FATWA-FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH TENTANG HUKUM VIDEO DAN GAMBAR

Posted: 11 - Januari - 2007 in Fatwa

FATWA-FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH

TENTANG HUKUM VIDEO DAN GAMBAR

Oleh: Al-Akh Ayub Abu Ayub, Yaman

 

1. Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya:

“Apa hukum pengajaran cara memandikan dan mengkafani (jenazah) melalui media video?”

Beliau menjawab:
“Pengajaran adalah dengan cara selain video, dikarenakan terdapat pada hadits-hadits shohih yang banyak tentang larangan menggambar (makhluk yang bernyawa) dan laknat terhadap orang-orang yang menggambar. (As’ilah Al Jam’iah Al Khairiyah di Syaqra’) (*1)

2. Dan beliau ditanya:
“Apakah perangkat televisi termasuk dalam bentuk menggambar? Ataukah yang haram hanya berupa hal-hal yang terpampang berupa program-program yang jelek?”

Beliau menjawab:
“Semua bentuk menggambar adalah haram” (Al Ibraz liaqwal Al Ulama’ fii Hukm At Tilfaz) (*2)

3. Asy Syaikh Al Albany berkata:
Mereka yang membolehkan menggambar gambar potret, membatasi hanya kepada cara menggambar yang dulu ma’ruf di zaman ketika hal itu dilarang. Mereka tidak mengolongkan pada hukum menggambar, terhadap cara yang baru ini, berupa gambar potret, dalam keadaan proses tersebut dinamakan menggambar secara bahasa, syar’i, akibat dan bahayanya. Seperti halnya yang demikian akan jelas dengan memperhatikan akibat dari pembedaan yang tersebut di atas. Aku pernah berkata kepada salah satu dari mereka, beberapa tahun lalu, “kalau demikian itu, berarti Mengharuskan kalian untuk membolehkan patung-patung yang tidak dipahat, hanya dengan menekan tombol listrik yang bersambung dengan alat khusus, terproduksilah puluhan patung dalam waktu beberapa detik saja…Apa yang kalian katakan pada hal yang demikian ini? Maka diapun bungkam!” (Adabu Az Zifaf) (*3)

4. Beberapa fatwa dari Al Lajnah Ad Daimah:
Pertanyaan: “Apakah fotografi masuk dalam hukum menggambar dengan tangan atau tidak?”

Jawaban: “Perkataan yang shohih yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i, dan merupakan perkataan jumhur ulama adalah bahwasanya dalil-dalil pengharaman menggambar makhluk-makhluk yang bernyawa mencakup fotografi dan gambar tangan, 3 dimensi atau 2 dimensi karena keumuman dalil-dalil.

Pertanyaan: “Terdapat bentuk baru dalam menggambar yaitu apa yang kami saksikan di televisi dan video dan selainnya berupa fita film, dimana gambar seseorang seperti yang mereka katakan, nyata. Dan gambar bisa tersimpan padanya, dalam waktu yang lama. Apa hukum jenis yang seperti ini termasuk hukum menggambar?”

Jawaban: “Hukum menggambar mencakup apa yang engkau sebutkan tersebut” (5807)

Pertanyaan: “Apakah menggambar dengan menggunakan kamera video hukumnya termasuk dalam hukum gambar fotografi?”

Jawaban: “Ya, Hukum menggambar dengan video adalah hukum menggambar dengan fotografi, yaitu terlarang dan haram karena keumuman dalil-dalil.” (16259) (*4)

5. Asy Syaikh Sholeh Al Fauzan ditanya:

“Apa hukum penggunaan media pengajaran berupa video dan film dan yang selainnya, dalam pengajaran ilmu syar’i seperti tafsir dan fiqh dan yang selainnya?

