Al-Wala’ Wal Bara’ Dalam Pandangan Islam (Bagian Pertama)

Posted: 8 - Desember - 2006 in Aqidah/Manhaj

AL-WALA’ WAL BARA’ DALAM PANDANGAN ISLAM (BAG: 1)

Oleh: Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan Hafizahullah Ta’ala.

Muqadimah
Segala puji bagi Allah Ta’ala, sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga, shahabatnya serta orang-orang yang menempuh jalan dengan petunjuknya.

Setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, wajib bagi setiap muslim untuk mencintai para wali-wali Allah dan membenci musuh-musuh-Nya.

Termasuk dari dasar-dasar aqidah Islam, bahwa setiap muslim yang beragama dengan aqidah ini wajib untuk:
a. Berwala’ (loyal) terhadap orang-orang yang beraqidah Islam dan memusuhi orang-orang yang menentang aqidah Islam.
b.Mencintai orang yang bertauhid dan orang-orang yang ikhlash serta berwala’ terhadap mereka.
c.Membenci orang-orang musyrik dan memusuhinya.
Hal yang demikian itu termasuk sebagian dari millah (agama) Nabi Ibrahim alaihi salam dan orang-orang yang mengikutinya, yang kita diperintahkan untuk mencontoh mereka, sebagiamana difirmankan Allah Ta’ala:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ: اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ (4) سورة الممتحنة

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka:’Sesungguhnya kami berlepas diri (bara’) dari kamu dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS. Mumtahanah:4).
Juga termasuk dari agama Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) سورة المائدة

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al-Ma’idah: 51).

Ayat ini berkenaan dengan haramnya berwala’ terhadap ahli kitab secara khusus. Demikian juga haram menjadikan orang kadir secara umum sebagai pemimpin, sebagaiaman difirmankan Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء (1) سورة الممتحنة

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu sebagai pemimpin” (Al-Mumtahanah: 1).
Bahkan haram hukumnya bagi orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin walau mereka adalah keluarganya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ آبَاءكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاء إَنِ اسْتَحَبُّواْ الْكُفْرَ عَلَى الإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (23) سورة التوبة

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpin maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah: 23).
Dan juga firman Allah Ta’ala:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka….” (QS. Al-Mujadalah: 22).

Tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui pokok agama yang agung ini, sampai suatu ketika saya pernah mendengar orang yang mengaku ahli ilmu dan dakwah mengatakan dalam radio berbahasa Arab bahwa orang-orang Nashrani itu sesungguhnya adalah saudara-saudara kita. Subhanallah, alangkah bahayanya pernyataan ini.
Sebagaimana Allah mengharamkan wala’ kepada kaum kafir, musuh-musuh aqidah Islam, Allah Ta’ala pun mewajibkan berwala’ kepada kepada kaum mukminin dan mencintai mereka. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang” (QS. Al-Ma’idah: 55-56).

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ (29) سورة الفتح

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir teteapi berkasih saying sesama mereka” (QS. Al-Fath: 29).
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10) سورة الحجرات

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan rahmat” (QS. Al-Hujurat: 10).

Oleh karena itu kaum mukminin adalah saudara seagama dan seaqidah, walaupun jauh nasabnya (keturunannya), negaranya, maupun jamannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ (10) سورة الحشر

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor) mereka berdo’a:’Ya Rabb kami, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan jangnlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami teradap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hasyr: 10).

Oleh karena itu kaum muslimin sejak mereka diciptakan sampai akhirnya nanti, walaupun tanah airnya berjauhan dan masanya tidak berdekatan, mereka adalah bersaudara dan saling mencintai. Orang-orang yang datang berikutnya meneladani orang-orang yang sebelum mereka dari kaum mukminin, mereka saling mendo’akan dan saling memintakan ampunan antar sesama mereka.
Al-Wala’ wal Bara’ itu memiliki fenomena yang nyata, yang menunjukkan keberadaannya.

Bersambung, Insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s