Hukum Do’a Qunut Pada Sholat Shubuh

Posted: 8 - Desember - 2006 in Fiqih

HUKUM DO’A QUNUT PADA SHOLAT SHUBUH

Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Dzulkarnain

Pertanyaan :
Salah satu masalah kontraversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya ?

Jawab :
Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur’an maupun As-sunnah yang shohih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar maka hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim :

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّ. وَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ : ((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu adalah tertolak”. Dan dalam riwayat Muslim : “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) adalah tertolak”.

Dan ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.
Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama
Ada tiga pendapat dikalangan para ulama, tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.
Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.
Pendapat kedua : Qunut shubuh tidak disyariatkan karena qunut itu sudah mansukh (terhapus hukumnya). Ini pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury dan lain-lainnya dari ulama Kufah.
Pendapat ketiga : Qunut pada sholat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah maka boleh dilakukan pada sholat shubuh dan pada sholat-sholat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy dan ahli fiqh dari para ulama ahlul hadits.

Dalil Pendapat Pertama
Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.

Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari Anas bin Malik.
Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.

Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”.

Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).
Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.
Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :
Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.
Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.
emudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :
Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :

قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ

“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga mereka”.
Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :
Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).
Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.
Catatan :
Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ

“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.
Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.
Jalan kedua : Dari jalan Khalid bin Da’laj dari Qotadah dari Anas bin Malik :

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ

“Saya sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan dibelakang ‘umar lalu beliau qunut dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut”.
Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadi ts wa Mansukhih no.219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Rozy tapi Ibnu Turkumany dalam Al Jauhar An Naqy menyalahkan hal tersebut, beliau berkata : “Butuh dilihat keadaan Khalid apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daruquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’ in berkata di (kesempatan lain) : laisa bi syay`in (tidak dianggap) dan An-Nasa`i berkata : laisa bi tsiqoh (bukan tsiqoh). Dan tidak seorangpun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengkategorikannya dalam rowi-rowi yang matruk.
Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya “Terus-menerus beliau qunut pada sholat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia”, itu tidak terdapat dalam hadits Khal id. Yang ada hanyalah “beliau (nabi) ‘alaihis Salam qunut”, dan ini adalah perkara yang ma’ruf (dikenal). Dan yang aneh hanyalah terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia. Maka di atas anggapan dia cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)”.
Jalan ketiga : Dari jalan Ahmad bin Muhammad dari Dinar bin ‘Abdillah dari Anas bin Malik :

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ

“Terus-menerus Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa Sallam qunut pada sholat Subuh sampai beliau meninggal”.
Dikeluarkan oleh Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya, Ibnul Jauzy dalam At-Tahq iq no. 695.
Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Dan Dinar bin ‘Abdillah, kata Ibnu ‘Ady : “Mungkarul hadits (Mungkar haditsnya)”. Dan berkata Ibnu Hibba n : “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya”.
Kesimpulan pendapat pertama:
Jelaslah dari uraian diatas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.
Kemudian anggaplah dalil mereka itu shohih bisa dipakai berhujjah, juga tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut itu secara bahasa mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi dan Ibnul Arabi.
1. Doa
2. Khusyu’
3. Ibadah
4. Taat
5. Menjalankan ketaatan.
6. Penetapan ibadah kepada Allah
7. Diam
8. Shalat
9. Berdiri
10. Lamanya berdiri
11. Terus menerus dalam ketaatan
Dan ada makna-makna yang lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi 2/1022, Mufradat Al-Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lain.
Maka jelaslah lemahnya dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.
Dalil Pendapat Kedua
Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika selesai membaca (surat dari rakaat kedua) di shalat Fajr dan kemudian bertakbir dan mengangkat kepalanya (I’tidal) berkata : “Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu, lalu beliau berdoa dalaam keadaan berdiri. “Ya Allah selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kaum mu`minin. Ya Allah keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadianlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakw an dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian sampai kepada kami bahwa beliau meningalkannya tatkala telah turun ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (HSR.Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal :
Pertama : ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib.
Kedua : Diriwayatkan oleh Bukhary – Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata :

وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.

Dari Abi Hurairah radliyallahu `anhu beliau berkata : “Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur, Isya’ dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir”.

Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansu kh. Andaikata qunut nazilah telah mansukh tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara sholat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah .
Dalil Pendapat Ketiga
Satu : Hadits Sa’ad bin Thoriq bin Asyam Al-Asyja’i

قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ”.

“Saya bertanya kepada ayahku : “Wahai ayahku, engkau sholat di belakang Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada sholat subuh ?”. Maka dia menjawab : “Wahai anakku hal tersebut (qunut subuh) adalah perkara baru (bid’ah)”. Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no.1080 dan dalam Al-Kubro no.667, Ibnu Majah no.1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thoy alisy no.1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/101 no.6961, Ath-Thohawy 1/249, Ath-Thobarany 8/no.8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihs an no.1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.677-678 dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kam al dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil no.435 dan syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shoh ihain.
Dua : Hadits Ibnu ‘Umar

عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ”.

” Dari Abu Mijlaz beliau berkata : saya sholat bersama Ibnu ‘Umar sholat shubuh lalu beliau tidak qunut. Maka saya berkata : apakah lanjut usia yang menahanmu (tidak melakukannya). Beliau berkata : saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku”. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy 1\246, Al-Baihaqy 2\213 dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2\137 dan Al-Haitsamy berkata :”rawi-rawinya tsiqoh”.
Ketiga : tidak ada dalil yang shohih menunjukkan disyari’atkannya mengkhususkan qunut pada sholat shubuh secara terus-menerus.
Keempat : qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal dikalangan para shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar diatas, bahkan syaikul islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa berkata : “dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung hal tersebut dari perkara-perkara baru yang bid’ah”.
Kelima : nukilan-nukilan orang-orang yang berpendapat disyari’atkannya qunut shubuh dari beberapa orang shahabat bahwa mereka melakukan qunut, nukilan-nukilan tersebut terbagi dua :
1) Ada yang shohih tapi tidak ada pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.
2) Sangat jelas menunjukkan mereka melakukan qunut shubuh tapi nukilan tersebut adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah.
Keenam: setelah mengetahui apa yang disebutkan diatas maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa disyari’atkannya qunut shubuh secara terus-menerus dengan membaca do’a qunut “Allahummahdinaa fi man hadait…….sampai akhir do’a kemudian diaminkan oleh para ma’mum, andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya masalah sholat karena ini adalah ibadah yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak para shahabat. Tapi kenyataannya hanya dinukil dalam hadits yang lemah.
Demikian keterangan Imam Ibnul qoyyim Al-Jauziyah dalam Z adul Ma’ad.
Kesimpulan
Jelaslah dari uraian di atas lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga sehinga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.
Silahkan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al Qurthuby 4/200-201, Al Mughny 2/575-576, Al-Inshof 2/173, Syarh Ma’any Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshoh 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Raud Al Murbi’ : 2/197-198, Nailul Author 2/155-158 (Cet. Darul Kalim Ath Thoyyib), Majm u’ Al Fatawa 22/104-111 dan Zadul Ma’ad 1/271-285.

Sumber:
http://www.an-nashihah.com

Iklan
Komentar
  1. i a berkata:

    Sebenarnya menghukum apakah membaca qunut pada sholat subuh itu merupakan sunnah rasul saw atau tidak, mudah saja !!

    Sholat subuh merupakan sholat wajib yang dilakukan secara berjamaah di mesjid nabawi dari mulai Rasulullah saw dan seterusnya.

    Pertanyaannya koq bisa terjadi perbedaan apakah itu sunnah Rasul saw atau malah bid’ah ?

    Kalau Rasul mengerjakan seperti point-1 pada tulisan diatas maka seyogyanya para shahabat meneruskan perbuatan itu setelah nabi saw wafat, kemudian diteruskan lagi oleh para tabi’in dst.

    Doa qunut pada sholat subuh adalah sesuatu yang jelas tampak bukan seperti bacaan dalam sholat yang memerlukan kalimat dalam periwayatannya. Kalau tidak salah dalam hadits ilmu ini disebut sunnah amaliah.

    Jadi mengenai qunut kita lebih harus mengacu pada Imam Malik bin Anas rahimahullah yang merupakan orang Madinah dibanding Abu Hanifah rahimahullah( orang Kufah ) ataupun Laits bin Sa’ad rahimahullah( orang Mesir ) ataupun Ahmad bin Hanbal rahimahullah( orang Baghdad .