Beliau menjawab: “Pendapatku, yang demikian tersebut TIDAK BOLEH, karena yang demikian tersebut mesti disertai dengan mengambil gambar, dan menggambar (makhluk yang bernyawa) hukumnya haram dan tidak terdapat di situ hal-hal darurat yang menuntut demikian.”(Al Muntaqo 513) (*5)

6. Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata:

“Termasuk kemungkaran yang besar adalah seorang penceramah berdiri di sebuah masjid menyampaikah ceramahnya dan kamera menghadap kepadanya…dan siaran langsung termasuk dalam pengharaman, dan yang demikian termasuk gambar. Dan manusia menyebut yang demikian (yaitu siaran langsung) adalah gambar! Maka hal tersebut adalah haram. (Hukmu At Tashwir Dzawatil Arwah 70-71) (*6)

Fatwa-Fatwa Al Lajnah Ad Daimah

1. Pertanyaan: “Jika seandainya saya merantau ke luar negeri dan saya ingin mengirim gambarku kepada keluargaku dan teman-temanku, khususnya kepada istriku, apakah yang demikian ini boleh bagi seseorang, ataukah tidak?” (*7)

Jawaban: “Hadits-hadits yang shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan terhadap pengharaman gambar makhluk yang bernyawa dari kalangan bani Adam dan yang selainnya. Maka tidak boleh engkau mengambil gambar dirimu dan engkau kirim gambarmu tersebut kepada keluargamu begitu juga kepada istrimu. Wa billahi at taufiq wa shallallahu ‘alaa nabiyina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Anggota:
Abdurrozaq Afifi
Abdullah bin Gudhyan
Abdullah bin Qu’ud

2. Pertanyaan: “Apakah memotret dengan kamera haram atau tidak apa-apa bagi pelakunya?” (*8)

Jawaban: “Iya. Menggambar makhluk yang bernyawa dengan kamera dan selainnya haram dan wajib bagi pelakunya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala dan memohon ampun kepadaNya dan menyesal atas apa yang terjadi dan tidak mengulanginya kembali. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.
Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Anggota:
Abdurrozaq Afifi
Abdullah bin Gudhyan
Abdullah bin Qu’ud

3. Pertanyaan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung atau anjing.” Apakah termasuk di dalamnya gambar-gambar yang berada di dalam buku-buku dan perlu diketahui bahwa di sampulnya tidak terdapat gambar?” (*9)

Jawaban: “Masuk di dalam keumuman hadits walaupun gambar tidak berada di sampul. Dan tidak termasuk di dalam keumuman hadits kalau gambar kepala dihilangkan atau dihapus. Wa shallallahu ‘alaa nabiyina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Anggota:
Abdurrozaq Afifi
Abdullah bin Gudhyan

4. Pertanyaan: “Apa hukum mengambil gambar dengan kamera sebagai foto keluarga dan yang semisalnya sebagai kenang-kenangan atau hiburan saja dan bukan untuk yang lain?” (*10)

Jawaban: “Menggambar makhluk hidup haram bahkan termasuk dari dosa-dosa besar. Sama saja apakah pelaku menjadikannya sebagai pekerjaan atau tidak. Dan sama saja apakah gambar berupa ukiran atau lukisan dengan tangan dan yang semisalnya, atau sebaliknya dengan kamera dan yang semisalnya dari alat-alat ataukah berupa pahatan batu atau semisalnya…dan seterusnya. Dan sama saja apakah untuk sebagai kenang-kenangan atau yang selainnya. Dikarenakan hadits-hadits yang datang pada yang demikian. Dan hadits-hadits tersebut umum untuk segala macam proses menggambar dan gambar makhluk hidup. Tidak dikecualikan darinya kecuali yang disebabkan darurat.
Wa billahi at taufiq wa shallallahu ‘alaa nabiyina muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’
Ketua
Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Anggota:
Abdurrozaq Afifi
Abdullah bin Gudhyan
Abdullah bin Qu’ud

Ket :

(1) Tashwir Al Masyaikh bil fiidiyu laa yajuuz (5)
(2) Ibid (5) catatan kaki
(3) Ibid (7)
(4) Ibid(7)
(5) Ibid(5)
(6) Ibid(4)
(7) Fatawa Al Lajnah (1/457-458)
(8) Ibid (1/461)
(9) Ibid (1/477)
(10) Ibid (1/480)

Sumber: http://darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=515

Iklan
Komentar
  1. erik berkata:

    lalu bagaimana foto dalam KTP,PASPOR,SIM,dll apakah hukumnya haram,tolong penjelasannya
    wasallam

    Setahu kami untuk hal-hal seperti tersebut di atas ada pengecualian dikarenakan dalam keadaan doruriy (Lihat Syaikh Sholih Al-Fauzan 8/23-24; Fatawa Al-Lajnah Daimah Saudi Arabiyah 1/494 dan 1/395. Lihat juga dalam Kitab Fatawa ‘Ulama Al-Bilad Haramain). Allahu Ta’ala A’lam.

