Hukum Membunyikan Jari Jemari Ketika Sholat

Posted: 16 - Maret - 2007 in Fatwa, Fiqih

HUKUM MEMBUNYIKAN JARI JEMARI KETIKA SHOLAT

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Samahatus Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:”Apakah membunyikan jari jemari ketika sholat karena lupa membatalkan sholat?”

Jawab: Membunyikan jari jemari ketika sholat tidak membatalkan sholat akan tetapi hal ini termasuk perbauatan main-main. Apabila hal itu dilakukan saat sholat berjama’ah pasti akan mengganggu orang yang mendengarkannya. Saat itu lebih buruk dibandingkan jika tidak ada seseorang disisinya.

Dan pada kesempatan ini saya ingin mengatakan:Sesungguhnya bergerak-gerak dalam sholat hukumnya terbagi menjadi lima, yaitu gerakan wajib, sunnah, makruh, haram dan gerakan yang diperbolehkan.

Adapun gerakan wajib yaitu gerakan yang terbatas pada perbuatan yang harus dikerjakan dalam sholat. Misalnya, ada seseorang yang sedang melakukan sholat kemudian ia teringat bahwa pada pakaiannya terdapat najis, pada saat itu ia harus menghilangkan najis tersebut. Seperti ini termasuk gerakan yang diwajibkan. Dalilnya adalah bahwa Jibril mendatangi Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sedang sholat, lalu memberitahukan bahwa pada sandal beliau ada kotoran. Maka nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pun melepaskan sandalnya dan tetap melanjutkan sholatnya1). Seperti ini adalah gerakan yang diwajibkan. Kaidahnya adalah sesuatu yang mengharuskannya untuk mengerjakan perbuatan wajib dalam sholat atau meninggalkan yang haram.

Adapun gerakan yang disunnahkan yaitu gerakan yang terkait dengan kesempurnaan sholat. Misalnya, gerakan merapatkan shof ketika shof terbuka. Bergeraknya seseorang untuk menutup shof yang terbuka adalah sunnah. Maka gerakan seperti inipun hukumnya menjadi sunnah.

Sedangkan gerakan yang dimakruhkan adalah gerakan yang tidak dibutuhkan dan tidak berhubungan dengan kesempurnaan sholat2).

Gerakan yang diharamkan adalah gerakan yang banyak dan terus menerus. Misalnya, seseorang yang sholat sementara saat berdiri, ruku’, sujud dan duduk selalu bermain main dengan gerakan-gerakan yang tidak terkait dengan gerakan sholat. Gerakan-gerakan seperti ini hukumnya haram karena ia membatalkan sholat.

Gerakan yang dibolehkan yaitu selain gerakan yang telah disebutkan. Misalnya, seseorang merasa gatal lalu ia menggaruknya atau kopiahnya turun sampai menutupi matanya lalu ia menaikkannya, maka ini adalah gerakan yang dibolehkan. Atau apabila ada seseorang yang minta izin lalu ia mengangkat tangan untuk mengizinkannya, maka ini juga termasuk gerakan yang diperbolehkan.

 

Dinukil dari: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no. 266.

Catatan Kaki:

1) HR. Abu Dawud no. 650. Di-shahih-kan oleh Ibnu Khuzaimah 1/384 no. 786; Ibnu Hibban 5/560 no. 2185.

2) Diantara hal-hal yang dimakruhkan dalam sholat:

a. Mengangkat muka kelangit.

b. Menyandarkan badan pada dinding/tembok.

c. Bermain-main yang tidak ada manfaatnya baik dengan tangan maupun kaki.

d. Membunyikan jari jemari.

e. Sholat pada tempat yang terdapat gambar.

f. Menahan sesuatu ketika sholat sehingga mengganggu kekhusyuan sholat kita. Misal, kita menahan kencing, buang air besar dll.

g. Dimakruhkan bagi orang yang sholat memasang sesuatu di tempat sujudnya kemudian ia sujud padanya (misal tisu, batu dll, pent), karena hal ini merupakan syiar orang-orang Syi’ah. (Lihat kitab Mulkhosh Fiqhiy. Oleh Syiakh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan 1/140-144, pent).

Iklan
Komentar
  1. Akhwat berkata:

    Penting ga sih?

    Tentunya apa yang ditanyakan umat kpd ulama adalah hal yg penting. Allah Ta’ala berfirman:”Dan bertanyalah kapada ahli dzikr (ulama) jika kamu tidak mengetahui”. Dan sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘aliahi wa sallam:”agama adalah nasehat”. Barokallah fiik.

    Kuwait, 12 Rabi’ul Awwal 1428 – 30 Maret 2007

  2. Ady berkata:

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Alhamdulillah, washshalaatu wassalaamu ‘ala rasulillah. Wa ba’d.

    Tidak ada dalam urusan dien ini yang tidak penting. Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan.

    Jazaakumullahu khairan.

  3. Fauzan berkata:

    apakah hati yang was-was tatkala sedang sholat dapat membatalkan sholat?

  4. yang terganggu berkata:

    hukum mengeser-ngeser kaki ketika sholat sehingga kaki menjadi mengkangkang apakah ini termasuk sunnah dalam sholat padahal dalam sholat harus dalam keadaan tenang dan khusyu ?