    Kalau hal tersebut tidak dilakukan oleh salafus sholihin dari madinah tentunya Imam Malik tidak akan mengerjakannya!. Imam Malik sendiri adalah seorang salafus sholihin dari kalangan tabiut tabi’in.

    Tulisan diatas mengatakan bahwa do’a qunut dalam sholat subuh adalah bid’ah. Dengan kata lain mengatakan bahwa Imam Malik bin Anas dan Imam Syafi’i rahimakumallah adalah penyeru bid’ah (mereka berfatwa bahwa qunut subuh adalah sunnah )

    Buat yang mengaku-aku pengikut salafus sholihin janganlah anda menghujat para salaf hanya karena fatwa segelintir kalangan khalaf yang sangat jauh masanya dari sumber riwayat akan tetapi sering merasa lebih tahu dari para salaf yang sebenarnya.

    Gaya bahasa kalaian dalam berdakwah banyak menimbulkan fitnah dalam umat Islam ( apakah anda tidak menyadarinya )dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan ( qur’an ). Hal ini membuat Islam yang sedang lemah menjadi semakin lemah. Ini sangat menyenangkan musuh-musuh Islam ( saya yakin anda tidak menginginkannya ! ).

    Wal afu minkum
    Wasalamualaikum WR WB.

    Untuk melengkapi bahasan tentang Masalah qunut, berikut kami nukilkan fatwa LAJNAH AD-DA’IMAH LIL BUHUTS (Komite tetap fatwa, KSA) fatwa ke 2222.
    Soal: Membaca do’a qunut pada sholat subuh dan sholat witir boleh atau tidak?
    Jawab:Membaca do’a qunut pada sholat witir adalah MUSTAHAB (=disukai), hal ini sebagaimana hadits dari Al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami kalimat yang begitu tinggi bagi kami dalam qunut witir, yaitu: اللهم اهدني فيمن هديت و عافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبالرك فيما أعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت diriwayatkan oleh yang yang lima. Sedangkan do’a qunut dalam sholat shubuh selain pada sholat yang lima waktu tidak ada syari’atnya bahkan hal ini (do’a qunut, pent) adalah perbuatan bid’ah kecuali jika terjadi suatu musibah yang terjadi pada umat muslimin karena disyari’atkannya qunut adalah untuk menghilangkan hal tersebut karena Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam melakukan do’a qunut pada sholat yang lima waktu untuk mendo’akan suatu kaum yang telah membunuh para sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kebanyakan melakukan do’a qunut pada sholat fajar setelah ruku’ pada roka’at kedua, sedangkan keyakinan bahwa beliau sholallahu ‘alaihi wa sallam melakukan do’a qunut pada setiap sholat shubuh adalah bid’ah. Hal ini (membaca do’a qunut pada sholat shubuh, pent) sebagaimana yang diyakini oleh sebagian ahli ilm, karena hal yang demikan itu tidak berasal dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam karena berasal dari hadits-hadits yang lemah (dlo’if). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad yang Jayyid (bagus) dari Sa’ad bin Thoriq, ia berkata:”Saya bertanya kepada bapakku:’Sesungguhnya engkau telah melakukan sholat dibelakang Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiallahu ‘anhum. Apakah mereka melakukan qunut pada sholat fajar?’, ia menjawab:”Hal ini (qunut) adalah muhdats (bid’ah,pent)” (HR. Ahmad 3/372; An-Nasa’i 2/204 no. 1080; At-Tirmidzi 2/252 no. 402; Ibn Majah 1/393 no. 1241). (Lihat Fatawa Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts, jilid: 7 hal: 45-46)
    Kuwait, 3 Robi’ul Tsani 1428 – 20 April 2007

  2. ibnu umar berkata:

    Ass Wr Wb,

    Imam Malik rm dikenal selalu mendahului kebiasaan ahlul Madinah dibanding hadits ahad !.

    Berarti sebelum beliau memfatwakan sunnahhnya doa qunut dalam sholat subuh , tentunya amalan ini sudah merupakan kebiasan ahlul madinah saat itu yang terdiri dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan pastinya mereka mengikuti pendahulu mereka yaitu kalangan shahabat. Apakah mereka mau menjadi ahlul bid’ah ?.

    Mengapa kita harus mengikuti fatwa Kerajaan Saudi Arabia ? padahal salaf ( Imam Malik dan Imam Syafi’i rm ) telah menfatwakannya pada kita ?