    Kuwait, 25 Jumadil Awwal 1428 H/10 Juni 2007 M

  2. erik berkata:

    kenapa pada biografi ulama, khususnya syaikh bin baaz ada gambar mahluk hidupnya,katanya haram.

    Maaf, seingat kami -dan Alhamdulillah telah kami cek dalam Blog ini- belum menulis biografi tentang Syaikh Ibn Baaz rahimahullah Ta’ala. Dapatkah anda sebutkan dimana?

  3. bond berkata:

    “Setahu kami untuk hal-hal seperti tersebut di atas ada pengecualian dikarenakan dalam keadaan doruriy”
    kok gampang aj ya mengatakan itu, padahal itu juga kn pake foto?
    trus batasan doruriy apa?
    setahu sy batasan doruriy itu amat sangat susah…
    sy bukannya gk pcy sama fatwa2 diatas tapi apakah bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?(sy yakin dengan ulama2 tersebut tapi apakah fatwa2 itu bener2 dari mereka)..
    hadis2 yang katanya shahih pun msh ada yang bertentangan, trus gmn niih….

    ٍSilakan anda lihat sendiri pada buku-buku yang kami sebutkan tersebut sehingga keragu-raguan dalam hati anda sirna. Barokallah fiik.

  4. abullaits lutfi berkata:

    Apakah video2 masyaikh yang beredar di internet dan TV saudi sudah dikonsolidasikan atau diberitahu kepada ‘ulamanya itu sendiri……………..ada seperti syaikh abdul aziz alusy-syaikh, shalih alusy-syaikh, syaikh shalih luhaydan, syaikh muhammad bin shalih al-utsaimin, syaikh abdul-malik ar-ramadhani, abullah bin mani’. mohon jawabannya..

  5. Bismillahirrohmanirrohim…, beberapa hari yang lalu, saya menyaksikan melalui parabola ceramah dan nasehat dari Syaikh Sholih Fauzan Al Fauzan hafidhahullah ketika beliau di wawancara oleh kru TV Saudi Arabia…, lumayan lama sekitar kurang lebih 30 menit. Bukannya ber su’udzon terhadap syaikh Al Fauzan.., hanya saja.., ketika itu ana sempat kaget…, apakah “teleconference” dan televisi itu HARAM SECARA MUTLAK atau di bolehkan dengan syarat-syarat tertentu, misalnya memberikan pelajaran melalui televisi seperti yang dilakukan oleh mufti hai’ah kibaril ulama syaikh alu syaikh dan syaikh ut’saimin rahimahullah…?! wallahu ta’ala a’lam … yang jelas…, ana masih bingung dengan masalah foto dan televisi ini karena banyak juga para ulama yang “sepertinya” tidak mengharamkannya…………….. Akhi, tolong sampaikan salam untuk para masyaikh di tempat antum berada…., do’akan semoga ana tetap istiqomah ittiba’ manhaj salaf. syukron…………