    Menurut Sunnah kita diperintahkan untuk merapatkan shof.Dalam syarh Al-Mumti’ kitabus sholah karya Ibn ‘Utsaimin rahimahullah di sebutkan bahwa cara merapatkan shof adalah dgn merapatkan MATA KAKI dengan MATA KAKI karena dengan cara demikian shof menjadi rapih dan kita ketahui bahwa panjang dan pendek kaki seseorang berbeda-beda.

  5. Yang terganggu berkata:

    mas itu pendapat hadist atau pendapat ulama padahal di dalam hadist kita harus merapatkan bahu bukan kaki.mas ketika kita sedang sholat berjamaah di masjid kita banyak-banyak mengingat Allah atau kaki

    Dalam hadits diterangkan sbb:”Lurus dan rapatkanlah shof-shof kalian karena lurus dan rapatnya shof adalah salah satu kesempurnaan sholat”. Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam Syarh Al-Mumti’ bahwa hal kami sebutkan sebelumnya adalah Ibroh/hikmah yang beliau dapat dari keterangan GURU beliau rahimahullah (Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah).

    Jika Anda memperhatikan hadits tersebut maka (insyaAllah) akan mendapat jawabannya, barokallah fiikum.

  6. Abu Muhammad Heriyanto berkata:

    Dari Anas ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:Luruskanlah shafmu, dan hendaklah kamu merapatkannya; karena sesungguhnya aku dapat melihatmu dari belakang punggungku.
    Anas berkata: Dan saya melihat bahwa para Shahabat saling merapatkan bahu-bahu mereka dengan bahu yang ada disebelahnya, dan mereka juga merapatkan kaki-kaki mereka dengan kaki yang ada disebelahnya. (Muttafaq ‘alaihi: Bukhari no. 725 dan
    Muslim no. 434)

    Dari Nu’man bin Basyir rodhiyallohu’anhu, beliau berkata, “Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam pernah menghadap manusia dengan wajahnya seraya mengatakan, Rapikanlah shof-shof kalian (3x). Demi Alloh, kalian merapikan shof kalian, atau kalau tidak maka Alloh akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian.’
    Nu’man berkata, ‘Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya.” (HR. Abu Dawud no. 662)

    Dari hadits2 ini jelas bagi kita bahwa merapatkan shof adalah dengan cara merapatkan bahu dengan bahu, lutut dengan lutut dan kaki dengan kaki (mata kaki). Wallahu a’lamu bish showwab

    Jazakumullah khoiron jaza’ atas informasinya.

  7. Akhukum fillah berkata:

    Bismillah. Afwan, ana sendiri kurang paham dengan terjemahan “Nu’man berkata, ‘Lalu saya melihat seorang merapatkan bahunya dengan bahu temannya…”. Pada kata seorang itu menunjukkan bahwa beliau (sahabat yang mulia Nu’man radhiallahu anhu) hanya melihat satu orang atau maksimal 2 orang. Ana katakan maksimal 2 orang krn kalimat merapatkan bahunya dengan bahu temannya. Padahal dalam riwayat tersebut terjadi ketika waktu shalat berjamaah. Yang ana tanyakan, apakah penerjemahan dg kata “seorang” itu memang sudah tepat dari teks bahasa Arabnya? Mohon penjelasannya akhi. Jazakallahu khairan.

  8. abu muhammad heriyanto berkata:

    @ Akhukum Fillah
    ana cm nukil terjemahan tersebut dari artikel yang ada di internet, tanpa merujuk ke kitabnya..
    Jika anta ingin mendapatkan pengetahuan dan faidah yang lebih, ada baiknya anta melihat lagi kepada kitab aslinya beserta syarahnya. Insya Allah, faidah yang akan didapatkan bukan cuma sekedar berapa orang shahabat yang dilihat oleh Nu’man bin Basyir..
    allahu a’lam

  9. abu muhammad heriyanto berkata:

    Sebagai misal, hadits yang diriwayatkan oleh al imam at tirmidzi rahimahullaah dari shahabat ibnu ‘abbas, dimana rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berwasiat kepada beliau radhiyallaahu ‘anhu. pertanyaannya adalah: apakah wasiat beliau ini hanya untuk ibnu ‘abbas saja ataukah untuk keseluruhan kaum muslim?

    demikian pula hadits nu’man tentang meluruskan dan merapatkan shaf. apakah apabila yang dilihat oleh nu’man bin basyir itu cuma 1 atau 2 orang shahabat, lantas apakah kemudian kita katakan bahwa cara meluruskan dan merapatkan shof yang seperti itu hanya berlaku untuk 1 atau 2 orang shahabat tersebut dan shahabat yang lainnya tidak meluruskan dan merapatkan shof seperti itu?

    Sebagai penguat, coba perhatikan hadits anas : “Dan saya melihat bahwa para Shahabat saling merapatkan bahu-bahu mereka dengan bahu yang ada disebelahnya, dan mereka juga merapatkan kaki-kaki mereka dengan kaki yang ada disebelahnya.”

    allahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s