    Wassalam

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Sahabat1) berkata:”Hampir saja kalian ditimpa hujan batu dari langit, ketika aku mengatakan telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tetapi kalian berkata:’telah berkata Abu Bakr dan ‘Umar”.

    Makna kalimat ini adalah:”Apabila kita menerangkan akan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih tentang suatu hukum, maka kita membantah sabdanya dengan perkataan/pendapat FULAN dan FULAN” Allahu A’lam.

    Kuwait, 14 Robi’ul Tsani 1428 – 1 Mei 2007

    Catatan Kaki:

    1) Bagi ikhwah yang ingat akan nama sahabat tersebut tolong informasikan kepada kami, yang kami ingat perkataan tersebut terdapat dalam kitab Al-Firqotun Najiyah Ath-Thoifah Manshuroh karya Syaikh Jamil Zainu hafizahullah

  3. ibnu umar berkata:

    Sdr Abd. Rahman, kami menerima perbedaan pendapat ( ikhtilaf ) sebagai suatu yang wajar dan kami tidak merasa yang paling benar apalagi PASTI BENAR, itu adalah haq Allah semata. Tetapi antum nampaknya terlalu buta untuk mau mendengarkan apalagi memahami pendapat fihak lain.

    Kalau anda memperhatikan kedua tulisan saya diatas anda mustinya sudah jelas dengan dasar kami ( ingat kita semua sepakat bahwa sumber utama adalah Qur’an dan sunnah rasul ). Anda menggunakan dalil sebuah riwayat ( ahad ) yang mulai dicatat pada zaman Ahmad bin Hanbal rm ( 164-241H ) yang hidup di kota Baghdad ( dengan jarak lebih 1000 km dari Madinah ) untuk suatu kabar yang bersifat amaliah. Sedang kami menggunakan dalil berdasarkan suatu riwayat yang digunakan oleh Imam Malik bin Anas rm ( 93 -179 H ) dan diyakini sudah merupakan sunnah penduduk kota Madinah yang merupakan kota Nabi saw.

    Dengan dasar itu kami meyakini bahwa doa qunut pada sholat subuh merupakan SUNNAH Rasul ( bukan sekedar sunnah Abubakar dan Umar ), dan hukumnya adalah sunnah, bukan wajib.

    Kalau antum tidak menerima pendapat kami, ya ngga apa-apa !, tetapi jangan menuduh kami sebagai ahlul bid’ah. Anda tahu berapa banyak penganut madzhab Syafi’i dan Maliki yang akan tersinggung dengan pandangan antum dan ini dapat menyebabkan perpecahan umat Islam yang kita cintai ini.

    Setahu kami para salaf sangat toleran dalam menyikapi perbedaan. Mereka sering mengatakan :”ahlul madinah berpendapat a, ahlul kufah berpendapat b, ahlul bashrah berpendapat c, …. kami berpendapat seperti ini, wallahu alam bisawab”.

    Saya harap antum akan lebih arif dalam berdakwah tentang menyikapi perbedaan ( ikhtilaf ).

    Wassalam.

    Sesungguhnya jika anda melihat dengan teliti artikel&jawaban kami atas komentar yang terdahulu maka sudah nampak dengan jelas bahwa hal ini (membaca qunut pada sholat shubuh, pent) nyata kebid’ahannya.

    Jika dilihat dari sisi pendalilan yang digunakan oleh orang-orang yang melaksanakan qunut pada sholat shubuh, maka dalil yang mereka gunakan bersetatus dho’if (lemah).

    Dalil yang mereka gunakan adalah sbb; Diriwayatkan1) dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya beliau tidak pernah meninggalkan qunut pada sholat shubuh hingga akhir hayatnya (HR. Ahmad 3/162; Al-Bazar dalam “Kasyful Astar” 1/279 no. 556,557; Ad-Daruquthniy 2/39, 41; Abdur Rozaq 3/110 no. 4964; Al-Baihaqiy 2/201; Ath-Thohawiy dalam “Syarh Ma’aniy Al-Atsar” 1/244).

    Kelemahan hadits di atas dikarenakan adanya perawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Roziy.

    Berkata Abdullah bin Ahmad:”Dia (Abu Ja’far Ar-Roziy, pent) tidaklah kuat’.