    Menurut Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin no. 246 (Majmu’ Fatawa wa Rosail) bahwa hal itu (tampilnya masyaikh di TV) merupakan hasil ijtihad mereka. Apabila benar maka 2 pahala dan apabila salah salah maka 1 pahala bagi mereka. Berikut kami nukilkan naskah fatwa tersebut:
    246 سئل فضيلة الشيخ : ما حكم صور الكرتون التي تخرج في التليفزيون ؟ وما قولكم في ظهور بعض المشايخ فيه ؟ وما حكم استصحاب الدراهم التي فيها صور ؟
    فأجاب قائلاً : أما صور الكرتون التي ذكرتم أنها تخرج ي التليفزيون فإن كانت على شكل آدمي فحكم النظر فيها محل تردد ، هل يلحق بالصور الحقيقية أو لا ؟
    والأقرب أنه لا يلحق بها .
    وإن كانت على شكل غير آدمي فلا بأس بمشاهدتها إذا لم يصحبها أمر منكر من موسيقى أو نحوها ولم تله عن واجب .
    وأما ظهر بعض المشايخ في التليفزيون : فهو محل اجتهاد إن أصاب الإنسان فيه فله أجران، وإن أخطأ له أجر واحد ، ولا شك أن المحب للخير منهم قصد نشر العلم وأحكام الشريعة ، لأن التليفزيون أبلغ وسائل الإعلام وضوحاً ، وأعمها شمولاً ، أشدها من الناس تعلقاً فهم يقولون إن تكلمنا في التليفزيون وإلا تكلم غيرنا ، وربما كان كلام غيرنا بعيداً من الصواب، فننصح الناس ، ونوصد الباب ونسد الطريق أمام من يتكلم بغير علم فيضل ويضل .
    وأما استصحاب الرجل ما ابتلى به المسلمون اليوم من الدراهم التي عليها صور الملوك والرؤساء فهذا أمر قديم ، وقد تكلم عليه أهل العلم ، ولقد كان الناس هنا يحملون الجنية الفرنجي وفيه صورة فرس وفارس ، ويحملون الريال الفرنسي وفيه صورة رأس ورقية وطير. والذي نرى في هذا أنه لا إثم على ما ستصحبه لدعاء الحاجة إلى حمله إذ الإنسان لابد له من حمل شيء من الدراهم في جيبه ، ومنع الناس من ذلك فيه حرج وتعسير وقد قال الله تعالى: ( يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ) . وقال تعالى : ( وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ) . وصح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال (( إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا و أبشروا )) . رواه البخاري . وقال لمعاد بن جبل وأبي موسى عند بعثهما إلى اليمن : (( يسرا ولا تعسرا ، وبشرا ولا تنفرا )) . وقال للناس حين زجروا الأعرابي الذي بال في المسجد ك (( دعوه فإنما بعثتم ميسرين ، ولم تبعثوا معسرين )) . رواهما البخاري أيضاً .
    فإذا حمل الرجل الدراهم التي فيها صورة ، أو التابعية ، أو الرخصة وهو محتاج إليها أو يخشى الحاجة فلا حرج في ذلك ، ولا إثم – إن شاء الله تعالى – إذا كان الله تعالى يعلم أنه كاره لهذا التصوير وإقراراه وأنه لولا الحاجة إليه ما حمله .
    والله أسأل أن يعصمنا جميعاً والمسلمين من أن تحيط بنا خطايانا وأن يرزقنا الثبات والاستقامة على دينه ، إنه جواد كريم .

    Kuwait, 21 Jumadits Tsani 1428 H – 6 Juli 2007 M

  6. bond berkata:

    lho kok komentar saya gk ditampilkan?
    apa situs ini emang gk boleh memberi komen yang bersifat kritik?

    Kami persilakan kepada anda dan bagi siapa saja untuk memberikan komentar yang bersifat kritikan terhadap postingan dalam blog ini asalkan kritikan itu bersifat ilmiyah (Berdasar Al-Qur’an, As-Sunnah yang Shahih, serta perkataan sahabat radhiallahu anhum).

    Perlu anda ketahui bahwa blog ini adalah blog religious, maka segala sesuatunya mesti berdasar dalil bukan asal-asalan menurut suara hati/akal pikiran yang tidak SALIM.

  7. bond berkata:

    “Perlu anda ketahui bahwa blog ini adalah blog religious, maka segala sesuatunya mesti berdasar dalil bukan asal-asalan menurut suara hati/akal pikiran yang tidak SALIM.”

    lho emangnya koment saya gmn, kok anda ngom spt itu? saya kn cm mempertanyakan knp jawaban yang anda berikan untuk koment dari Abu Muhammad bin Zailani bin Nur Ahmad gak sesuai dengan pertanyaannya, apakah dikarenakan anda gak berani mengkritik ulama anda?
    apa sih yang salah dengan komen saya, coba anda jelaskan.
    kalau emang anda gak mau dikritik ya jangan ada kolom komentar donk…

    apa komen saya ini mo dihapus juga?
    syukron….

