Bantahan Syubhat Penyembah Kubur

Posted: 18 - Maret - 2007 in Aqidah/Manhaj, Bantahan, Fatwa

BANTAHAN SYUBHAT PENYEMBAH KUBUR

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:”Bagaimana cara kita mengcounter para penyembah kuburan yang berasalan dengan penguburan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam masjid Nabawi?”

Jawab: Jawaban atas hal itu dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu:

1. Sesungguhnya masjid tersebut (baca: Masjid Nabawi) tidak dibangun di atas kuburan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi masjid Nabawi dibangun pada masa hidup Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak dikubur di dalam masjid, hingga dikatakan sesungguhnya ini termasuk penguburan orang sholih di dalam masjid, akan tetapi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dikubur di dalam rumahnya.

3. Sesungguhnya memasukkan rumah-rumah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam dan diantaranya rumah ‘Aisyah bersama masjid bukanlah kesepakatan para sahabat, akan tetapi setelah perginya kebanyakan dari mereka dan itu terjadi kurang lebih pada tahun 94 hijriyah. Hal ini (memasukkan rumah-rumah Rasul kedalam areal masjid, pent) bukan sesuatu yang dibolehkan oleh para sahabat, bahkan sebagian dari mereka menyelisihi/tidak setuju dengan hal itu, diantaranya adalah sahabat Sa’id bin Musyayib radhiallahu ‘anhu.1)

4. Sesungguhnya kuburan itu tidak di dalam masjid hingga dimasukkannya, karena ia (kuburan Rasulullah, pent) berada di dalam kamar tersendiri, terpisah dari masjid, bukannya masjid dibangun di atasnya. Oleh karena itu tempat ini dibuat sedemikian rupa agar tetap terjaga dan terhalang dengan tiga tembok dan dibuat tembok dipojok yang agak serong dari kiblat berbentuk segi tiga. Dan tiang dipojok utara yang manusia tidak akan menghadap kepadanya (baca: arah kuburan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) jika ia sholat karena posisinya yang serong. Oleh karena itu batallah alasan-alasan ahlul kubur dengan syubhat ini.

Ralat:

1) Seharusnya:”……dan juga diantara orang yang menyelisihi perbuatan tersebut adalah Sa’id bin Musayyib”.

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 80. Lihat juga Majmu’ Fatawa Wa Rosail, 2/232-233.

 

س: كيف نجيب عباد القبور الذين يحتجون بدفن النبي صلى الله عليه و سلم في المسجد النبوي؟

ج: الجواب عن ذلك من وجوه:

1. أن المسجد لم بين على القبر بل بني في حياة النبي صلى الله عاليه و سلم.

2. أن النبي صلى الله عليه و سلم لم يدفن في المسجد حتى يقال إن هذا من دفن من دفن الصالحين في المسجد, بل دفن صلى الله عليه و سلم في بيته.

3. أن إدخال بيوت الرسول صلى الله عليه و سلم, ومنها بيت عائشة مع المسجد ليس باتفاق الصحابة, بل بعد أن انقرض أكثرهم, وذلك في عام أربعة وتسعين هجرية تقريبا, فليس مما أجازه الصحابة؛بل إن بعضهم خالف في ذلك, وممن خالف أيضا سعيد بن المسيب.

4. أن القبر ليس في المسجد حتى بعد إدخاله, لأنه في حجرة مستقلة عن المسجد فليس المسجد مبنيا عليه, ولهذا جعل هذا المكان محفوظا بثلاثة جدران, وجعل الجدار في زاوية منحرفة عن القبلة أي أنه مثلث, والركن في الزاوية الشمالية حيث لا يستقبله الإنسان إذا صلى لأنه منحرف, وبهذا يبطل احتجاج أهل القبور بهذه الشبهة.

*) مجموع فتاوى ورسائل, جــ: 2/232-233.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Komentar
  1. TH berkata:

    Ass, Wr, Wb,

    Ini ada kesalahan besar dalam tulisan diatas, entah kesalahan dari penulisnya, entah penerjemahnya atau penyuntingnya.

    Dikatakan “diantaranya adalah sahabat Sa’id bin Musyayib radhiallahu ‘anhu.”

    Sa’id bin Musayyab itu lahir tahun 15H dan wafat tahun 94H, jadi beliau bukan dari generasi sahabat, melainkan tabi’in.

    Dikatakan dalam tulisan diatas bahwa perluasan mesjid terjadi pada tahun 94 H, atau bersamaan wafatnya Sa’id bin Musayyab. Ini pun menimbulkan keraguan yang kuat.

    Dalam menganalisa tentang suatu kebenaran, gunakanlah akal dan hati anda. Ingat, perbedaan utama manusia dengan hewan adalah akal. Tanpa akal gugurlah kewajiban syari’at bagi hewan.

    Wabillahi Taufik walhidayah,
    wal afu minkum
    wasalamulaikum Wr, Wb.

    Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh.
    Jazakumullah khoiron jaza’ atas koreksian antum. Setelah kami lihat pada kitab Siyar a’lam nubala’ jilid ke-4, kami dapati bahwa S’id bin Musayyib adalah seorang Tabi’in bahkan ia adalah SAYYID AT-TABI’IN. Dengan demikian kesalahan terjemahan kami sudah kami ralat dengan pernyataan ini. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan kami baik yang disengaja maupun yang tidak kami sengaja. Selanjutnya dalam artikel ini kami lampirkan naskah aslinya.

    Kuwait, 10 Rabi’ul Awwal 1428 – 28 Maret 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s