    Berkata ‘Ali bin Al-Madiniy:”Sesungguhnya padanya terdapat percampuran”.

    Berkata ‘Amr bin ‘Ali Al-Gholas:”Dia shoduq dan terjadi sesuatu pada hafalannya”.

    Oleh karenanya hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah.

    Kemudian dalil-dalil lainnya yang mereka gunakan sesungguhnya menunjukkan bahwa dalil-dalil tersebut tidak mengisyaratkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya melakukan qunut pada sholat shubuh saja akan tetapi beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut pada sholat yang lima waktu setelah ruku’ pada raka’at terakhir.

    Diriwayatkan dari Anas:”Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut (Nazilah, pent) selama sebulan untuk mendo’akan keselamatan bangsa arab kemudian beliau meninggalkannya” (Dikeluarkan oleh: Ahmad 3/249; Muslim 1/469 no. 677; Abu Dawud 2/143-144 no. 1445; An-Nasa’I 2/204 no. 1079; Abu Ya’la 5/374, 413, 6/12, 8/442 no. 3028, 3096, 5029, 3231).

    Diriwayatkan dari Al-Baro’ bin ‘Azab:”Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut (Nazilah, pent) pada sholat Maghrib dan Fajar” (Dikeluarkan oleh: Ahmad 4/280; Muslim 1/480 no. 678; Abu Dawud 2/141 no. 1441; At-Tirmidzi 2/251 no. 401; An-Nasa’I 2/202 no. 1076).

    Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari jalan Abu Hurairoh sbb:”Abu Hurairoh melakukan qunut pada roka’at terakhir dari sholat Dhuhur, ‘Isya dan Shuhuh setelah mengucapkan:سمع الله لمن حمده, untuk mendo’akan kaum mukminin dan melaknat kaum kufar” (Dikeluarkan oleh: Ahmad 2/255, 337, 470; Bukhori 1/193; Muslim 1/468 no. 676; Abu Dawud 2/141 no. 1440; An-Nasa’I 2/202 no. 1075; Baihaqiy 2/198)

    Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:” Dan sholat Ashar”.

    Do’a qunut dilakukan setelah ruku’ pada raka’at terakhir, hal ini sebagaimana diterangkan dalam dalil berikut ini.

    Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiallahu anhuma, ia berkata:
    “قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم شهرا متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء والصبح في دبر كل صلاة إذا قال: سمع الله لمن حمده من ركعة الأخرة….”. (أخرجه أحمد 1/301-302؛ أبو داود 2/143 برقم: 1443).
    “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut (nazilah, pent) selama sebulan penuh pada waktu sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Shubuh pada dubur (akhir) setiap sholat ketika membaca Sami’ Allahu liman hamidah pada raka’at terakhir….” (Dikeluarkan oleh: Ahmad 1/301-302; Abu Dawud 2/143 no. 1443).

    Berikut kami nukilkan beberapa perkataan imam yang empat (Abu Hanifah, Syafi’I, Ahmad dan Imam Malik) tentang larangan taqlid kepada mereka.
    a. Abu Hanifah rahimahullah
    إذا صح الحديث فهو مذهبي (ابن عابدين في “الحاشية” 1/63).
    “Apabila shohih suatu hadits, maka itu adalah mazhabku” (Dikeluarkan oleh: Ibn ‘Abidin dalam Al-Hasyiyah 1/63).

    لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه (ابن عبد البر في “الإنتقاء في فضائل الثلاثةالأئمة الفقهاء, ص: 145؛ ابن القيم في “إعلام الموقعين” 2/309؛ ابن عابدين في “حاسيته” على “البحر الرائق” 6/293).
    “Tidak dihalalkan bagi seseorang mengambil pendapat kami apabila mereka tidak mengetahui dariman kami mengambilnya” (Dikeluarkan oleh: Ibn Abdul Bar dalam Al-Intiqo’ fii Fadho’il Tsalatsa A’imah Fuqoha’, hal: 145; Ibn Qoyyim Al-Juaziyyah dalam I’lam Al-Muwaqi’in 2/309; Ibn ‘Abidin dalam Hasyiyah-nya terhadap Al-Bahrul Ro’iq 6/293).

    b. Imam Malik rahimahullah
    إنما أنا بشر أخطئ وأصيب, فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه, وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه.
    “Sesungguhnya aku ini adalah seorang manusia yang bias benar dan salah, maka lihatlah pendapatku. Apabila pendapatku menetapi Al-Qur’an dan Sunnah maka ambillah dan apabila tidak menetapi Al-Qur’an dan Sunnah maka tinggalkanlah” (Dikeluarkan oleh: Ibn Abdul Bar dalam Al-Jami’ 2/32; Ibn Hazm dalam Ushul Al-Ahkam 6/149; Al-Falaniy, hal: 72).