    Sebagiamana jawaban kami kepada Al-Akh Abu Muhammad bahwa hal itu (muculnya beberapa masyayikh di TV) adalah hasil ijtihad mereka -semoga Allah menjaga mereka semua-. Hal ini merupakan fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

  8. bond berkata:

    Assalamualaikum…

    koq tetep aja jawabannya gak nyambung. dalam artikel anda di atas jelas sekali anda mengharamkan penggunaan gambar dan video dengan memunculkan fatwa-fatwa ulama seperti tersebut di atas. tetapi ketika ada pertanyaan tentang teleconference dan televisi kenapa anda tidak bisa tegas dalam menjawabnya?
    kalo memang video dan gambar haram secara mutlak harusnya anda bisa dengan mudah menjawabnya, tapi yang ada kok malah anda seperti “berkelit”.
    kalo anda tidak tahu jawabannya ya jawab aja gak tahu kan lebih enak berarti kita harus banyak belajar/mencari ilmunya.

    Wassalamualaikum….

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Ya akhi, ulama berbeda pendapat dalam menghukumi gambar. Syaikh Muhammad Sholih Al-‘Utsaimin menghukumi boleh menggunakan foto/camera dengan alasan bukan hasil tangan (menggambar langsung dengan tangan) tetapi beliau rahimahullah memberi catatan dalam hal itu (gambar) – InsyaAllah artikelnya akan kita dapatkan dalam blog ini-. Sedangkan Syaikh Bin Baaz, Lajnah Daimah, Syaikh Muqbil dll mengharamkan hukum gambar secara mutlak -kecuali dalam keadaan darurat-, DAN KAMI PRIBADI MEMILIH PENDAPAT INI. Jawaban kami kepada Al-Akh Abu Muhammad adalah jawaban yang berasal dari Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah karena kami hanya menemukan fatwa Syaikh Al-‘Utsaimin dalam masalah munculnya Masyayik di TV, Allahu A’lam.

  9. Mohamad Rajiv berkata:

    Assalamu’alaikum

    saya ingin menanyakan kalau di pakaian ada gambar kepala manusia tanpa badan , tanpa lengan dan tanpa kaki jadi hanya kepala saja , berikut mata , telinga dan hidung , apakah itu termasuk makhluk bernyawa?

    ada dalilnya?

    Wassalam

  10. git berkata:

    assalamu’alaikum

    kalo begitu bagaimana nasib saya di yaumul hisab nanti?
    saya tukang foto studio! T_T

    wassalamu’alaikum

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

  11. orgawam berkata:

    Bagaimana hukumnya cermin? Kalau cermin di lihat pasti ada gambar orang di depannya.

    Silakan Anda baca artikel-artikel dalam masalah ini dengan teliti, insya Allah Anda akan menemukan jawabannya. Barokallah fiikum.

  12. orgawam berkata:

    Dari (artikel) fatwa di atas, berarti cermin haram … yaa?

    Na’am dan tentunya Anda dapat mengambil kesimpulannya, Barokallah fiik (semoga Allah memberkahi Anda).

  13. Abu Usamah Wahid berkata:

    Cermin Haram ?

    Ana telah baca lagi tulisan2 diatas. Kalau untuk rekaman video ana masih sepakat kalau memang ada yang menggolongkan ke dalam “menggambar:, karena secara adat memang hasil rekaman/siaran itu disebut “gambar” juga. Namun kalau masalah cermin/kaca, setahu saya belum pernah ada yang menyebutnya gambar, namun hanya bayangan yang kalau kita berlalu segera hilang (bedakan dengan kamera foto/video yang dasar kerjanya adalah dengan bayangan juga, namun hasilnya ditangkap dlm bentuk gambar) . Jadi ana masih ragu apakah bercermin itu masuk ke dalam hukum menggambar . Adakah keterangan yang lebih jelas tentang masalah ini ? Ana juga sudah pernah baca terjemahan bhs Indonesia kitab “Hukmu At Tashwir Dzawatil Arwah”, dan saya belum menemukan penngharaman cermin dengan jelas disitu.
    Mohon tanggapannya

    Jazakallahu khoir

    Allahu A’lam, kami belum pernah membaca tentang hukum yang Anda tanyakan ini.