn Abbas:
    “عليك بتقوى الله والإستقامة إتبع ولا تبتدع” (رواه المروزي في السنة, ص: 24؛ ابن بطة في الإبانة الكبرى, جـ: 1, ص: 319؛ البغاوي في شرح السنة, جـ: 1, ص: 214).
    “Engkau bertaqwalah kepada Allah, Istiqomah dalam beritiba’ (mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, pent) dan janganlah kamu berbuat bid’ah” (Riwayat Al-Marwazi dalam As-Sunnah, hal: 24; Ibn Bathah dalam Al-Ibanah Kubro, juz: 1, hal: 319; Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, juz: 1, hal: 214).
    Berkata Sufyan Ats-Tsauri:
    “البدعة أحب إلى إبليس من المعصية. المعصية يثاب منها, والبدعة لا يثاب منها” (أنظر تلبيس إبليس, ص: 26. لإبن الجوزي).
    “Orang yang berbuat bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada orang yang berbuat maksiat. Orang yang berbuat maksiat masih dapat diharap ia akan bertaubat, sedangkan orang yang berbuat bid’ah tidak dapat diharap ia akan bertaubat” (Talbis Iblis (=Tipuan-tipuan Iblis), hal: 26. Oleh Ibn Al-Jauziy).
    3. Berkata Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah Ta’ala:
    “من إستحسن فقد شرع”
    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu, maka ia telah membuat syari’at” (Dinukil dari Majmu’ Masail, jilid: 2 Karya: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah. Lihat juga dalam kaset Silsilah Huda wan Nuur, kaset pertama menit ke-5 detik ke 27-28. Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah).
    Berkata Imam Asy-Syafi’iy dalam kitabnya Ar-Risalah:
    “و هذا يدل على أنه ليس لأحد دون رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا بالإستدلال….” (الرسالة, ص: 25 رقم: 70).
    “Hal ini merupakan dalil (petunjuk) bahwasannya tidak ada seorangpun selain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (menyatakan baik sesuatu, pent) kecuali berdasarkan dalil-dalil…” (Ar-Risalah, hal: 25 riwayat ke-70. Oleh Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. Lihat juga Kitab Al-Umm, karya Imam As-Syafi’iy juga). Allahu Ta’ala A’lam.

    Kuwait, 30 Robi’ul Awwal 1428 – 17 April 2007-04-17

  6. cinta Rasulullah berkata:

    KEDANGKALAN PEMIKIRAN ORANG WAHABI/SALAFY DALAM MENGKAJI HADIST …

    Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ٌ (3) سورة المائدة.
    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maidah: 3).

    Maka jika antum mengatakan bahwa memperingati Maulid Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai bentuk KECINTAAN KEPADANYA, maka kami bertanya kepada antum:”apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal ini?”, jika jawabannya “tidak” berarti antum telah menyangka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat terhadap risalah yang diembannya karena dengan demikian antum telah menyangka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam belum menyampaikan segala perintah-Nya.
    Kemudian apakah para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in pernah memerintahkan atau melaksanakan peringatan maulid Nabi ini? Bukankah kecintaan mereka kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih besar dibandingkan dengan kita?! Dan bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tazkiyah kepada mereka dengan sabdanya:”Sebaik-baiknya generasi adalah pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya…” (HR. Bukhori; Muslim).

    Berkata Ibn Rajab rahimahullah:”Hadits ini merupakan dasar yang begitu agung dari dasar-dasar agama Islam sebagaimana hadits الأعمل بالنيات (segala sesuatu tergantung pada niatnya). Hadits ini (segala sesuatu tergantung pada niatnya, pent) adalah timbangan segala perbuatan bathin, sedangkan hadits ini (Barangsiapa yang membuat perkara baru…, pent) adalah timbangan segala perbuatan yang nyata. Sebagaimana segala perbuatan apabila tidak karena mengharap wajah Allah semata maka pada perbuatan tersebut tidak ada pahala, dan demikian pula segala perbuatan yang tidak ada perintahnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam maka perbuatan tersebut tertolak. Dan seluruh perbuatan yang baru dalam agama yang tidak di izinkan oleh Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk dalam agama sedikitpun.
    Dan telah datang hadits dari Irbadl bin Sariyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya ia bersabda:
    “من يعش منكم بعدي؛ فسيرى إختلافا كثيرا, فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي, عضوا عليها بالنواجذ, وإياكم ومحدثات الأمور؛ فإن كل محدثة بدعة, وكل بدعة ضلالة” (رواه أبو دواد؛ الترمذي)
    “Barangsiapa diantara yang hidup setelahku maka akan menemui perbedaan yang banyak, maka pegang teguhlah sunnahku dan sunnah Khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk setelah. Pegang teguhlah kedua sunnah tersebut dengan gigi gerahammu.
    Berhati-hatilah dari perbuatan muhdats (baru dalam agama, pent) karena setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah di Neraka tempat kembalinya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi).
    Berkata At-Tirmidzi:”Hadits Hasan Shahih”1) (Al-Muntaqo min Jami’ Al-’Ulum wal Hikam, hal: 96-97. Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy hafizahullah Ta’ala).

    Sungguh DANGKAL PENGKAJIAN Anda dalam Mengkaji Hadist di Atas.

    Jika pengkajian para ulama saja dianggap dangkal,maka dengan hormat kami meminta KAJIAN anda terhadap makna ayat dan hadits di atas! Kami tunggu KAJIAN ANDA.