    ليس أحد – بعد النبي صلى الله عليه و سلم – إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه و سلم.
    “Tidak seorangpun – setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam- kecuali dapat diterima dan ditinggalkan pendapatnya kecuali Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam” (Dikeluarkan oleh: Abdul Bar dalam Al-Jami’ 2/91; Ibn Hazm dalam Ushul Al-Ahkam 6/135 dan 179).

    c. Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah

    إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم ودعوا ما قلت.
    “Apabila kalian dapatkan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku berpendapat dengan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan aku mencabut apa yang telah aku ucapkan” (Lihat dalam kitab Ashlu Shifat Sholat Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Minat Takbir Ilat Taslim Ka’anaka Tarohaa, jilid: 1, hal: 29. Syaikh Al-Albani)

    إذا صح الحديث, فهو مذهبي
    “Apabila shohih suatu hadits, maka itu adalah mazhabku” (Dikeluarkan oleh: Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ 1/63; Asy-Sya’roniy 1/57).

    d. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

    لا تقلدني, ولا تقلد مالكا, ولا الشافعي,ولا الأوزاعي, ولا الثوري, وخذ من حيث أخذوا
    “Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Syafi’iy, Al-Auza’iy dan Ats-Tsauriy. Kalian ambillah sebagaimana kami mengambil darinya (yakni dari Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, pent)” (Dikeluarkan oleh: Al-Falaniy 113; Ibn Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Al-I’lam 2/302).

    رأي الأوزاعي, ورأي مالك, ورأي أبي حنيفة؛ كله رأي, وهو عندي سواء, وإنما الحجة في الآثار.
    “Pendapat Al-Auza’iy, Malik, Abi Hanifah dan pendapatku adalah sama hanya sekedar pendapat. Dan hujjah yang sebenarnya terdapat dalam atsar (hadits, pent)” (Dikeluarkan oleh: Ibn Abdul Bar dalam Al-Jami’ 2/149). Allahu A’lam

    Kuwait, 14 Robi’ul Tsani 1428 – 1 Mei 2007

    Catatan Kaki:
    1)Berkata Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab 1/60) secara ringkas:”Berkata para ulama muhaqiq (peneliti, pent) dari para ahli hadits dan selainnya:’Apabila hadits itu dho’if, maka janganlah engkau mengatakan padanya “Telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”, atau “Rasulullah telah melakukan” atau “Rasulullah telah memerintahkan” atau “Rasulullah telah melarang” dan kalimat-kalimat yang lainnya yang menggunakan shigho jazm. Akan tetapi pergunakanlah kalimat “Telah diriwayatkan darinya” atau “Dinukilkan darinya” atau kalimat-kalimat yang semisalnya dengan menggunakan shigho tamridh. Shighoh jazm digunakan untuk hadits-hadits yang berderajat shohih dan hasan sedangkan shoghoh tamridh digunakan untuk hadits-hadits selain itu…”.

  4. ibnu umar berkata:

    Ass Wr Wb,

    Sekali lagi antum memastikan ‘nyatanya kebid’ahan qunut pada sholat subuh’.

    Ya akhi, pernyataan tersebut hanya didasari pada hadits ahad, sedang pengamalan penduduk kota Madinah merupakan riwayat yang bersifat mutawatir !! ( dalam ilmu hadits dinamakan mutawatir amaliah ). Ada yang mengakuinya, ada yang tidak, biarkan saja masing-masing dengan caranya.

    Antum pasti mengetahui riwayat tentang tentang Muadz bin Jabal ra. yang lama dalam memimpin sholat dimana sehingga salah seorang membatalkan sholatnya dan kemudian melapor pada rasul saw, rasul saw kemudian berkata : sebagian dari kalian telah membuat sebagian lagi menjadi tidak senang… Abu Mas’ud Al Anshari berkata “Aku belum pernah melihat Nabi semarah itu” ( HR. Bukhari ). Jelas kemarahan nabi saw adalah karena timbulnya suatu “fitnah” yang menyebabkan perpecahan diantara umatnya !

    Jadi Kalau kita mau memahami hakikat sunnah rasul dalam hadits diatas maka kita harus menghindari ‘fitnah’ diantara umat Islam agar kita terhindar dari kemarahan nabi saw yang akan menyebabkan murkanya Allah swt ( naudzu billah min dzalik ).

    wassalam

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Dengan tegas kami nyatakan, Na’am. Karena berdasarkan dalil-dalil yang kami sampaikan dan berdasar fatwa-fatwa ulama dalam masalah ini, maka nyatalah bahwa hal ini adalah bid’ah.
    Kuwait, 16 Robi’ul Tsani 1428 – 3 Mei 2007

  5. ibnu umar berkata:

    Ass Wr Wb,

    Akhi, Abd Rahman, Saya akhiri persinggahan saya di situs ini dengan ucapan

    : Saya hanya sekedar memberi peringatan, insya Allah antum tidak termasuk dalam : Walaa yasma’us shumud du’aa a idzaa Maa yundzaruun.

    Akhir Salaam

    Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
    Begitu juga dengan kami, setelah kami kemukakan dalil-dalil yang kuat tentang kebid’ahan Qunut pada sholat Fajr maka hal itu kembali kepada diri anda pribadi, apakah mau menerimanya atau tidak.

  6. antosalafy berkata:

    Hah….ibnu umar? muqallid hadza. Sama persis ucapannya terakhir …Saya akhiri persinggahan saya di situs ini dengan ucapan…
    ketika komentar di blog ana. Semoga dia ini mendapat petunjuk sehingga menjadi muttabi’. Allahummahdini waiyyakum.

  7. abu muhammad heriyanto berkata:

    (Jadi mengenai qunut kita lebih harus mengacu pada Imam Malik bin Anas rahimahullah yang merupakan orang Madinah dibanding Abu Hanifah rahimahullah( orang Kufah ) ataupun Laits bin Sa’ad rahimahullah( orang Mesir ) ataupun Ahmad bin Hanbal rahimahullah( orang Baghdad .)
    =======
    Apakah ini menjadi acuan bagi kita sebagai seorang muslim dalam mengamalkan agama? Bukankah acuan kita adalah Al Qur’an dan As Sunnah (yang shohih) ? Rasulullah bersabda : ” Aku tinggalkan bg kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; yaitu Kitabullah dan Sunnahku”

    Dan juga Rasullah telah bersabda: ” Barang siapa berdusta atas namaku, maka hendaknya dia mempersiapkan tempatnya di neraka”

    Dan telah jelas bagi kita tentang perjuangan para imam2 kita, terutama imam2 ahli hadits dalam menyeleksi hadits2 yang ada..dan tentunya wajib bagi kita untuk mengamalkan hadits2 yang shohih dengan bimbingan para ulama terpercaya.

    ====
    Anda menggunakan dalil sebuah riwayat ( ahad ) yang mulai dicatat pada zaman Ahmad bin Hanbal rm ( 164-241H ) yang hidup di kota Baghdad ( dengan jarak lebih 1000 km dari Madinah ) untuk suatu kabar yang bersifat amaliah. Sedang kami menggunakan dalil berdasarkan suatu riwayat yang digunakan oleh Imam Malik bin Anas rm ( 93 -179 H ) dan diyakini sudah merupakan sunnah penduduk kota Madinah yang merupakan kota Nabi saw.
    ====
    Bukankah dalam tulisan ini ada indikasi bahwa telah ada “peremehan” terhadap Imam Ahmad bin Hanbal.Padahal Imam Ahmad terkenal sebagai salah seorang Imam dalam Ilmu Hadits.
    Tunjukkan kepada kami bahwa amalan penduduk Madinah adalah sesuai dengan Sunnah Rasulullah..
    ====
    Ya akhi, pernyataan tersebut hanya didasari pada hadits ahad, sedang pengamalan penduduk kota Madinah merupakan riwayat yang bersifat mutawatir !! ( dalam ilmu hadits dinamakan mutawatir amaliah ). Ada yang mengakuinya, ada yang tidak, biarkan saja masing-masing dengan caranya.
    ====
    Sekali lagi, tunjukkan kepada kami bukti ilmiah/riwayat yang menyatakan bahwa amalan penduduk madinah telah sesuai dengan Sunnah Rasulullah.

    Orang seperti Ibnu Umar ini termasuk orang aneh.Beramal tapi menggunakan persangkaan, bukan menggunakan dalil.
    Menggunakan persangkaan bahwa amalan penduduk madinah telah sesuai dengan amalan Rasulullah..(sekali lagi, tunjukkan bukti ilmiah-nya)

    Terdapat suatu riwayat: Suatu ketika Imam Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki ketika berwudhu. Maka beliau berkata bahwa itu tidak perlu. Maka dibawakanlah kepada beliau suatu hadits tentang hal tersebut. Maka beliau pun berkata: “itu adalah hadits hasan. AKU BELUM PERNAH MENDENGAR HADITS SEPERTI INI, KECUALI SAAT INI”
    Dan juga beliau berpendapat dalam Al Muwattho’: MAKRUH BERPUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL (bahkan kalau tidak salah beliau menyatakan bahwa amalan ini adalah bid’ah)

    Al Imam Malik juga menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid yang ingin menjadikan Kitab Al Muwattho’ sebagai pegangan resmi kerajaan, dikarenakan tidak semua haditsnya adalah shohih..

    Al Imam Malik mempunyai karya yang besar, Kitab Al Muwattho’..Imam Bukhari juga mempunyai karya yang besar, Shohih al Bukhari..dan tentunya, shohih al Bukhari lebih shohih daripada al Muwattho’..dan kitab Shohih Bukhari, terdapat didalamnya hadits2 tentang iman, amalan2, sifat2 rasulullah, jihad, dsb..
    dan juga imam Bukhari berasal dari negeri Bukhara yang sangat jauh dari negeri Madinah..
    akan tetapi……

  8. joko di Jogja berkata:

    subhaanallah walhamdulillah walaailaaha illallahu allahuakbar
    laahaula walaaquwwataillabillahil a`liyyil a`dhiim.

  9. orgawam berkata:

    qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

    Wahh..model begini gawat… apakah ini berarti Imam Syafi’i ahli neraka (dan juga semua pengikut madzabnya) . innalillahi wainnailaihi rojiun.

    Setahu kami.. Qunut subuh itu sunnah dalam madzab syafi’i. Mau dikerjakan baik, ditinggalkan pun tak pa.

    Silakan anda terangkan kepada kami -berdasarkan dalil-dalil yang shohih- tentang sunah-nya qunut yang hanya dilakukan pada waktu sholat subuh saja. Barokallah fiikum.

  10. orgawam berkata:

    lhoo.. bukannya sudah tertulis di atas,

    Pendapat pertama : Qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus, ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Sholih dan Imam Syafi’iy.

    Tenang..mas, kami hanya menanyakan bahwa dengan menyimpulkan seperti itu, apakah berarti sampeyan mengatakan imam syafi’i dan pengikut madzab-nya sebagai ahli neraka. Lihat kesimpulannya,

    qunut shubuh secara terus-menerus selain qunut nazilah adalah bid’ah tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

    Na’am, bahwa qunut shubuh (selain qunut nazilah) sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang di Indonesia adalah bid’ah, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak melakukan yang demikian. Dan hadits-hadits yang menerangkan perbuatan demikian berderajat dlo’if (lemah) sedangkan hadits lemah tidak dapat dijadikan dalil. Barokallah fiik.

  11. Abu Muhammad Heriyanto berkata:

    Kembali kepada tanggapan untuk komen dari Ibnu Umar, tertanggal 1 Mei 2007..(dengan sedikit perubahan)
    Berkata al Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah – Imam Nashirus Sunnah:
    (1) – “Apabila kalian dapatkan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku berpendapat dengan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan aku mencabut apa yang telah aku ucapkan” (Lihat dalam kitab Ashlu Shifat Sholat Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Minat Takbir Ilat Taslim Ka’anaka Tarohaa, jilid: 1, hal: 29. Syaikh Al-Albani
    (2) – “Apabila shohih suatu hadits, maka itu adalah mazhabku” (Dikeluarkan oleh: Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ 1/63; Asy-Sya’roniy 1/57)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s